Kerudung Untuk Ibu [The End]

Posted on August 18, 2013

0



Kerudung untuk ibu (dok. klosetide)

Kerudung untuk ibu (dok. klosetide)

Rahmad terlihat tengah menerka-nerka.

“Heh! Kok bengong toh,” Soimah mengagetkannya.

“Aku lupa, Dek.” Rahmad seperti tergagap.

“Lupa kenapa, Mas?” kembali Soimah bertanya.

“Rumahku,” kemudian melanjutkan, “dulu desa ini masih sepi. Masih jarang rumah. Sekarang sudah rapat-rapat oleh bangunan. Tak ada lagi lapangan tempat aku bermain bola dulu.”

“Lho piye toh?” gerutu sang istri.

“Stop.. stop.. Pak!” Rahmad menepuk tangan tukang becak yang membawanya.

Seketika sang tukang becak menghentikan kayuhannya. Rahmad dan sang istri segera turun dari tunggangannya. Dia meraih tangan sang istri untuk digandengnya. Pelan-pelan dia susuri jalanan gang sempit. Genangan air mengisi cekungan-cekungan jalanan tanah coklat. Jalanan yang sewindu silam masih terlihat orisinal hingga kini. Tak ada perbaikan apalagi pengaspalan. Semua masih sama.

Seperti tak yakin, langkahnya sedikit surut. Dia hentikan langkah. Tak ingin tersasar terlalu jauh dari jalan menuju rumahnya. Dia menoleh ke belakang. Menghampiri rumah yang tadi dilaluinya.

“Ini rumahnya, Mas?” Soimah penasaran.

Rahmad tak menjawabnya. Dia bergeming. Dia ketuk pintu rumah itu.

“Assalamualaikum,” salamnya.

Tak lama sampai sang empunya rumah keluar membuka pintu. Itu adalah rumah Pak Yanto, tetangga dekatnya.

“Eh, Rahmad toh?” Pak Yanto menebak sambil masih mengucek matanya. Seperti tak yakin ia pun memandanginya dari ujung kaki hingga ujung rambut.

“Iya, Pak,” kemudian melanjutkan, “aku Rahmad anaknya Bu Paijo. Masih ingat toh?”

“Iya. Pangling Bapak, Dek. Mari masuk.” Pak Yanto menyilakan.

“Ah, maturnuwun, Pak’ne. Rahmad cuma mau tanya. Kok rumah Rahmad sudah tidak ada ya? Padahal seingat Rahmad dulu di sebelah rumah Bapak toh.”

Pak Yanto tertunduk. Lesu. Tak bersemangat. Raut mukanya kecut.

“Ibu sehat, Pak?” Rahmad sedikit girang.

Pak Yanto bergeming. Tetap dalam posisinya semula. Air mukanya kembali keruh.

“Ibu sehat, Pak?” Rahmad mengulanginya lagi.

Sama. Ia tetap membisu. Beku seperti patung. Nafasnya seperti tersengal saat sadar jika Rahmad mengulangi pertanyaan yang serupa itu.

“Anu.. Eh, Anu, Dek. Ibumu sudah meninggal tiga tahun lalu, Dek!” jawabnya sambil tertunduk lesu.

Rahmad tertunduk. Menjatuhkan lututnya di hamparan ubin teras yang keras. Pandangannya kosong. Mukanya pucat pasi. Semangat hidupnya tercabut seketika. Bak disambar petir siang bolong. Hanya air mata yang keluar dari kedua matanya yang berbicara.

Sesal. Diam. Beku. Biru. Bisu.

“Ini kerudung untukmu, Ibu.”

***

Posted in: Short Story