Kerudung Untuk Ibu [Part. 5]

Posted on August 2, 2013

0



Kerudung untuk ibu (dok. klosetide)

Kerudung untuk ibu (dok. klosetide)

Pasar tradisional telah penuh sesak oleh penghuni ibukota. Mall-mall dan pusat perbelanjaan pakaian ramai disesaki pembeli. Baju, celana, pernak-pernik, parcel, sarung, sajadah, dan jajanan kue kering jadi incaran utamanya. Para ayah sibuk memilih baju buat mendandani sang istri. Para istri bingung menoleh kesana kemari memilihkan pakaian baru untuk buah hatinya. Uang menjadi tak berarti. Berjuta keluar dari kocek hanya dalam hitungan detik. Menandakan kian konsumtifnya orang ibukota.

Sebulan penuh berpuasa menahan nafsu jadi sia-sia. Idul Fitri hanya dimaknai jadi selebrasi. Bukan momen kembali suci. Orang-orang berbondong-bondong ramaikan pusat perbelanjaan demi puaskan konsumsi. Bukan mengunjungi rumah ibadah untuk instrospeksi. Tigapuluh hari bersuci hanya dipuaskan dalam satu hari. Oh Tuhan, apa yang ada dibenak orang-orang negeri ini.

Buat Rahmad sendiri lebaran tak beda dengan hari lain. Sama-sama miskin. Bedanya lebaran kini dia berniat pulang ke kampung halaman. Mengunjungi sang ibu dan membawakannya kerudung dan sehelai kain. Dia niatkan itu jauh-jauh hari. Dan kini tiga hari menjelang hari raya. Dia harus bersiap. Membobok celengan tanahnya. Menengok hasil sisa usahanya selama ini.

Alhamdulillah. Ini lebih dari cukup. Rahmad mengambil libur di tiga hari menjelang hari fitri. Untuk mengajak istrinya berbelanja sebagai bekal ke kampung. Inilah momentum pembuktian baginya. Bagi ibunya. Sekaligus demi tak mau dibilang gagal hidup diperantauan. Soimah, sang istri, dibiarkannya memilihkan kerudung yang sesuai untuk sang mertua. Sedangkan dia hanya menimbang-nimbang. Takut-takut jika receh yang dibawanya itu tak cukup.

Setelah dapat kado untuk sang mertua, Soimah menggandeng lengan Rahmad beringas menyisir toko sebelah. Mencari penganan dan cemilan murah untuk dibawanya pulang. Setidaknya ia ingin juga buktikan bahwa ia adalah menantu yang baik. Menantu yang penyayang mertua. Pun ingin dikata berada oleh tetangga kampung dengan menjinjing sesuatu. Hidup boleh susah di perantauan. Tapi, jika sudah kembali ke asal kesusahan wajib sedikit ditutup rapat-rapat. Biar dibilang orang sukses ibukota.

Sesi menghabiskan isi celengan pun usai. Kini saatnya Rahmad dan sang istri pulang ke gubuknya. Mengepak barang bawaan untuk mudik. Mereka berdua hanya butuh hitungan menit untuk selesai kemas-kemas. Tak banyak barang yang dibawa. Sebab hanya dua setel baju kumal masing-masing, sarung dan mukena, dan sejumput jajanan yang dibelinya dari pasar saja yang mengisi tas gendongnya. Tas yang hanya berisi dua setel baju yang dulu Rahmad bawa serta dari desa ke ibukota sewindu silam.

Berkemas usai sudah. Dia dan istrinya lantas beranjak menyambangi terminal bus. Menumpang bus kelas ekonomi menuju ke kampung halaman. Di dalam bus itulah lamunan terakhir akan ibunya kembali menyeruak. Dia menapak tilas perjalanannya bertahun silam. Mulai dari permintaan restu, bagaimana pandangan sang ibu, sampai pada janjinya yang akan membawakannya kerudung untuk sang ibu. Lamunan yang hanya tinggal lamunan. Sebab sang ibu tak lagi bisa memakai kerudung kado spesialnya.

 

bersambung..

 

Posted in: Short Story