Kerudung Untuk Ibu [Part. 4]

Posted on August 1, 2013

0



Kerudung untuk ibu (dok. klosetide)

Kerudung untuk ibu (dok. klosetide)

Mentari perlahan keluar dari peraduannya. Tanda buana membuka hari. Cericit burung gereja ramaikan pagi ibukota. Meski tak seramai di desa. Namun, melihat kepak sayapnya sudah membuat pagi jadi semarak. Kepul asap putih keluar dari sela-sela genteng rumah-rumah. Membumbung sebagai pertanda hidupnya dapur. Seperti tak mau kalah oleh kepulan asap pekat buangan pipa panjang roda dua.

Aliran sungai deras bawa serta sesampah hasil karya ibukota. Warna air kecoklatan bercampur lumpur hasil hujan semalaman begitu dominan. Itu sudah cukup menjadi pertanda awal hari bagi warga, seperti Rahmad, yang tinggal di bantaran kali. Jauh berbeda dengan sungai-sungai di kampungnya. Disana badar masih jelas terlihat. Sedangkan, disini semua nampak coklat. Jangankan badar, paus pun jika ada sudah pasti tak nampak. Yang jelas nampak adalah sisa konsumsi rumah tangga yang mengapung.

Pukul lima pagi Rahmad dan istrinya telah siaga. Dia harus menarik gerobak penghidupannya. Berkeliling ke setiap pojok ibukota mencari wadah bekas yang bisa ditukar dengan rupiah. Sedangkan, sang istri harus mengetuk pintu rumah-rumah tetangga. Mengambil pakaian kotor untuk dicucinya. Keduanya hanya punya ijasah kehidupan. Itulah keahliannya. Apapun dilakukannya demi sesuap nasi dan hidup esok hari.

Soal hidup yang seperti ini resah terkadang hinggap dibenak Rahmad. Dulu dia memutuskan untuk merantau ke ibukota demi penghidupan yang layak. Demi sebuah hidup yang lebih baik ketimbang di desa. Tapi, kini dia sadar. Sangat sadar jika kehidupan di desa adalah jauh lebih beradab daripada di belantara kota. Benar apa yang dikata sang ibu. Kali ini dia lagi-lagi ingat sosok sang ibu, dan juga janjinya kepadanya.

Apalah daya. Nasi sudah lunak jadi bubur. Dia kini menjalani sehari-harinya di negeri orang. Bagaimanapun juga harus bisa bertahan hidup. Inilah sedikit bukti bahwa bertahan hidup di belantara hutan jauh lebih gampang ketimbang di kota besar yang bengis seperti ibukota. Di hutan tak perlu uang. Adapun pasti tak laku. Sebab tak ada pasar disana. Sedangkan di kota semua dibanderol. Semua wajib dibarter dengan nominal. Apalagi jika harus sakit. Sepertinya lebih baik meminta mati daripada harus pergi menyambangi ahli kesehatan yang bertarif selangit.

Keluh tak ada arti. Hidup ini harus dijalani. Begitu Rahmad berikrar. Alhamdulillah. Di bulan puasa seperti ini kebutuhan makan sedikit berkurang. Itu artinya masih ada sedikit asa untuk menabung sisa hasil keringatnya. Dan, yang terpenting bahwa dia harus memenuhi janjinya sewindu silam kepada sang ibu. Membelikannya kerudung. Dia pun selipkan niatkan untuk mudik lebaran ini.

 

bersambung..

 

Posted in: Short Story