Kerudung Untuk Ibu [Part. 3]

Posted on July 26, 2013

0



Kerudung untuk ibu (dok. klosetide)

Kerudung untuk ibu (dok. klosetide)

“Rahmad boleh merantau ya, Bu?” pintanya silam.

“Kemana, Nak?” Sang ibu kemudian melanjutkan, “ayahmu sudah tak ada dan ibu kini sendiri sakit-sakitan begini.”

“Rahmad mau cari kerja, Bu.” Dia beralasan.

“Cari kerja di desa juga bisa toh? Kenapa harus jauh-jauh ke kota?” rengek sang ibu.

“Di desa Rahmad cuma jadi kuli, Bu,” Rahmad lalu melanjutkan, “di kota semoga ada nasib yang lebih baik, Bu.”

Sang ibu hanya terdiam bisu. Pilu. Setelah suaminya, kini anaknya hendak pergi. Merantau ke negeri orang dan tak pasti kapan pulang.

“Nanti Rahmad belikan Ibu kerudung ya!” rayunya.

Rahmad mengakhiri permintaannya. Digapainya tangan sang ibu. Disalaminya dan diciuminya punggung tangannya itu. Dia lantas tergopoh bersujud. Dihadapan kaki sang ibu dia terakhir meminta restu. Tak lupa dia pun cium kedua kakinya.

“Rahmad berangkat ya, Bu.”

Sang ibu bergeming. Pandangannya kosong menerobos cakrawala sore. Tak sepatah kata pun keluar dari mulut sang ibu kala itu. Tentang keinginannya mengadu nasib tak jadi soal buat sang ibu. Ini lebih pada bagaimana kini ia harus hidup sendiri. Sebatang kara dikala senjanya. Tak ada lagi sosok lelaki di gubuknya kini dan nanti. Suaminya pergi sudah pasti tak kembali. Anak semata wayangnya pun bersiap lenyap dari belaiannya.

Siapa lagi yang akan mengambilkan air untuknya mandi dan berwudu. Siapa lagi yang bakal mengambil rumput untuk makan dua ekor kambingnya kini. Lalu, siapa lagi yang sudi membenarkan genteng yang retak. Siapa yang mau menambal atap yang bocor atau meneguhkan geribik gubuk yang doyong ini kini.

Sang ibu hanya pasrah dalam hening. Bagaimanapun Rahmad adalah anak kandungnya. Anak satu-satunya yang duapuluh lima tahun ia buai dengan lembut penuh kasih sayang. Anak lelaki yang diharap akan meneruskan figur sang ayah kini beranjak dewasa dan mencari hidupnya sendiri.

 

bersambung..

Posted in: Short Story