Kerudung Untuk Ibu [Part. 2]

Posted on July 24, 2013

0



erudung untuk ibu (dok. klosetide)

Kerudung untuk ibu (dok. klosetide)

Didalam hening dini hari dia bersimpuh. Memohon agar keluarga kecil sederhananya tetap dalam lindungan Sang Pemberi Hidup. Semoga keprihatinan hidupnya tak lantas menjauhkannya dari Sang Khalik. Justru senantiasa membuatnya bersyukur atas limpahan karunia-Nya. Satu hal yang tak luput, dia juga memohon agar cepat dihadirkan buah hati.

Perkawinannya sudah sewindu. Tapi, Tuhan tak jua memberikannya momongan. Dalam keadaan yang begini, sepapa apapun biduk sebuah rumah tangga akan ramai jika ada celotehan anak kecil didalamnya. Dia merasa sangat papa bukan sebab tak ada. Ingin sekali rasanya gubuknya itu ramai oleh tangis dan tawa makhuk mungil hasil cintanya.

Sebentar dia menoleh oleh decitan amben reot tidurnya. Maklum, jarak dia bersimpuh dengan kamar tidurnya itu hanya sejengkal. Dilihatnya sang istri membuka kelambu yang dijadikan pintu penutup kamar tidur. Ia menuju ke dapur. Beranjak mempersiapkan santap sahur. Meski tak ada yang dimasak. Namun, sudah jadi rutinitasnya bangun di pagi buta.

Dilihatnya lekat-lekat sang istri yang tengah menyalakan tungku. Dia tatap erat wajah Soimah. Hanya panci nasi sisa semalam ia angkat keatas tungku. Berniat dipanasi agar layak untuk santap sahur. Tangan kecilnya jelas menampakkan pembuluh darah yang menonjol seperti hendak merobek ari saat ia mengangkatnya. Iba menyelimuti relung hati Rahmad sebagai seorang imam rumah tangga.

Ditengah kalut itu Rahmad ingat figur sang ibu. Sosok sang istri mengembalikan ingatannya akan figur seorang wanita renta yang dia tinggal merantau. Sang ibu hanya sebatang kara di kampung. Sebetulnya masih ada beberapa saudara disana. Tapi, dalam kepapaan siapa yang sudi mengaku menjadi saudara? Apalagi persaudaraan itu dari darah ayahnya. Sedangkan ia sudah puluhan tahun silam mangkat.

Hampir satu dekade dia menyusul nasibnya di ibu kota. Tak pernah sekalipun pulang berkunjung ke kampung halaman. “Bukan sebab tak rindu, Ibu” bisiknya. Tapi, sebab keadaanlah yang tak beri restu. Ongkos pulang dari ibukota ke kampung halaman jadi pertimbangannya. Tak sedikit rupiah harus dirogoh. Terus terang dia tak sanggup.

Wajah sang ibu terselip dalam sujudnya pagi itu.

“Bagaimana nasibmu kini, Bu?” lirih palung hatinya berucap.

 

bersambung..

Posted in: Short Story