Kerudung Untuk Ibu

Posted on July 19, 2013

1



erudung untuk ibu (dok. klosetide)

kerudung untuk ibu (dok. klosetide)

Suara itu kian kencang. Menghantamnya. Hampir-hampir memekakkan gendang telinga. Semakin menderu bak suara satu skuadron pesawat jet yang tengah berparade. Menderu makin nyata. Perlahan tapi pasti suara itu mulai mendekat. Gendang telinganya seakan dirobek kencangnya deru itu. Sontak dia berteriak dan bangkit dari lelapnya. Terjaga.

Kala itu ketika malam masih sepertiga. Rembulan sabit menggantung pada daun jendela kamar yang tak sepenuhnya tertutup rapat. Membiarkan semilir bayu bebas lalu lalang usik tirai. Memaksanya berkibar seakan melambai bercanda dengan rembulan yang tersipu. Gemintang berkilau turut warnai pekat malam bisu.

Dia masih terduduk di atas ambennya yang reot. Desik berdecit setiap kali ada gerakan. Tempat tidurnya yang sederhana itu hanya berbalut jarit usang. Hanya ada dua bantal kumal tak bersarung. Sekadarnya sebagai sandaran kepala. Cukup untuk dia dan pasangan tidurnya, sang istri.

Disampingnya tergolek tubuh langsing istrinya. Dilihatnya ia yang tertidur pulas itu. Dipandanginya lekat-lekat wajah tirusnya. Seorang yang meskipun masih belia, tapi rongga matanya cekung itu telah menemaninya genap sewindu. Ia tercenung. Entah apa yang terjadi malam itu. Dia pun tak sepenuhnya tahu. Mimpi? Bukan. Ini bukan hanya sekadar kembang tidur. Tapi, ini lebih dari sebuah pertanda. Entah apa.

Dia mulai beringsut dari tempat tidurnya. Seperti tak ingin membangunkan istrinya dia pelan meringsek menuju ke dapur. Sepertinya dahaga melanda kerongkongan. Keringat dingin yang seakan membuncah dari tubuh kerempengnya belum juga kering. Kaos oblongnya yang tipis bak saringan tahu seakan lekat menempel pada kulit tipisnya. Dia masih bersarung. Bukan kebiasaannya tidur memakai sarung. Namun, sebab terlampau capek hingga dia tak sempat melepas sarung dan langsung pulas tertidur.

Tergeletak sebuah gelas dan kendi di lincak dapur. Dengan tangan kirinya diambilnya gelas yang tergeletak di atas lincak. Tangan kanannya kencang mencekik leher kendi. Bening air pelan-pelan mengucur lewat mulut sempit kendi. Beringsut duduk disela kendi dan gelas. Berimpit akrab dengan keduanya. Dia duduk dikala gelas belum sepenuhnya terisi oleh air.

Perlahan telapak tangan kirinya yang memegang gelas terasa dingin oleh air yang dituangnya dari kendi. Seperti tak sanggup menahan luberannya. Gelas pun menolak. Memuntahkan air yang tak lagi dapat ditampung olehnya. Dia tersadar. Lantas sigap menghentikan tuangan air dari tangan kanannya.

“Astaghfirullah,” seketika dia tergugah dari lamunannya.

Dipegangnya gelas itu erat-erat. Lagi, seperti mencengkeram. Jika sanggup, gelas itu pasti bakal berteriak. Protes sebab tercekik oleh tangan berotot Rahmad. Namun, apalah daya. Gelas itu tetap diam tak berdaya. Tercekik. Tak mampu melawan sang empunya. Beku pasrah oleh keadaan.

Renungannya tercegat oleh dahaga yang meronta. Dia menenggak air yang dituangnya tadi. Hanya dua tegukan saja. Dan, gelas itu kembali hampa seperti sediakala. Dia pun kembali menuangkan air dari dalam kendi. Kali ini dia tahu benar kapasitas si gelas. Menghentikan tuangan tepat pada waktunya. Tapi, kurang beruntung nasib gelas kedua. Dia tak lagi menyentuhnya. Nafsu dahaga telah lenyap.

Kini sorot mata Rahmad tertuju pada jam dinding kusam berangka Romawi yang bersandar pada geribik gubuknya. Ia kencang berdetak di pagi buta. Lekas dia beranjak dari tempat duduknya ketika tahu bahwa jam telah menunjuk angka II. Sebentar lagi sahur. Dan, sebelum itu rutinitas religi harus dia tunaikan. Sepertiga malam adalah saat-saat dimana malaikat turun ke bumi mendengarkan munajat. Rahmad tak menyiakan itu.

Dia menuju ke sumur di belakang gubuk reotnya. Tak pernah lupa dia menjalankan sholat malam. Ketika malam tinggal sepertiga dia selalu terbangun dari tidurnya untuk tunaikan Tahajjud. Di waktu yang ketika seiisi kampung masih berselimut Rahmad telah terjaga.

“Krett..krett..kret..” suara katrol berdecit meramaikan pagi buta.

Ia terus menimba. Mengisi penuh kaleng cat bekas yang digunakannya untuk berwudu. Ia melepaskan tali katrol saat tahu kaleng telah penuh terisi.

“Bismillah…” Ia berniat dan mulai membasuh telapak tangannya. Menyucikan jiwa dengan basuhan kalimat Illahi.

Tuhan telah membangunkannya lebih awal dari waktu bersahur.

bersambung..

Posted in: Short Story