Mr. Simple

Posted on July 4, 2013

0



Leadership Domain (dok. lawlex.org)

Leadership Domain (dok. lawlex.org)

 

Steve Jobs yang mengutip Leonardo Da Vinci bilang, “Simplicity is the ultimate sophistication”

Suatu ketika ia diwawancarai oleh awak media disela-sela kesibukannya mengurus ibukota. Perihal undangan dari salah satu lembaga negara yang katanya concern soal hak asasi manusia di negeri ini kepadanya. Sang wartawan lalu bertanya demikian,

“Bagaimana perasaan Bapak dipanggil sama Komnas HAM?”

“Rasanya deg-degan,” Begitu jawaban singkatnya sambil diiringi ekspresi ketakutan. Sontak lakunya itu langsung menuai tawa dari sang wartawan.

“Hehe..”

“Ya biasa saja toh. Wong cuma dipanggil kok,” kemudian melanjutkan, “kalo dipanggil ya datang. Kalo ditanya ya dijawab. Simpel saja.”

Tindakannya dalam mencoba merapihkan Waduk Pluit itu menuai kontroversi. Terutama bagi warga sekitarnya, yang tak ingin direlokasi ke tempat yang sejatinya lebih beradab. Mereka mengaku gusar tahu tempat hidupnya bakal digusur. Padahal Sang Gubernur punya niatan baik dalam memperbaiki kehidupan warga sekitar waduk tersebut dengan merelokasinya. Dan, apa boleh buat, tindakannya itu pun terbawa angin dan sampai di telinga lembaga kemanusiaan tersebut. Memang benar, tidak bisa disebut ide bagus jika tak mengalami penolakan. The good idea will be denial from the beginning.

Belakangan persoalan yang pelik itu lantas menemukan titik terang. Benang kusut relokasi warga, yang nampaknya sudah menjadi isu lazim di negeri ini, pelan namun pasti terurai. Adalah keberanian dan ketepatan mengambil keputusan dari sang empunya kebijakanlah solusinya. Sang Pemimpin Ibukota dengan cerdas mengambil langkah, seperti jargon Pegadaian, mengatasi masalah tanpa masalah. Ada sedikit friksi memang. Tapi, itu tak terlampau berarti. Sebab semua stakeholders ikut dilibatkan dan didudukkan bareng dalam mengatasi masalah tersebut, sehingga masing-masing pihak legowo dan tak ada yang merasa diselingkuhi.

Belum lama ia memimpin ibukota. Baru hitungan bulan saja. Namun, sepak terjangnya sudah nampak dan terasa oleh publik. Hebatnya, tokoh yang satu ini bukan hanya jadi figur ibukota, atau bahkan nasional, tapi juga dunia. Tentu saja ini bukan muluk-muluk. Publik tentu masih ingat saat ia dianugerahi oleh The World Mayor Project sebagai walikota terbaik ketiga—saat memimpin Solo dulu. Dan, kini bukan tidak mungkin ia juga bakal menyabet gelar gubernur terbaik atau yang terbaik-terbaik lainnya. Toh ia kini juga tengah hangat digadang-gadang jadi calon orang nomor wahid di negeri ini.

Saya bukan simpatisan. Atau bukan pula fans-nya. Tapi, terus terang saya kagum dengan figur macam ia. Seperti halnya orang nomor satu di Kementerian BUMN, ia juga seorang yang suka ‘merusak’ aturan-aturan—yang memang sudah rusak di negeri ini. Lihat saja cara berpakaiannya yang sederhana. Beda dengan pemimpin daerah lainnya yang seringkali berdasi, ia malah nyaman dengan berkemeja putih polos. Terkesan simpel dan sederhana. Ia mampu menyingkirkan kesan bahwa rapih itu harus berdasi dan berjas. Atau aturan rigid protokoler soal pengawalan dengan voorijder kemana-kemana—apalagi bagi birokrat kita. Ia adalah seorang pejabat yang tak sok pejabat.

Seorang pemimpin memang harus seperti itu. Tak perlu menutup jalan kalau mau lewat. Tak usah dikawal dengan motor besar bersirine. Biar merasakan macet, seperti yang rakyatnya alami. Bagaimana seorang pemimpin mau mengurai atau tahu rasanya disergap kemacetan jika ia sendiri tak pernah mengalami. Sudah suatu rumus pasti jika kita jadi tahu dengan mencoba. Disebut pengalaman sebab itu dirasakan. Orang yang bisa bicara banyak soal kemacetan karena ia telah mengalami kesalnya terperangkap oleh kemacetan. Dan, bukan atas dasar ‘katanya’. Barangkali inilah alasannya ketika ia sempat menolak dikawal oleh polisi bermotor besar. Agar ia mampu merasakan derita rakyat saat terjebak dalam persoalan yang sungguh rumit—kemacetan adalah satu persoalan yang sangat rumit di negeri ini sebab tak jelas siapa korban dan siapa pelakunya.

Cukuplah hal inspiratif ini diuraikan. Tirulah! Sebab pasti tak cukup satu lembar atau bahkan satu buku jika dalam tulisan yang singkat ini saya harus menyebutkan satu per satu sepak terjangnya di ibukota. Terpenting, adalah soal caranya dalam menyederhanakan suatu persoalan yang rumit. Bahwa ia mampu mengurai benang yang terlanjur kusut dengan cara yang sederhana. Tak ada kata yang pantas disandangkan kepada Mister Simple yang satu ini selain sophisticated. Seorang yang mendapat predikat ini adalah seorang yang punya makam diatas cerdas. Seorang yang mampu menyederhanakan persoalan yang rumit menjadi sederhana. Dan, inilah secerdas-cerdasnya manusia.

Sosoknya itu mengingatkan saya akan putera bangsa yang khas berucap, “Gitu aja kok repot!”. Kalimat tersebut lantas menjadi ikon sang mantan orang nomor satu itu. Bukan maksudnya menyepelekan, tapi tindakannya dan pemikirannya yang out of the box itu terkadang memang sulit diterima oleh para awam seperti kita ini. Tak ayal jika Romo Mangun Wijaya pernah berujar, “Saat memimpin Indonesia, ia ibarat lokomotif superjet bergerbong kereta Gaya Baru,”. Kita memang belum siap menerima seorang pemimpin yang mumpuni (the sophisticated leader).

 

Posted in: Article, Bureaucrazy