De Nekat Creativepreneur [Part. 19]

Posted on June 25, 2013

0



de-nekat-creativepreneur (dok fileforsharing)

de-nekat-creativepreneur (dok fileforsharing)

Unplanning

Pada saatnya nanti semua kesempatan yang terbuang bakal datang lagi, saya meyakini. Mumpung masih muda silakan berekspresi. Salah dulu dan sakit dulu. Sukses datang belakangan. Sukses itu guru yang buruk. Dan, guru terbaik adalah mencoba (pengalaman). Kesempatan mencoba tersebut yang nantinya mengakumulasi menjadi pengalaman, atau yang sering orang sebut dengan jam terbang. Boleh salah, yang tidak boleh itu adalah tidak belajar dari kesalahan. Dalam entrepreneurship kesalahan justru harus dicoba. Biar salah dan biar kita diajar oleh kesalahan itu. Biar ada resistensi mental. Ingat saja filosofi keris.

Pokoknya apa yang ada dihadapan kita patut dicoba. Tentu saja kita bicara dalam kerangka positif. Dan, dalam ranah ini kita atas nama kedewasaan kita tentu sudah mampu memilah dan memilih. Mana baik, mana buruk. Mana salah, mana dosa. Memilih jalan untuk berbeda dengan yang kebanyakan orang lain pilih adalah satu pilihan yang sulit. Disaat orang sudah nyaman bergaji tetap menjadi pegawai atau karyawan kita malah asyik dengan ketidakpastian. Disaat anak gadis sekarang lebih memilih kemapanan ketimbang ketampanan, kita malah bergulat dengan ketidakmapanan itu sendiri—apalagi ketampanan, jauh panggang dari api. Hehe.

Lalu, apa rencanamu dalam hidup? Hmm. Saya pribadi tidak pernah punya rencana. Apalagi harus capek-capek merencanakan. Enggak deh. Orang lain boleh punya rencana, dan saya hormati itu. Mereka yang punya rencana juga tidak boleh menyalahkan orang yang tidak punya rencana, kayak saya ini. Silakan saja bilang gak jelas atau apapun soal hidup yang unplanning ini. Tapi, tolong jangan menghakimi. Usah menjustifikasi bahwa yang gak punya rencana itu hidupnya gak jelas sama sekali. Madesu alias masa depannya suram. Sehingga menjadi pihak yang melulu dipersalahkan gara-gara sebuah prinsip yang dianut. Kita juga punya hak—setidaknya untuk hidup tidak terencana.

Saya punya argumentasi demikian, ngapain harus punya rencana jika Tuhan sudah berencana. Let it flow. Tuhan lah yang punya rencana dalam kehidupan ini. Kalau saya punya rencana terhadap hidup saya, maka saya merencanakan rencana Sang Pencipta. Rencana dalam rencana namanya. Jadinya tumpang tindih. Kalau rencana kita tidak sejalan dengan perencanaan, maka timbul sesal. Under expectation. Mengharap A yang datang malah B. Siapa yang tahu diri kita? Selain diri kita sendiri, tentu saja Tuhan. Ia lah yang tahu segalanya, yang baik dan buruk bagi kita. Terkadang tanpa kita sadari, bisa jadi kita menjalani apa yang tidak disukai, tapi itu baik. Dan, kita tidak mendapat apa yang diingini padahal itu buruk—menurut Tuhan. Benar, khan?

Sekali lagi, saya tidak pernah punya rencana. Biarlah Tuhan yang Maha Prerogatif yang punya rencana untuk saya. Saya hanya punya mimpi. Saya sang pemimpi. Saya yakin, jika mimpi itulah satu-satunya sarana manusia mencapai rencana Tuhan. Tentang apa-apa yang sudah digariskan, rencana Tuhan, harus dijemput dengan mimpi-mimpi. Impian itu nyata. Justru kehidupan ini yang fana. Tuhan yang punya rencana. Tujuan manusia hidup itu sama, yakni mati. Dan, mimpi itulah yang membedakan kualitas diri kita dengan yang lain. Toh, Tuhan tidak melarang hamba-Nya untuk punya mimpi apa saja. Mau tinggi mau pendek, mau besar atau kecil, silakan bermimpi. Apa jadinya manusia tanpa mimpi? Itu seperti manusia tanpa ruh.