De Nekat Creativepreneur [Part. 18]

Posted on June 24, 2013

0



de-nekat-creativepreneur (dok fileforsharing)

de-nekat-creativepreneur (dok fileforsharing)

Take A Risk

Tawaran kerja tetap bukan cuma sekali itu datang kepada saya. Beberapa kali—semampu yang saya ingat. Dan, kesemuanya itu tak pernah terima. Sampai pada tawaran beasiswa pun sama demikian. Datang silih berganti, dan dengan mudahnya, lagi-lagi saya tidak meng-iyakan. Terakhir, studi S2 ke Jerman. Alasan penolakannya bukan soal sombong atau apapun. Tapi, saya belum sepenuh hati untuk mengambil dan lalu menjalaninya. Dengan kesibukan dan aktivitas entrepreneurship yang saya jalani kini tidak memungkinkan untuk diduakan. Sibuk banget sih enggak. Cuma karena saya baru memulai dunia ini dan masih pula belajar, jadi gak bisa ditinggal-tinggal—apalagi diselingkuhi.

Dunia yang saya jalani kini butuh fokus. Apa jadinya kalau saya yang masih bayi dalam dunia entrepreneurship ini harus mencla-mencle dan menclok sana menclok sini. Tidak fokus lantas hancur semua pondasi yang sudah saya bangun itu. Sayang, khan. Toh, lebih dari itu, ini arti sebuah komitmen. Ada harga yang harus dibayar dari sebuah jalan yang dipilih. Tanpa pengorbanan, sulit kemenangan diraih. Kita tentu gak akan merasakan manisnya kemenangan tanpa mengeluarkan keringat. Buat saya semua itu terlalu mudah. Dan, hidup tidak semudah itu.

Bertubi tawaran empuk yang datang justru membuat saya berpikir terbalik. Dalam kemudahan ada kesulitan. Dan, sebaliknya. Dalam kesulitan ada kemudahan yang turut serta. Tawaran tersebut datang dengan begitu mudahnya. Saya yakin jika dibelakangnya ada kesulitan yang menanti. Ini bukan soal ketidakberanian mengambil kesulitan. Justru, ketika saya harus terjun ke dunia bisnis dengan modal dengkul dan kemampuan yang pas-pasan, pun karena background studi saya bukan bisnis, disitulah tantangannya. Saya yakin jika dibalik kesulitan dunia yang saya jalani kini diseberang telah menanti beribu kemudahan. Inilah prinsip keyakinan yang, syukurnya, masih saya pegang sampai sekarang.

Take a risk. Saya mengambil dan bahkan mengawini resiko. Untuk hidup sulit dulu, untuk gagal dulu, untuk salah dulu, dan untuk miskin dulu, sekaranglah saatnya. Rentetan kesulitan itu saya maknai sebagai batu uji yang menempa mental. Bukan keris hebat namanya jika tidak ditempa ribuan kali. Keris Majapahit kesohor sakti mandraguna sebab ditempa ribuan kali. Atau keris Mpu Gandring yang sanggung membunuh tujuh turunan Ken Arok konon juga ditempa lebih dari 5 ribu kali. Manusia pun sama. Ujian yang datang atas nama rasa sakit dan kesulitan hidup jauh lebih ringan daripada ujian manisnya hidup dan limpahan materi. Kita ingat Tuhan jika diterpa kesulitan. Tapi, apakah masih ingat, ketika manusia dalam keadaan berlimpah? Belum tentu.

Hidup itu tidak semudah yang orang lain katakan. Atau yang lebih ekstrem dan menjadi joke sehari-hari, ‘hidup itu gak semudah yang Mario Teguh katakan’. Ada benarnya juga. Toh, hidup juga tidak setragis dan semenderita apa yang Bawang Putih alami. Bukan maksud mempersulit hidup—sebab Tuhan tidak suka hamba-Nya mempersulit. Tapi, saya tengah bicara soal tantangan yang kemudian membentuk mental. Saya yakin 100%, jika kualitas seorang bakal terbentuk dari ujian mental yang diterimanya. Semakin ia ditempa dengan masalah dan kesulitan, maka mental dan kualitas dirinya pun bakal teruji. Meski tidak melulu seperti itu, tapi setidaknya demikian yang saya yakini. Makanya mengambil resiko itu bagus. Terutama bagi seorang entrepreneur resiko wajib dikawini dan menjadi istri setianya. Take a risk is my passion.