De Nekat Creativepreneur [Part. 17]

Posted on June 20, 2013

0



de-nekat-creativepreneur (dok fileforsharing)

de-nekat-creativepreneur (dok fileforsharing)

Kesempatan Lagi!

Beberapa tahun lalu seorang dari perusahaan multi nasional yang bergerak dibidang sales and marketing menelepon saya. Entah dapat informasi personal saya, terlebih nomor kontak, dari mana tiba-tiba saja pagi itu saya dapat ‘panggilan’. Tepatnya panggilan untuk wawancara kerja. Sang penelepon memberitahukan saya tentang tempat, waktu, dan materi interview-nya. Dan, sampai pada hari yang dijanjikan pun tiba. Tapi, beruntung waktu itu saya ada kerjaan lain, sehingga interview pun urung.

Saya tidak meng-iyakan atau menolak panggilan interview itu. Saya hanya menjawab dengan ‘oh, gitu ya’. Jadi saya pun merasa tidak ada kewajiban sama sekali untuk hadir. Apalagi sampai harus terbebani dengan janji untuk bisa datang. Minggu pun berselang, dan telepon kembali berdering untuk kali kedua. Ternyata masih orang yang sama, dengan tawaran yang sama pula. Bedanya, kali ini ada pertanyaan, “Kenapa gak dateng kemarin, Mas?”. “Anu..Mbak, kemarin kebetulan ada keperluan yang gak bisa ditinggal. Maaf!”. Begitu saya menjawab.

Seperti pada hari yang dijanjikan itu pun saya silap. Bukan lupa atau ada kerja lain. Tapi, sejujurnya saya masih bingung soal undangan tadi. Masih pikir-pikir apakah saya harus kerja tetap yang sepekan menguras 40 jam waktu saya itu. Akhirnya, kejadiannya sama dengan yang kali pertama. Saya tak datang pada hari yang dijadwalkan tersebut. Kesempatan kedua lenyap sudah. Peribahasa, yang bilang jika kesempatan itu tak datang dua kali, jelas keliru. Kesempatan itu bahkan datang untuk kali ketiganya, masih dengan orang yang sama dan tawaran bekerja di tempat yang sama pula, saya terima. Namun, kali ini sedikit beda. Langsung tegas. To the ponit.

Tanpa basa-basi sang penelepon mewawancarai saya via-phone. Awal pertanyaan seputar ketidakdatangan saya kali kedua itu. Saya jujur saja dan menjawabnya dengan kalimat, “Masih bingung, Mbak!”. Lalu, pertanyaan demi pertanyaan pun mengalir. Seputar pribadi, penjelasan seputar perusahaan itu, dan sampai pada upah. Perusahaan yang menjanjikan gaji 3x lipat itu ternyata adalah multi nasional corporate yang sudah beroperasi di lebih dari 20 negara di dunia. Di indonesia masih terbilang baru. Baru hanya satu cabang, di Jakarta. Mereka berencana membangun lagi di Surabaya dan Bali. Maksud dari interview tadi adalah mereka ingin meminang saya untuk memimpin marketing team di Surabaya atau Bali. Hmm..menggiurkan ya.

Belakangan saya tahu bahwa perusahaan tersebut tidak main-main. Sebuah perusahaan besar dengan tawaran upah besar dan posisi besar pula, saya tolak. Dengan percaya diri saya berani katakan jika perusahaan tersebut sangat butuh saya. Bukan sombong. Alasannya begini, buat apa mereka sampai mengundang saya hingga kali ketiga. Dan, diakhiri dengan wawancara via telepon. Apa gak benar-benar kesengsem dengan saya kalau begitu caranya? Saya tidak pernah mengirim CV atau mengobral personal info ke mereka—atau yang lainnya. Bahwa kemudian mereka mengetahuinya, entahlah. Ada Tuhan dengan invisible hand-Nya dan dengan misteriusnya menyampaikan informasi mengenai saya, barangkali.

Kenapa gak lo ambil? Banyak sahabat atau bahkan keluarga saya yang menyayangkan itu. tapi, inilah hidup yang sebuah pilihan. Saya memilih kalah untuk kemenangan yang sejati. Prinsip saya yang tidak ingin bekerja, tapi membuka kerjaan, adalah alasannya. Sebuah cita-cita, yang meski sampai sekarang belum sepenuhnya terwujud, yang masih saya perjuangkan. Saya yakin inilah tarikan kreativitas. Seperti halnya ketika kita berusaha mencapai titik finish saat mengikuti lomba lari dengan pinggang yang terikat tali karet yang dipancang di garis start. Semakin kencang kita berlari mencapai finish semakin kencang pula tarikan ke belakang. Kian bersemangatnya saya mewujudkan mimpi dan cita-cita awal kian kencang pula rintangannya. Pilihannya masih dua, yakni memilih untuk mengikuti ajakan pihak lain dan mundur dari impian awal, atau hidup sesuai prinsip tapi menyiakan kesempatan yang sudah di depan mata. Life is choice. Jadi, saya pilih yang kedua.