De Nekat Creativepreneur [Part. 15]

Posted on June 17, 2013

0



de-nekat-creativepreneur (dok fileforsharing)

de-nekat-creativepreneur (dok fileforsharing)

The Useless Things

Kita perlu tahu hal-hal yang tidak perlu dalam memulai usaha. Salah satunya, yakni ketakutan dalam mencoba. Perencanaan itu baik. Tapi, terlalu terfokus kepada perencanaan adalah hal yang tak perlu. Kapan mau memulai jika fokus kita adalah persiapan dan persiapan. Membangun rumah juga adalah proses, bukan sulap semalam jadi. Mulai dulu dengan membeli pasir, batu bata, semen, dan kayu. Jika ternyata ada yang kurang, maka penuhi kekurangan itu. Jika rumah yang telah terbangun ternyata bocor, kita tentu bakal berusaha menutupnya. Kita jadi tahu dimana letak kebocorannya. Bukan jadi soal setelah itu kita memanggil tukang untuk membetulkannya atau kita sendiri yang memperbaikinya.

Tempatkanlah perencanaan di halaman awal saja. Jangan letakkan itu disetengah halaman buku yang akan ditulis. Cukup satu atau dua halaman di awal buku. Saya teringat akan sosok Bob Sadino. Pengusaha nyentrik yang tak pernah pakai celana panjang itu begitu inspiratif. Satu hal yang saya sukai adalah soal prinsip hidupnya yang tanpa rencana dan tujuan. Om Bob—sapaan akrabnya—jelas-jelas bilang bahwa hidupnya itu mengalir saja seperti air. Tanpa perencanaan dan tujuan. Seseorang boleh saja punya rencana dan tujuan. Tapi, bagi mereka yang tak punya, itu juga sah. Intinya sama-sama menghormati, baik mereka yang punya ataupun tidak.

Hmm. Aneh memang buat sebagian orang. Tapi, buat saya pribadi tak ada yang aneh atau salah padanya. Seorang yang tidak punya rencana sejatinnya punya. Rencananya adalah tidak akan buat rencana. Mereka yang tak punya tujuan itulah tujuannya. Agak filosofis memang. Tapi, terlepas dari semua sensasinya itu, Om Bob adalah begawan bisnis sekaligus teladan bagi para entrepreneur. Ia adalah potret sukses pengusaha yang nyentrik. Sebutan paling bagus buatnya adalah eksentrik, sedangkan sebutan paling jelak adalah gila. Biarlah. Tiap orang punya cirinya masing-masing. Orisinalitasnya itulah yang patut kita teladani. Toh pengusaha memang perlu sedikit radikal dalam menjalani bisnisnya, termasuk dalam berprinsip.

Sangat bisa jadi, prinsip unplanning tersebut adalah satu usaha menyingkirkan ketakutan. Too much planning will kill you. Seringkali rencana justru menghambat kita untuk berani berkespresi. Bisnis adalah soal ekspresi ide-ide. Pertimbangan demi pertimbangan yang dibuat terkadang mengkerangkeng ekspresi ide-ide tersebut. Bagus jika pertimbangan dijadikan sebagai tindakan antisipatif. Tapi, jika terlalu banyak, maka pertimbangan bisa jadi pembunuh bisnis itu sendiri. Keengganan seorang Bob Sadino dalam berencana patut diselami. Tentu dia tidak serta merta nol rencana sama sekali. Rencana tentu ada. Hanya saja jika terlalu banyak, maka rencana itu sendiri yang bakal mengubur dalam-dalam mimpi bisnis kita.