De Nekat Creativepreneur [Part. 13]

Posted on June 11, 2013

0



de-nekat-creativepreneur (dok fileforsharing)

de-nekat-creativepreneur (dok fileforsharing)

Ngumpulin Puing

Cerita kita lanjutkan kembali. Berdua kita buka lembaran baru. Bisnis fotografi masih tetap dilanjutkan meski kemudian hanya dijadikan sambilan. Kita coba membuka bisnis kuliner. Dengan hanya dua orang dan praktis tak punya modal, kita memberanikan diri berekspektasi. Kita belajar membuat proposal bisnis (Business Plan). Setelah dirasa mumpuni, kita pun menuangkan ide-ide bisnis dalam proposal bisnis. Tapi bagaimana ide ini jalan wong modal saja gak punya? Iya, benar sekali. Kita ingat jika kita ini cuma modal dengkul. Dan, yang namanya dengkul sama sekali gak bisa digadaikan. Coba deh Anda ke pegadaian; ‘Bapak mau gadaiin dengkul?’. Si bapak pegadaiannya pasti bakal menghujamkan upper cut dan wasit pun langsung menghitung. KO! Hehe..

Usaha kita tak berhenti sampai disitu. Kita coba browsing apakah ada bisnis yang tanpa modal. Dan, alhasil peluan pun muncul. Ternyata ada lho biisnis yang tanpa modal. Apakah itu? tinggal cari aja orang yang mau modalin tuh bisnis. Alias cari investor. Kita taidak usah capek-capek nyari modal dulu buat buka bisnis. Jika ide dan proposal bisnis kita bagus dan dirasa prospektif, pasti bakal ada orang yang mau mendanai. Itu yang kita alami. Ide bisnis kita dapat apresiasi positif dari orang lain. syukurlah. Ternyata sesulit apapun peluang bakal tetap ada. Intinya jangan nyerah. Kalo nyerah habislah sudah. Tak ada persoalan yang tak terselesaikan. Kita yakin jika Tuhan menurunkan persoalan sepaket dengan jawabannya.

Bisnis kuliner yang kita rencanakan pun akhirnya dimulai. Sang investor tak lain tak bukan adalah kawan kita. Sempat lama tak bersua dan kini justru berjodoh dalam kepentingan bisnis. Kami bertiga pun memulai langkah baru, mencoba peruntungan dalam usaha kuliner. Kami mendatangkan koki dan pelayan dari warga setempat. Yah itung-itung sebagai pertanggungjawaban sosial sebagai pemakai tempat. Satu hal lagi, kadang kita suka miris melihat kondisi masyarakt setempat. Tanah mereka seperti dijajah orang luar. Mereka sendiri yang notabene masyarakat lokal justru cukup puas hanya jadi penonton. Atau yang lebih mirisnya lagi mereka itu banyak yang bekerja diluar kota dan menjadikan tempat tinggalnya sebagai indekos.

Menghadirkan dua orang pekerja di warung kami sedikit menjawab pertanggungjawaban tersebut. satu hal lagi, ada sisi positif ketika kita menggaet warga setempat untuk dijadikan karyawan buat usaha kita. sisi positif itu adalah tempat usaha kita sedikit aman. Lho kok? Terkadang banyak sekali pungli yang mengatasnamakan pajak setempat bagi mereka yang punya usaha di tanah orang. Istilah lainnya adalah japrem alias jatah preman. Nah, dengan kita membuka usaha dan menggunakan tenaga masyarakat lokal ini, maka setidaknya si preman bisa sedikit nurut dengan kita. lumayan, uang yang seharusnya buat japrem bisa buat nambah kas usaha. Strategi ini tak ada salahnya dicoba.

Memulai usaha yang belum pernah sekalipun dicoba dan minim pengalaman adalah tantangan tersendiri. Fase memulai inilah yang berat. Kebanyakan orang akan berpikir puluhan kali jika mau buka usaha. Terlalu banyak pertimbangan soal ini soal itu dan akhirnya gak buka-buka. Tidak salah memang banyak pertimbangan. Namun, jika pertimbangan itu lebih cenderung kepada ketakutan inilah yang tidak perlu. Padahal, cuma butuh keberanian buat memulai sesuatu dan sama sekali tidak butuh kesempurnaan. Jika Anda berpikir untuk menunggu semuanya siap, maka usaha yang direncanakan pun tak kunjung dimulai.