Dalam Gerbong Kereta

Posted on June 10, 2013

0



Before Sunrise (dok. Ronald Grant Archive)

Before Sunrise (dok. Ronald Grant Archive)

Do you have any idea what they were arguing about?

Begitulah Jesee James memulai obrolan dengan Celine dalam sebuah kereta menuju Wina, Austria. Sempat terusik oleh sepasang suami istri berbahasa Jerman, Celine lantas beringsut mencari kursi yang lain. Beruntung, akhirnya ia memilih kursi yang ternyata tepat berseberangan dengan seorang pria kalem berstelan casual, Jesse.

Hanya sekadar mengisi waktu. Tepatnya menunggu penerbangan esok paginya, Jesse mengajak Celine untuk menghabiskan waktunya di Wina, sebelum matahari terbit. Sekadar jalan, mengunjungi museum, nonton teater, menikmati pasar malam, meramal nasib, menikmati bintang di langit kota, atau sekadar melangkahkan kaki berdua.

Merambati detik demi detik hanya dengan kalimat. Kata demi kata keluar tak berarah dari mulut keduanya. Dari obrolan masa lalu, obrolan tentang keluarga, obrolan tentang aktivitas masing-masing, dan tentunya obrolan soal cinta. Waktu menjadi tak berarti sama sekali. Tak terasa. Jika sudah dalam keadaan mesra, fokus menjadi hal yang gampang diraih. Semua hal yang merumitkan pikiran seketika lenyap dan hanya terfokus pada kekasihnya.

Malam seperti didisain dengan banyak kerlip bintang yang indah. Terus melangkahkan kaki tanpa arah. Hanya menghabiskan waktu dengan berbincanglah yang dituju. Tak peduli sudah berapa kilometer jarak yang ditempuh sang kaki. Tak jadi soal perut keroncongan dan peluh bercucuran. Toh keduanya tetap saja asyik ngobrol. Itulah cinta. Yang dengannya setiap detik menjadi punya makna. Jesse pun tak ambil pusing jika pesawat yang akan membawanya itu bakal terbang sebentar lagi.

Itulah Ethan Hawke, the collest Jesse, dan Julie Delpy, si jelita Celine. Dua orang yang sama sekali tidak saling kenal, pada awalnya. Lantas kemudian menemukan kemesraan dalam singkatnya waktu. Diawali oleh ketidaksengajaan dan diakhiri oleh sebuah janji untuk temu kembali.

‘Jodohku kelak adalah seorang wanita yang kutemui di dalam kereta

Saya kok pengen seperti itu ya? Hmm. Rasa-rasanya asyik ya menemukan seorang yang membuat kita nyaman dalam sebuah gerbong kereta. Sungguh suatu perjodohan yang menarik. Tak perlu waktu lama buat saling kenal. Tak usah pacaran. Tak usah juga basa-basi. Sebab kita semua sudah dipasang-pasangkan oleh Tuhan. Yang baik untuk yang baik pula, begitu pula sebaliknya.

Trus, ntar kalo salah pilih gimana? Tuhan pasti tidak salah pilih. Lebih tepatnya tidak salah memilihkan pasangan untuk kita. Yakini saja janji-Nya. Kalo udah jodoh gak akan kemana. Terkadang Tuhan punya cara yang misterius dalam mempertemukan sebuah pasangan. Salah satunya di dalam kereta, atau dimana saja. soal cinta, nnti juga tumbuh dengan sendirinya. Kalo kata peribahasa Jawa; ‘Witing tresno jalaran soko kulino’. Pohon cinta tumbuh dari intensitas ketemu dan komunikasi. Kalo udah nikah dan hidup serumah, masa iya gak timbul cinta. Hehe.

Jika ada keajaiban di dunia ini, harusnya itu dalam upaya pemahaman seseorang untuk berbagi sesuatu. Bahwa Tuhan, sekali lagi, punya caranya sendiri yang misterius untuk mempertemukan dua sejoli. Kita tak akan pernah tahu bahkan tak sadar jika Tuhan ternyata telah membisikkan kepada jodoh kita dengan kata-kata; “Dialah imammu kelak”. It’s miracle!

Daydream delusion. Limousine eyelash. Oh, baby, with your pretty face. Drop a tear in my wine glass. Look at those big eyes. See what you mean to me. Sweetcakes and milk shakes

I am a delusion angel. I’m a fantasy parade. I want you to know what I think. Don’t want you to guess anymore

You have no idea where I came from. We have no idea where we’re going. Lodged in life. Like branches in the river. Flowing downstream. Caught in the current

I carry you. You’ll carry me. That’s how it could be. Don’t you know me?. Don’t you know me by now?

 

Posted in: Short Story