De Nekat Creativepreneur [Part. 12]

Posted on June 8, 2013

0



de-nekat-creativepreneur (dok fileforsharing)

de-nekat-creativepreneur (dok fileforsharing)

Coba Lagi

Singkat cerita, kami pun lulus dari kuliah. Meski dengan perjuangan yang lumayan berat, namun akhirnya penderitaan pun berlalu. Terus terang, buat saya pribadi, saya lebih menghargai arti sebuah proses meskipun panjang dan berliku. Tugas manusia adalah berperang, soal menang atau kalah itu beda cerita. Berakhirnya studi adalah satu titik balik bagi kami untuk membuka kembali lembaran bisnis yang sempat tertutup. Fotografi dan dokumentasi kami lanjutkan kembali. Kami masih butuh uang buat wisuda, jadi mau tidak mau harus mengeruk kembali sumur rejeki.

Kali ini kami lebih gencar dalam berpromosi. Menyasar siapa saja dan pihak manapun, terutama yang kira-kira bakal butuh difoto dan didokumentasikan. Waktu itu kawan-kawan seperjuangan yang sebentar lagi menikah menjadi sasaran empuk kami. Foto prewedding atau wedding jadi fokus utama kami. Meskipun kemudian malah perusahaan yang mau buat company profile lah yang datang. Ada perusahaan garmen asal India yang berlokasi di Bandung kemudian mengontak kami. Perusahaan tersebut ingin membuat semacam testimoni untuk klien-klien yang memakai produknya. Kami pun tak berpikir panjang. Ambil dan laksanakan Komandan!

Hari demi hari berlalu. Sebelum akhirnya kami memutuskan untuk mengakhiri bisnis ini. berat rasanya jika harus mengakhiri nyawa bisnis yang kami lahirkan sama-sama. Bukan persoalan mudah untuk menutup rintisan usaha yang dulu sempat menjadi andalan uang jajan dan uang kuliah. Meski kemudian silaturahmi kami tak putus dan tetap akrab. Tapi, jujur ini adalah keputusan sulit, terutama bagi saya yang kala itu adalah leader dari bisnis ini. apa boleh buat? Beberapa kawan memutuskan untuk mencara penghidupannya sendiri. Dan, saya pun tak dapat menghalangi mimpi mereka. Hak setiap orang punya mimpi. Dan hak mereka juga untuk mewujudkan mimpinya itu.

Kami berlima berpisah. Tiga orang dari kami memutuskan untuk mencari pekerjaan yang diidam-idamkannya dahulu. Tinggal kita berdua, saya dan kawan saya. Tak lama selepas wisuda terdengar kabar bahwa ketiga kawan kami itu mendapat kerja di luar kota. Syukurlah. Meski harus berat, namun ini adalah yang terbaik. Doa saya, dia, kami, dan mereka sama. Ingin melihat saudara kita sukses. Dulu sempat susah bareng, dan kedepan kami semua sama berharap dapat berhasil bareng pula. Jalinan komunikasi masih baik-baik saja. Masih sering bertelepon sekadar bertanya kabar.