De Nekat Creativepreneur [Part. 11]

Posted on June 6, 2013

0



de-nekat-creativepreneur (dok fileforsharing)

de-nekat-creativepreneur (dok fileforsharing)

Manisnya Kegagalan

‘Kegagalan adalah awal dari kegagalan berikutnya’ Revisi Kata Bijak

Hehe.. Bukan bermaksud buat matahin semangat kawan-kawan yang lagi berusaha wujudin mimpinya jadi entrepreneur sukses. Tapi, setidaknya itu yang saya alami. Sudah genap 3 tahun saya merintis bisnis dan hasilnya belum maksimal. Masih yang itu-itu saja. aset tak bertambah. Duitnya masih mepet. Dan, gak gede-gede penghasilannya. Coba satu usaha gak lama kemudian gulung tikar. Buka lagi yang beda. Tapi, hasil akhirnya tetap sama, gagal. Case closed!

Memulai bisnis dengan tanpa pengalaman plus modal dengkul barangkali bukan cita-cita saya. Awalnya saya dan lima orang kawan coba buka bisnis foto dan dokumentasi. Modalnya adalah keterampilan memfoto. Softskill itu juga didapat tidak dengan sekolah alias otodidak. Berawal dari komunitas fotografi kampus kami pun memulai berbisnis. Membuat media promosi pas-pasan dan melalui social media adalah strategi pertama menggaet klien. Tapi, setelah berjalan 3 bulan klien yang dinanti pun tak kunjung hadir.

Kami gak nyerah. Prinsipnya adalah bahwa orang nyerah gak sukses, dan orang sukses gak bakal nyerah. Akhirnya kami pun tetap melangkah meski tertatih sebab harus berjibaku dengan tugas akhir. Maklum kami mahasiswa tingkat akhir yang dikejar deadline masa studi waktu itu, jadi harus cepat-cepat lulus. Namun, itu bukan alasan untuk tidak maju. Berusaha untuk mandiri dan tak bergantung sama orang tua adalah semangat buat kami. Jujur, malu. Sebab kami bukan lagi anak kecil yang terus minta disuapin uang jajan dari ortu.

Finally. Ceritapun berlanjut. Baru bulan keenam kami dapat klien. Ada seorang kawan yang minta untuk foto preweding. Tanpa pikir panjang, kami pun meng-iyakan. Ternyata, usut punya usut. Kawan kami itu tahu dari kawan kami juga yang tahu bahwa kami membuka jasa foto dan dokumentasi. Viral marketing atau pemasaran langsung dari mulut ke mulut ternyata efektif. Sebab, biasanya ketika seseorang akan menentukan pilihan membeli suatu produk, rekomendasi dari kerabat dan sahabatnyalah yang akan dipakai. Dan, kami pun semakin menggencarkan strategi promosi tersebut hingga kini.

Bersyukur. Meski baru satu klien dan uangnya habis cuma buat bayar cicilan tempat kontrakan, tapi kami tetap berusaha. Berselang minggu klien kedua pun datang. Kemudian bulan depannya tambah satu klien lagi. Lumayan, uangnya bisa nambah bayar SPP terakhir  dan ujian sidang. Disela kesibukan kami jeprat-jepret tersebut, kami sempatkan untuk menyelesaikan skripsi. Tugas yang satu itu lumayan menguras otak dan tenaga. Harus bolak-balik ke tempat riset dan ngejar dosen kesana-kemari. Setelah itu revisi dan revisi final draft. Huft.. Bisnis sejenak ditinggalkan karena masa kami di kampus tinggal hitungan minggu.

Satu lagi pelajaran yang dapat diambil. Hidup itu memang perlu pengorbanan. Orang yang tak pernah berkorban tak akan pernah mengenyam kemenangan. Vakumnya bisnis untuk sementara adalah satu keputusan berat buat kami. Tapi, ini adalah satu langkah yang harus diambil demi menyelamatkan studi. Jika terus fokus jualan jasa foto, maka skripsi terbengkalai dan drop out pun terjadi. Kami pikir win win solution-nya adalah mengorbankan hal baik untuk sesuatu yang lebih baik. Kami cuma ingat bahwa kuliah adalah amanah dari orang tua. Saya dan kawan-kawan tidak akan pernah bertemu dan membuka usaha bareng jika tak bersekolah di tempat yang sama kini.