Makhluk Manis Dalam Bus

Posted on June 5, 2013

0



Mahluk Manis dalam Bus (dok. damri.co.id)

Mahluk Manis dalam Bus (dok. damri.co.id)

Hmm. Beberapa bulan lalu gue naik bus menuju Bandung. Tujuan ke Bandung, yang pada awalnya buat membereskan pekerjaan yang tertunda, membawa gue pada romantika masa lalu. Bertemu kembali dengan seorang gadis manis dari fakultas seberang. Sebentar. “Cerita ini adalah fiktif belaka. Kemiripan tokoh dan cerita adalah kebetulan semata”. Hehe. Bercanda ding. Beneran kok ceritanya. Cuma kalo dipikir-pikir kayak sinetron. ‘Kebetulan’ karena ketemunya kita itu tanpa ada rencana atau skenario sebelumnya. Tapi, gue yakin itu sudah ditentukan oleh Sang Pencipta. Jadi, gak ada yang namanya kebetulan.

Siang itu gue harus segera membereskan urusan yang tertunda berminggu-minggu. Dan, satu-satunya pilihan berkendara umum adalah Damri jurusan Jatinangor-Dipati Ukur. Karena murah dan tepat mengena ke tempat yang dituju. Sebelum dzuhur gue udah berada dalam bus yang tampilannya gak lebih bagus dari kopaja atau metromini itu. Sekira 10 menit gue duduk akhirnya bus pun dengan ringkih melaju pelan bawa serta kejutan. Awalnya merasa biasa, sebab memang gak ada orang yang gue kenal dalam bus. Lagian gue males tengak-tengok kalo udah pewe duduk dalam bus. Hanya duduk manis sambil melambungkan khayal.

Sesaat melaju, bus berhenti pada salah satu kerumunan tepat di depan pusat perbelanjaan. Seorang perempuan naik. Membiarkan tangannya meraih pegangan menjaga keseimbangan biar gak terjatuh. Sorot matanya tajam mencari peluang kursi kosong. Dan, arah matanya semakin jelas tajam terarah pada bangku kosong disamping gue. Untuk sesaat dia nampak biasa. Maksudnya kayak penumpang kebanyakan yang gak gue kenal. Tapi, ingatan gue langsung tergugah ketika dia pelan-pelan mendekat. Jarak 2 meter lagi. Dan, gue baru nyadar bahwa sosok di depan mata gue itu adalah mahluk dari masa lalu yang sempat gue kenal. Bahkan, sempat kenal dekat.

Senyum manis dari bibir yang dulu gue kenal betul itu pun tersungging. Gue membalasnya. Kikuk.

“Eh, kosong?” tanyanya.

Tanyanya tersebut gue balas dengan sedikit anggukan pasti. Dia langsung menyambar kursi disebelah gue. Duduk manis. Sejenak hanya hening yang tercipta. Sebelum akhirnya gue menegurnya.

“Rani, khan?” tanyaku.

“Edi, khan?” dia balik bertanya dengan pertanyaan yang sama.

Gue hapal betul jika dia pasti masih ingat. Pasti dia gak bisa dengan gampangnya ngelupain gue. Pede banget ya gue. Hehe. Dan, gue pun gak akan lupa dan ngelupain paras yang mirip Asti Ananta dijilbabin itu. Kata-kata ‘khan’ ditambahkan hanya sebagai pemanis pertanyaan saja. Gak lebih dari sekadar basa-basi busuk. Hehe.

Obrolan pun mengalir deras bak air bah yang telah tertahan sekian lama oleh bendungan. Menunggu tak sabar dibukanya tutup bendungan. Sehingga ketika dibuka air mendobrak kencang kayu penahan bendungan. Berondongan kalimat keluar dari senapan yang bernama mulut. Nyerocos kesana kemari. Gue banyak nanya soal apa aktivitas dia sekarang. Dan, dia pun sama, bertanya soal aktivitas gue sekarang. Hanya itu saja. Pertanyaan paling krusial, aktual, faktual, dan bertendensi, yakni soal siapa ‘PACAR’ kita masing-masing  urung keluar dari mulut. Lidah ini seperti kelu dan kaku buat bertanya tentang hal yang satu itu. Gue yakin dia pun sama kelunya. Oh my god!

Bus yang membawa kita pada satu tujuan itu beranjak pelan dalam realita. Tapi, buat imaji gue ia melaju dengan kencangnya. Waktu satu setengah jam seperti tak ada apa-apanya. Berasa 10 menit saja. Untaian kalimat yang terucap seperti mengalir tak kenal capek. Laju jarum jam pun berasa singkat. Sehingga harus memutus pertemuan yang sudah lama gak terjadi. Hmm. Kali ini kondektur bus memang bengis. Harus mengakhiri temu kangen kita dengan sekali ucap, “Dipati Ukur. Terakhir!”.

“Eh gue ke rektorat dulu ya,” katanya singkat sambil melenggang turun dari Damri. Sekelebat menjauh dari pandangan gue.

Gue sadar betul jika ada pertemuan pasti ada perpisahan. Siap bertemu artinya harus siap juga berpisah. Tapi, keputusan Tuhan yang terlalu dini menghadirkan perpisahan disaat kerinduan tengah berada dipuncaknya itulah yang membuat rasa kehilangan begitu dahsyat. Merana dan menjadikan hambar semua rasa. Gue pun cuma bisa melepasnya dengan senyum kecut. Satu hal terlupa. Nomor handphone. Damn! Nomornya masih ada di phonebook hape, tapi itu udah lama gak aktif. Dia pasti udah ganti nomor. Dan, sialnya gue lupa gak sempat nanya. Keasyikan ngobrol membuat gue melupakan esensi terpenting dari sebuah perpisahan. Nomor kontak.

Makhluk manis dalam bus. Someone from the past. Seorang gadis yang tangguh. Dan, gue terpana sebab ngelihat semangatnya pas jadi aktivis mahasiswa. Sayang. Kenapa dulu gak memutuskan buat pacaran ya? Pertanyaan itu sempat menyeruak sesaat setelah dia melepas pandang tadi. Gue yakin, dia pun berpikiran sama. Sempat intensif bertemu dalam sebuah kegiatan kampus membuat kita jadi makin akrab. Gue sedikit menangkap kuatnya hasrat buat pacaran. Gue tahu dia naksir berat sama gue. Pede banget gue, sekali lagi. Hehe. Gue sebetulnya juga sama. Tapi, gue udah terlanjur memutuskan untuk gak pacaran. Dan, itu prinsip gue dari lama.

Ngelihat gelagat gue yang seperti itu, akhirnya dia pun perlahan menjauh. Mungkin karena ngelihat gue yang gak jelas. Gak jelas mau dibawa kemana kemesraan kita dulu itu. Untuk memberanikan diri bertanya, tentu saja dia enggan. Perempuan itu ibarat bubu. Mana ada bubu yang mendekat menangkap ikan. Bubu hanya diam memasang perangkapnya, ikan lah yang mendekat dan masuk kedalamnya. Gue pasif. Bukan karena menunggu dia duluan yang bilang. Tapi, gue emang gak pengen pacaran.

Menurut gue pacaran gak ada manfaatnya. Orang lain boleh bilang jika pacaran punya manfaat yang segudang. Meski menurut gue itu cuma pembenaran. Tapi ya monggo saja. Dan kalo gue juga punya prinsip buat gak berpacaran, orang lain juga harus hormat dan gak usah menyalahkan. Sah-sah aja toh? Intinya sama-sama hargai prinsip. Intensitas ngobrol, SMS, telepon, dan bertemu yang tinggi kadang emang buat harapan muncul. Lantas buat apa harapan itu? Buat ngehibur kita. Mengharap akan sebuah kejelasan hubungan, katanya. Kalo gak nembak-nembak dibilangnya cowok PHP (Pemberi Harapan Palsu). Hehe.

Soal keputusan buat gak pacaran, simpel sih, Sob. Sebuah hubungan itu khan silaturahmi. Dan, silaturahmi itu baik. Kalo niatan kita dari awalnya adalah menjalin silaturahmi dan komunikasi, maka tanpa harus menjadi pacar pun sah-sah saja. Toh, banyak manfaatnya ketika kita bisa dekat. Bisa saling share lah, saling nasehatin lah, saling ngasih masukan lah, dsb. Sedangkan kalo sebuah silaturahmi atau hubungan kamunikasi harus diartikan dan berujung pada pacaran semata itu dangkal banget, Sob. Sama artinya kalo misi awal silaturahmi kita itu gak tulus. Ada sesuatu yang lebih yang diharapkan. Dan, yang paling penting lagi, pacaran itu bisa putus sedangkan berteman atau bersaudara gak bisa putus. Ada istilah mantan pacar, tapi gak ada istilah mantan saudara khan?