Bianglala Kehidupan

Posted on May 22, 2013

0



Bianglala (dok. bebas)

Siapa mengharap? Siapa diharap? Dan, buat apa ada harapan?

Berlembar cerita pahit dan getir novel kehidupan terkumpul. Siap dijilid rapi. Dan, dibubukan. Diterbitkan sehingga menjadi sebuah buku bernama ‘Buku Kegagalan’. Alur buku tersebut berjalan maju, dengan irama lambat, tapi pasti. Berhalaman akhir 100 dan bermula dari angka 1. Keseluran isinya, seperti judulnya, adalah tentang kegagalan. Dimulai dari halaman awal soal gagal. Dan, diakhiri di halaman 100, pun tentang kegagalan. Entah bakal dibaca atau tidak oleh orang lain. Toh mana ada orang yang rela meluangkan waktunya demi membaca cerita setebal 100 halaman berisi kegagalan tok—sekalipun gratis?

Sudah bisa ditebak jika kebanyakan orang akan suka cerita happy ending. Atau cerita manis romantisme berakhir dengan tawa. Atau cerita kesuksesan. Atau cerita keberhasilan hidup. Jika ada 100 orang pembaca, 99 pembaca pasti akan memilih cerita suka ria. Dan, cuma 1 orang, itupun masih 50-50%, yang terpaksa memilih cerita haru biru kehidupan. Meski saya yakin jika sang pembaca juga tidak 100% terbebas dari keterpurukan hidup. Karena, tentu saja, tiap orang pernah merasakan pahit dan getir kehidupan. Manusia pernah terpuruk sekali pun. Masing-masing dari mereka pernah juga menjalani cerita suram bergulat dengan kegagalan dan keterpurukan. Itu pasti.

Mayoritas orang bakal dengan gampang mengenyahkan kisah pahit dalam hidupnya. Mengunci rapat-rapat dengan gembok tebal peti jalinan cerita kegagalannya dan membuang kunci tersebut. Atau membakar kumpulan cerita sedihnya itu dalam tungku perapian sambil menikmati sekantung popcorn. Berusaha sekuat akal sehat melupakannya. Ketika manis kehidupan datang, pahit pun dengan segera dilupakan. Kenangan akan kegagalan secepat kilat sirna dan terganti oleh catatan keberhasilan. Hidup ini memang seperti bianglala, yang berputar cepat kadang pula lambat. Kadang kita merasakan kursi yang kita tempati tepat berada dipuncak putaran. Kadang pula terhujam menukik diposisi paling bawah tak bisa melihat apapun kecuali tandusnya tanah.

Sekarang, bianglala itu berputar dan menempatkan kursi yang saya duduki ini berada dibawah. Tepat paling dasar diantara kursi penumpang lain. Dan mendatangkan tawa dari penumpang lain, sebab listrik tengah mati. Jadi, bianglala berhenti berputar. Saya didasar! Apa jadinya jika bianglala memang sepenuhnya berhenti sekalipun listrik nyala kembali. Atau bukan cuma itu. Bisa jadi roda-roda bianglala enggan berputar dalam waktu lama sebab kurang berpelumas. Atau, sebab keringkihannya, besi tua bianglala sudah tak sanggup lagi memutar dirinya sehingga sang penumpang harus susah payah mencari sendiri keselamatannya. Mencari jalan agar bisa sampai ke bawah menginjak kembali kehidupan.

Diantara kekacauan yang timbul masih ada secercah harap. Saya masih berharap bisa turun dan menjalani hidup kembali. Atau mengharap listrik kembali menyala dan tidak terjadi apa-apa dengan sang bianglala. Sang bianglala berharap sakitnya bisa sembuh dan menjalani perputaran hidupnya kembali. Menunjukkan ke-ada-annya kepada para penumpangnya. Siapa yang berharap? Siapa yang diharapkan? Dan, buat apa ada harapan? Bianglala punya harap saya dan penumpang yang lainnya pun demikian. Semuanya punya harap, diharap, dan ada harap meski tak nyata terucap. Kita sama membutuhkan. Dan, harapan itu tumbuh sebab saling membutuhkan.

Kegagalan yang menimpa bertubi tidak lantas menjadikan harapan itu enyah sama sekali. Masih ada keinginan untuk bertemu kembali dengan teman, saudara, kerabat, dan keluarga. Masih ada harapan untuk kembali menjalani kerja dan mencari penghasilan. Atau, setidaknya, masih ingin dianggap eksis akan keberadaan kita di bumi. Harapan lah yang kemudian menjadikan kita, yang bernama mahluk dan kebendaan, itu diakui eksistensinya. Tanpa itu, kita tidak ada. Tidak ada yang mengakui keakuan dan kekitaan jika tidak sedikitpun terselip harapan dari dalam diri. Dianggapnya bangkai atau seonggok daging tanpa ruh jika tanpa ada harapan sedikitpun.

Meski dalam keadaan sesulit dan segetir apapun, harap akan selalu muncul. Hari ini belum bisa makan nasi. Esok, siapa tahu, ada segenggam beras yang siap ditanak. Hari ini masih sepi saja penghasilan kita. Esok, siapa tahu? Semuanya serba misteri. Dan, kita harus mencintai kehadiran misteri tersebut. Cuma harapan yang dapat menjadi bekal kita menghadapi kemisteriusan kehidupan. Tingginya harap bertanda tingginya tujuan. Dengan itu, segunung persoalan pun bakal siap menghadang. Gunung kegagalan bakal menghalang tingginya harapan. Itu ketentuan alam. Maka, ingatlah akan bianglala yang senantiasa berputar. Hidup pun demikian adanya. Semakin terpuruk, saya justru semakin bersyukur. Sebab itu adalah satu pertanda bahwa kebahagiaan sudah kian dekat. Akumulasi kebahagiaan hampir sampai. Tinggal beberapa langkah lagi menghampiri. Tuhan pasti memberi jalan, disaat kita mau melangkah.

Usah pedulikan yang menghalang. Seberapapun tingginya itu, atau seberapapun besarnya halang rintang itu jangan pernah memangkas harapan. Untuk dapat melompati halangan yang tinggi, kita tentu butuh galah harapan yang tinggi pula. Sisanya, adalah tenaga yang luar biasa untuk bisa melompati dan jatuh diatas matras empuk. Bersorak berhasil karena telah melewati tingginya halang rintang. Inilah kehebatan seorang mahluk yang dengan berani menggantungkan harapan tinggi dikala kesulitan menerpa. Saat-saat kita tak berpegang pada sebatang galah panjang. Sedangkan tepat dihadapan kita ada kayu panjang yang melintang menjulang tinggi dan harus dilewati. Tidak ada usaha lari. Hanya kuatnya tekad dan harapan dalam mencapainya. Sisanya adalah usaha sekuat tenaga.

Tuhan tentu tidak tidur. Atau Ia tidak lantas berdiam diri dan lupa memutar kembali jantera biangala semesta. Layaknya kehidupan, bianglala pun akan kembali berputar dan menemukan ritmenya sendiri. Sebagai penumpang, kita hanya bisa berharap tanpa bisa menawar sang Empunya Bianglala untuk memutarnya kencang atau melambat. Atau menghentikan sementara saat kita tengah dipuncak dengan segala kenikmatannya. Keberadaan kita ditentukan oleh kepasraan yang nyata. Akan kemanakah sang Empunya Bianglala memutar bianglala-Nya, itu sepenuhnya prerogatif-Nya. Kita hanya bisa menurut. Tapi, kehendak-Nya itu akan dipengaruhi oleh seberapa beranikah kita berharap. Kita yang meminta, meski hasilnya tak pasti. Tugas kita berperang dan berharap menang. Menang atau kalah, itu sepenuhnya keputusan-Nya.

Bianglala kehidupan pasti berputar. Ke arah mana ia memutar, itu terserah bianglala. Segala sesuatunya berpasangan. Meski kemudian naluri kita akan bilang; orang akan suka dan mendekati sesuatu yang menguntungkan dan menjauhi apa saja yang merugikan. Tapi, harapan tidak bisa terus-terusan mengikuti kita. Harapan punya caranya sendiri. Ada masa dimana kita tertawa terbahak. Dan ada kalanya kita justru mengurai air mata. Ada masa susah dikala kesenangan telah lama bersemayam. Pun sebaliknya. Akan hadir pula masa senang saat kesusahan telah lama merajai hitamnya kehidupan. Itu kenapa kita harus ingat dan siap akan lima perkara susah disaat kepayang tengah melanda. ‘Eling lan waspodo. Sing pinter durung pasti bener. Sing bener ora mesti pener.’

Posted in: Inspirational