Lelaki Tangguh

Posted on May 18, 2013

0



Jobs and Pak Dirman (dok klosetide)

Jobs and Pak Dirman (dok klosetide)

Pada akhirnya, Jobs pun menyerah.

Jobs berjuang selama hampir sewindu dengan benalunya itu. Bukan kebiasaannya lemah, apalagi harus menyerah. Tapi, inilah suratan kehidupan. Dimana kehidupan menjadi otoriter dan sangat berhak mengambil atas apa yang pernah ia lahirkan. Termasuk putera terbaiknya sekalipun.

Apple mangkat sebab ditinggal oleh ruhnya, Jobs. Sepeninggalnya, Apple lantas seperti berubah rasa. Jadi hambar. Seperti halnya sayur tak bergaram. Tak ada lagi sosok berkaos lengan panjang hitam dan ber-jeans hitam diatas panggung Apple.

Jobs boleh saja pergi untuk selamanya. Tapi, kehidupan harus tetap berjalan biasa sepeninggalnya. Apple pun diberikan ruhnya kembali, sehingga tetap hidup sampai kini. Soal rasa, apakah itu manis, asam, pahit, atau tetap hambar, entahlah. Hanya sang kekasih, Apple, yang tahu persis jawabannya.

Usia Stephen Paul Jobs tak panjang memang. Sosok muda yang memulai gerilyanya di dalam garasi itu berhasil membuka mata dunia. Bahwa keteguhan hati dan kerasnya konsistensi sikap mampu menggulingkan besarnya batu rintangan. Ia tak sekadar panutan. Pun contoh nyata akan rasionalnya sebuah kegilaan ide yang bernama inovasi.

Bagi Apple sendiri, Jobs adalah kekasihnya. Jobs pun merasa sama demikian. Kecintaan  yang tanpa meminta lebih selain kesetiaan. Tiga kali putus nyambung. Layaknya sebuah hubungan. Ada saat dimana kemesraan menjadi bumbu utamanya. Dan ada pula saat dimana prahara begitu mendominasi. Sehingga kesetiaan itu harus diakhiri, setelah kanker pankreas menyelingkuhinya.

Jobs adalah sisi romantisme Apple. Dan, Apple adalah manifestasi cinta seorang Jobs. Selepas ia mundur, tentu saja Apple begitu kehilangan. Kekasih mana yang tak kehilangan ketika kekasihnya itu pergi menuju kehidupan yang hakiki? Yang tak akan pernah menengok kembali ke belakang. Meski sekadar melempar senyum.

Seorang yang dingin dan tangguh itu pun harus mengaku kalah dengan tumor pankreas neuroendokrin—yang ternyata lebih tangguh darinya. Kita lantas mafhum akan rasa kehilangan sejoli itu.

***

Dibalik raga kerempeng dan lemah itu, semua pasukan patuh kepadanya. Ia adalah Jenderal pertama sekaligus termuda yang pernah dimiliki negeri ini. Indonesia jelas bangga pernah melahirkan teladan yang tangguh seperti Pak Dirman.

Dalam keadaan lemah karena menderita sakit tuberkulosis yang parah, Sudirman tetap saja keras kepala memimpin Perang gerilya tujuh bulan lamanya melawan Agresi militer Belanda kedua. Paru-paru tinggal sebelah kok ya masih kelayapan di hutan,Dan (komandan, red). Sehingga harus ditandu kesana kemari oleh loyalisnya itu. Dasar Jenderal keras kepala!

Seorang yang kepangkatan militernya diraih secara autodidak ini memang sosok yangnyeleneh. Diawali dari suksesnya memukul mundur Belanda, ia pun didapuk menjadi Jenderal oleh Sang Presiden, Sukarno. Adalah pertempuran Ambarawa yang turut membawa nama besarnya kala itu.

Cerita kepahlawanannya pun berlanjut di Serangan Umum 1 Maret ‘49. Pak Dirman memimpin langsung perang di tanah Sultan itu. Sejatinya, ia baru saja keluar rumah sakit sebab benalu yang masih saja bandel menempel di paru-parunya. Praktis jika keadaannya itu tak mengijinkannya untuk keluar rumah.

Keadaan jadi serba rumit. Yogyakarta dikepung. Dwi tunggal pun ditawan. Meski sebelumnya Sukarno melarangnya untuk berperang dan menjalani perawatan, namun ia mengindahkan perintah sang atasan. Bukan maksud ingkar. Naluri sebagai pejuang, dan (lebih-lebih) kecintaannya kepada bangsa lah yang menyebabkan penolakan itu. Ia cinta kepada Sukarno. Tapi, ia lebih cinta kepada bangsa dan negaranya. Dalam hatinya lirih berucap, Sukarno tetaplah manusia yang kapan saja mati. Tapi, Indonesia tak akan pernah mati.

Lantas, bergerilya adalah keputusan terbaik yang diambilnya—meski dengan ditandu. Pak Dirman menyelipkan kerisnya dalam jubah kebesarannya. Berangkat memimpin pasukan untuk melakukan perang gerilya. Melintas dari hutan yang satu ke hutan yang lain. Berpindah bukit ke bukit. Menarik napas menjadi aktivitas yang sangat sulit, sepertinya paru-paru ini terjepit.

Sekali lagi, ia tak berkeluh kesah. Selepas subuh, ia dan pasukannya dengan sigap menyergap kandang musuh. Seperti sudah hafal betul, jika saat-saat seperti itu kompeni tengah lengah sehabis semalam suntuk berjaga. Belanda jelas tak siap. Mereka kewalahan disergap pagi buta. Penjajah pun dibumihanguskan.

Fisik boleh saja tercekik. Tapi, seorang pemimpin adalah seorang pengatur strategi. Dan, lebih dari seorang pemimpin besar, Sudirman adalah seorang kekasih rakyat Indonesia.

***

Tiap pemimpin punya kisah heroiknya masing-masing. Jobs dengan inovasinya. Dan Sudirman dengan semangatnya. Tapi, keduanya punya ciri yang sama, yakni sama-sama keras kepala dalam pendiriannya. Mereka muda saat mengatur strategi perangnya masing-masing. Usia 20-an tak menyurutkan nyali untuk jadi berarti. Musuh yang menjelma menjadi penyakit pun sama sekali tak berarti. Sebab keteguhan hati dan ketegasan sikapnya itu membuat macan sekali pun gentar. Tak peduli, hajar terus jalanan!

Siapa yang mangkat? Bagi yang berpikir, Apple dan Tentara Nasional Indonesia lah yang wafat. Sebab ditinggal oleh ruhnya masing-masing yang bernama Jobs dan Sudirman.

Kita seharusnya malu melihat semangat juang generasi terdahulu. Kita, pemimpin, yang hanya gara-gara diare lantas cuti dari tugas. Kita, kaum muda, yang meski sedikit cidera kemudian menopang dagu malas beraksi. Kita, kaum terdidik, yang hanya pandai mainkan telunjuk tuding sana tuding sini. Kita, atas nama generasi Indonesia kini, rela menyerah pada keadaan yang sejatinya tak lebih sulit dari yang dialami mereka-mereka itu. Kita kadang begitu lemah sehingga perlu orang-orang tangguh untuk menutupi kelemahan kita itu.

Jobs dan Sudirman beda masa. Namun, keduanya punya kesamaan. Sama-sama punya makna di hati kita, masyarakat dunia, sebagai lelaki yang tangguh. Kita memang kehilangan para pendekar kehidupan, yang mengajari kita akan makna kehidupan. Apa itu perjuangan.

Tapi, kita tetap yakin. Ketika saat ini kita kehilangan, semoga kehilangan kita itu punya makna untuk generasi selanjutnya. Kehidupan dan dunia ini rapuh. Jadi butuh orang-orang tangguh—seperti halnya mereka, Kawan.