Rekreasi Obat

Posted on May 13, 2013

0



Kuliah Kerja Nyata (dok. klosetide)

Kuliah Kerja Nyata (dok. klosetide)

Kalo yang ini cerita jaman gue KKN, Sob. KKN alias Kuliah Kerja Nyata itu sebenernya cuma have fun aja sih. Sisi pengabdiannya cuma 30% lah paling banter. Sisanya, 70%, itu antara asmara, pesta-pesta, dan foya-foya. Hehe..

Gue dapet tempat KKN di salah satu desa di Kabupaten Bandung Timur. Sebetulnya gak desa-desa amat sih. Karena banyak bertebaran convenience store. Disebut desa kalo emang udah gak ada toko modern bahkan listrik sama sekali sama kayak yang dialamin temen gue. Tapi, gue agak lebih beruntung. Meskipun aksesnya cukup sulit, tapi masih ada listrik. Jadi, gak menderita-menderita amat.

Cerita pun dimulai. Selama satu minggu disitu kita masih dalam tahap need assessment alias asesmen kebutuhan masyarakat desa. Kita baru bisa susun program kalo sudah ada hasil asesmen. Jadi, gak ngasal program yang dirintis nantinya. Biasanya masa KKN gak lebih dari 3 bulan. Makanya, kita harus bisa manfaatin waktu antara asesmen, realisasi program, dan cinta tentunya. Hehe..

Kadang ada beberapa mahasiswa yang sok-sokan ngomong pake bahasa dewa, Sob. Tahu maksudnya khan? Iya bahasa-bahasa kayak; implementasi lah, asesmen lah, realisasi lah, audiensi lah, imajinasi lah, ekspektasi lah. Padahal masyarakat bingung apa itu artinya. Ini yang sering jadi salah kaprah. Gue sih mikirnya simpel. Komunikasi itu kan satu proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan. Goals-nya satu, bagaimana agar pesan yang disampaikan tersebut sampai. Makanya gunakanlah bahasa yang mudah dipahami, terutama oleh si penerima pesan.

Tapi yang namanya mahasiswa. Gak mau kelihatan b*&^%*$ (baca: bego) di depan orang lain. Apalagi di depan perangkat desa. Kebetulan temen gue yang satu fakultas jadi Koordinator Desa alias kordes. Mentang-mentang dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) dia sering pake bahasa dewa yang susah dipahami. Mending kalo kata yang dipake itu pas dalam kalimat. Nah, ini dia hobi pake bahasa aneh yang sebetulnya gak nyambung. Jaka Sembung naek delman, gak nyambung man!

Gue udah sering ngengetin dia buat gak usah pake bahasa yang susah. Apalagi, sory to say, beberapa perangkat desa lulusan SD jadi sudah dapat dipastikan agak mengernyitkan dahi kalo denger kata-kata model implementasi dan realisasi. Tapi, karena dia Kordes, jadi susah banget diingetin. Apalagi dia itu aktivis kampus yang kerjaannya demo melulu dan bolos kuliah. Kalo di depan teman-teman KKN atau di depan dosen sih gak masalah mau pake bahasa dewa ato bahasa level 10. Lah ini dia ngomong di depan warga. Mbok ya yang simpel aja pake kalimatnya.

Satu hal yang gue takutin. Warga justru gak tahu apa yang diomongin ama Kordes itu. Sedangkan, kita masih dalam tahap asesmen yang notabene harus tahu betul bagaimana karakteristik dan kebutuhan masyarakat setempat. Ternyata ketakutan gue itu terjadi juga. Hari itu malem minggu dan kita menggelar rapat di balai desa bersama beberapa warga dan perangkat desa. Sang Kordes lantang berbicara soal maksud kedatangan kita ke desa tersebut dan memperkenalkan tim. Sampai kemudian dipenghujung pidatonya dia bilang,

“Kita mau tahu juga bagaimana reaksi Bapak/Ibu atas rekreasi keilmuan kami kesini. Kedepannya kita minta sedikit berkompromi dengan warga soal program yang akan dijalankan” kata Sang Kordes.

Pak Kades pun melanjutkan berpidato. Dan, acara kemudian berlanjut sampai tengah malam membicarakan tentang program yang bakal dijalankan. Di akhir sesi Pak Kades lalu menutup pertemuan itu. Ia nampak agak gelisah waktu malam itu.

“Saya harus cepat pulang ya, Dek,” sambil memegang perut kemudian melanjutkan, “ini perut agak sedikit rewel. Gak bisa diajak berkompromi, maklum diare.” katanya sambil meringis.

Gue tahu betul. Pak Kades lagi diare dan pengen cepet-cepet pulang ke rumah emang. Gak nahan menghujani kloset dengan butiran mortirnya.

“Oh iya, Pak. Mangga,” kita menyilakan.

“Kita ada yang bawa obat mencret, Pak.” Sang Kordes memanggil salah satu teman satu tim yang kebetulan dari Fakultas Kedokteran. Mengambil obat diare dan langsung menyerahkannya ke Pak Kades, “ini Pak obatnya diminum ya biar cepet sembuh.”

Gak sempat berucap terimakasih, Pak Kades langsung nyelonong tanpa juga permisi. Maklum udah gak tahan.

Tim kita lalu memutuskan kembali ke base camp untuk istirahat. Disepanjang perjalanan pulang, gue masih kepikiran dengan ucapan Pak Kades itu. kata ‘kompromi’ langsung di-copy paste sama dia dan dijadikan kata andalan untuk menegaskan perihal ke-mencretannya itu. Jelas-jelas kata itu gak cocok dipake dalam perihal yang seperti itu. Ini pasti gara-gara Kordes gue yang sok-sokan pake bahasa dewa yang salah kaprah juga. Dan akhirnya di-benchmark sama Pak Kades. Apalagi kata yang bakal dipake sama Pak Kades besok ya? Gue jadi kepikiran lagi.

Pagi harinya selepas sarapan kami pun mendatangi Balai desa buat asesmen dengan masyarakat. Kebetulan baru ada seorang hansip yang yang sudah rapih duduk di kursi kekuasaannya.

“Pak Kades mana, Pak?” tanya sang Kordes.

“Belum hadir, Dek. Mungkin sebentar lagi.” Pak hansip itu jawab sambil menyunggingkan senyum.

“Kita tunggu aja, temen-temen.” Suruh Kordes.

“Nah itu dia,” sambil menunjuk dengan jarinya Pak hansip menjawab. Respon spontan dari kedatangan pimpinannya itu.

“Maaf, Dek. Saya telat,” kata Pak Kades masih dengan memegang perutnya. Kemudian melanjutkan, “biasa, serangan fajar tadi. Hehe..”

“Iya, Pak. Never mind.” Jawab Kordes singkat.

Ini dia. Gue gak tahu apakah dia itu saudaranya Cinta Laura atau ada turunan kompeni atau emang baru menapak Indonesia, sering banget dia ngomong pake bahasa asing yang gak pada tempatnya. Dalam hati gue bilang; ‘wah bahaya nih, bisa-bisa Pak Kades make kalimat yang barusan’. Oh no!

“Gimana obatnya, Pak apa sudah diminum?” tanya Rani, salah seorang anggota tim dari Kedokteran.

“Alhamdulillah, Dek. Obatnya sudah mulai berekreasi.” Pak Kades menjawab sambil diiringi senyuman imutnya.

Watdeziggg!!! Seperti petir menyambar disiang bolong. Semua tertunduk menutupi senyumnya. Emang mau piknik pake reakreasi segala tuh obat. Hehe.. Semuanya menahan tawa sebab gak enak menyakiti hati Pak Kades. Tapi, kelucuan emang tak bisa ditahan atau disimpan rapat-rapat. Tetap saja Pak Kades agak malu juga. Ia pun nyadar bahwa kata yang dipakenya tadi salah sasaran. Gak tepat sama sekali.

Akhirnya… Ketakutan gue terulang lagi. Pak Kades meng-copas lagi kata-kata Kordes dan memakainya dalam obrolan pagi itu. Oh.. Pak Kades yang salah gaul.

Posted in: Kloset, Short Story