Logika Kata

Posted on April 30, 2013

0



Bicara (dok. klosetide)

“Sebenarnya dia itu orang yang jujur. Tapi, karena kebutuhan yang mendesak akhirnya dia pun mencuri.”

Atau

“Sebenarnya dia tuh gak males. Dia itu rajin kok, mempertahankan kemalasannya.” Hehe..

Pintar dan kelihatan pintar itu sama atau beda ya? Kalau pintar itu ada standarisasinya. Misalnya seorang yang mendapat nilai 10 di setiap mata pelajaran. Atau yang dapat nilai A disetiap mata kuliahnya dan bisa lulus dengan predikat cum laude. Nah, itulah pintar. Tapi, kalau kelihatan pintar gimana tuh? Ya berarti orang tersebut cuma kelihatannya doang pinter, padahal sebenarnya gak pinter.

Ini namanya logika kata. Biasanya, ucapan yang diawali atau ada terselip kata ‘sebenarnya’ berarti gak benar. “Sebenernya aku udah bangun pagi kok. Cuma karena ngantuk jadi tidur lagi”. Ah, itu sama saja dengan gak bangun pagi alias bangunnya siang. Coba deh cermati orang-orang yang lagi ngomong. Jika ada kata ‘sebenarnya’, pasti jarang benar. Hehe..

Saya sering sekali memeperhatikan dengan cermat ketika ada orang lain yang sedang berbicara, baik itu kepada saya ataupun hanya sekadar mendengar ocehan orang lain. Biasanya karakter orang bisa dilihat dari cara dia berbicara dan menggunakan kata. Bicara adalah produksi kata-kata sehingga menjadi kalimat pesan yang disampaikan kepada lawan bicara. Seperti itu makna sederhananya. Dari ucapan tersebut kita bukan hanya tahu apa pesan yang mau disampaikan, melainkan juga karakter si pembicara atau si pembawa pesan.

“Mungkin nanti saya akan berusaha keras untuk mendapat nilai bagus.”

Atau

“Kalau saja tidak hujan, mungkin saya akan ke tempatmu.”

Selanjutnya kata ‘mungkin’. Seorang yang sering berbicara dengan menggunakan kata ‘mungkin’ biasanya tidak yakin. Kata ‘mungkin’ setidaknya mengindikasikan bahwa orang tersebut tidak optimis atau menunjukan ketidakyakinan akan sesuatu hal. Menandakan usaha yang setengah-setengah jika kita menyelipkan kata ‘mungkin’ dalam pembicaraan kita. Saya yakin jika kita dapat menghilangkan kata mungkin dalam ucapan kita, maka ada nada optimisme yang bakal muncul. “Kalau tidak hujan, saya akan ke tempatmu”. Itu contoh berikutnya dari logika kata.

Memperhatikan detail setiap kata dari pembicaraan orang lain adalah satu rumus komunikasi efektif. Apalagi jika kita terlibat dalam perlombaan debat. Penggunaan kata ‘mungkin’ dan ‘sebenarnya’ lebih baik dihindari. Karena lawan debat bakal membantai habis-habisan argumentasi kita jika dua kata itu nyelip dalam argumen yang disampaikan. Kelihatannya sih sepele. Tapi, kata-kata itu juga bisa jadi cerminan karakter seseorang. Kata ‘mungkin’ menunjukan ketidakyakinan atau pesimisme, dan kata ‘sebenarnya’ mengindikasikan sesuatu pesan yang tidak benar.

So, hati-hati kalo bicara🙂