Global Warming Vs Pohon Keramat

Posted on April 27, 2013

0



Sampah Visual Di Pohon (dok. klosetide)

Apakah bisa masyarakat berperan dalam pelestarian hutan dan lingkungan? Saat pertama kali membaca tema dalam lomba blog soal hutan terus terang saya agak bingung. Bertanya-tanya apakah memang bisa. Cukup menggelitik nurani jika masyarakat seperti ditagih kembali soal kontribusinya untuk hutan. Emangnya masyarakat gak punya kontribusi ya? Apakah sekarang masyarakat sebegitu cueknya sehingga perlu ada refreshing bagaimana ia juga wajib berpartisipasi dalam melestarikan lingkungannya?

Atas dasar hal tersebut, baru-baru ini saya dan teman-teman di Komunitas Lingkar tengah getol-getolnya mengkaji soal lingkungan. Bukan sok-sokan Go Green atau sokpeduli lingkungan. Hanya saja, kami berpikir jika harus ada Earth Hour action itu artinya bumi sudah dalam kondisi yang kritis. Keadaan bumi sudah menginjak stadium 2 atau bahkan stadium 3. Bumi tak lagi hijau sehingga untuk mengobatinya perlu satu jam memadamkan listrik. Jika bumi sudah dalam status stadium 4 barangkali bisa adaEarth 24 Hours action. Semoga tidak.

Kita dapat membayangkan betapa mahalnya ongkos dalam mengganti kerugian akibat adanya perusakan hutan dan lingkungan. Environmental Cost (EC) menjadi hutang pribadi yang wajib juga kita lunasi. Mulai dari konsumsi kertas, produksi sampah, menempel iklan di pohon, sampai pada pembalakan liar (illegal loging) adalah bukti yang tidak disadari oleh kita. Lalu, apakah kita ingat atau sadar akan hal tersebut? Rentetan perilaku menyimpang tersebut adalah sebagai indikasi minimnya kesadaran kita akan lingkungan hutan. Kita nyata-nyata telah memperkosa hutan, dan parahnya lagi itu tidak kita sadari.

‘Social Assessment for Environmental Awareness’ (SAVIOR), adalah satu gerakan kecil yang saya dan teman-teman di Komunitas Lingkar lakukan di Jatinangor. Harapannya cukup simpel, yakni bagaimana caranya kita semua sadar akan pentingnya kawasan hijau—atau setidaknya kita sadar bahwa kita sebagai pelaku utama perusakan itu. Metode riset kecil berupa penyadaran akan kawasan hijau dan juga aksi ‘3 R Society’ (Reduce, Reuse, Recycle Society) masuk dalam agenda SAVIOR tersebut. Capaiannya sederhana, yakni membuat masyarakat sadar dulu. Jika sudah demikian, maka partisipasi juga akan dengan sukarela dilakukan.

Pendekatan Sosio-Kultural

Kelakuan kecil ini jika dibiarkan dapat menjadi perilaku umum yang fatal akibatnya. Adalah menempel papan dan spanduk iklan atau kampanye di pohon. Semenjak pemerintah memberlakukan pemilihan kepala daerah langsung (Pilkada), ‘aksi’ tempel media kampanye di pohon menjadi inspiratif. Saya yakin, kita semua tentu pernah melihat itu. Dahulu paling banter kita lihat iklan ‘Sedot WC’ atau ‘Les Privat’ menjadi benalu bagi pohon. Tapi, kini para wakil rakyat pun ikut latah memasang foto kampanyenya di pohon. Mending kalo bagus? Tapi, mayarakat nampaknya permisif akan perilaku membuang sampah visual sembarangan di pohon tersebut.

Antara usil, iseng, atau memang mayarakat tidak sadar. Beragam kemungkinan yang melatarbelakangi tindakan keliru tersebut lalu mengemuka. Tapi, yang jelas bukan soal alasannya, karena yang terpenting adalah soal kuantitasnya. Hal ini memang kecil dan sepele, tapi Anda dapat bayangkan berapa jumlah partai yang ada di indonesia. Atau berapa banyaknya pengiklan yang latah dan keliru memasang media promosinya di pohon. Ketika tindakan ini sudah jamak dan masif dilakukan, bukan cuma sampah visual yang mengganggu mata, tapi juga menjadi benalu yang dapat merusak keasrian kota.

Rasa-rasanya ekspektasi kita akan adanya Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang benar hijau dan asri harus diredam untuk beberapa saat. Alih-alih melakukan tindakan besar untuk pelestarian lingkungan, wong yang kecil dan sepele saja kita masih sering khilaf. Sesuai pesan AA Gym, mulai dari yang kecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai sekarang perubahan dilakukan. Pelestarian hutan pun harus dilakukan atas dasar kesadaran dan juga dari hal-hal kecil yang efektif. Hutan adalah kumpulan pohon, jika satu pohon saja sulit dijaga bagaimana mungkin menjaga hutan. Pembalakan liar barangkali hanya tindakan seporadis dengan kuantitas yang besar. Tapi, memaku media promosi di pohon-pohon adalah tindakan kecil yang masif yang dapat mengancam kelestarian hutan dan lingkungan.

Atas dasar bahwa kita hidup di dalamnya dan mengambil manfaat darinya, maka sudah sepatutnya tindakan penyelamatannya pun harus dilakukan oleh kita. dalam kontek ini, masyarakat tentu butuh diedukasi akan peran dan kontribusinya akan kawasan hijau, bukan hanya sebatas penyuluhan soal bahaya perusakannya saja. Pemerintah harus memberikan kejelasan ias terhadap status atas 33.000 desa yang berada di dalam atau di sekitar hutan di seluruh Indonesia (hutanindonesia.com). Mereka yang menepati area hutan mereka pula lah yang harus menjaganya. Barangkali demikian maksud dari adanya kebijakan pemerintah tersebut.

Kita tentu masih ingat pemerintah pernah mengusung program ‘1 Man 1 Tree’, satu orang tanam satu pohon. Tapi, tunggu dulu. Bagaimana mau menanam ketika kasadaran saja rendah. Saya jadi berpikir beberapa desa yang menjadikan kawasan hutan sebagai tempat hidupnya terkadang lebih patuh dalam melestarikan hutan. Seringkali, mitos pohon keramat atau label ‘pohon berpenunggu’ lebih ditakuti oleh masyarakat ketimbang isu pemanasan global (Global Warming). Isu pohon keramat lebih efektif dalam mencegah pembalak dalam mencuri kayu daripada wacana pemanasan global. Masyarakat adat cenderung lebih patuh akan adanya larangan menebang pohon dengan warning tersebut, apalagi jika instruksi tersebut dilakukan oleh Kepala Adat, misalnya. Poinnya adalah pada sampai sejauh mana pemerintah kenal dengan masyarakat, sebelum mengajaknya untuk berpatisipasi dalam menjaga hutan.

Saya rasa ketika pemerintah kemudian memberlakukan kejelasan akan status ias kepada masyarakat kawasan hutan, strategi tersebut patut dicoba. Bukan bermaksud untuk bermain-main dengan mitos, tapi ada baiknya juga pemerintah memahami sosial budaya yang ada di masyarakat tersebut. Tindakan pertama yang wajib dilakukan adalah kenali dulu masyarakatnya sebelum mengenali kawasan hutannya. Pendekatan sosio-kultural dalam pelestarian hutan bisa jadi lebih efektif, atau bahkan telah terbukti efektif, daripada ‘meneror’ masyarakat dengan isu keilmuan (scientific approach) yang sulit dipahami oleh masyarakat kita. Jika masyarakat kita adalah masyarakat adat, tak ada salahnya pendekatannya pun harus melalui pendekatan budaya (socio-culture approach).

Posted in: Article, Go Green