Kartini Dablek

Posted on April 22, 2013

0



Kartini (dok. klosetide)

Akhir-akhir ini bayanganmu kembali menggelayuti pikiranku. Aku tak yakin bakal mengarungi masa depan denganmu. Tapi, entah kenapa kau seperti tak pernah capek menggantung di dahan imajiku. Untuk yakin saja aku tak sanggup. Apalagi jika harus bersamamu. Hmm.. Entar dulu deh!

Terus terang aku simpati kepadamu. Lebih tepatnya kasian mungkin. Sempat dulu kau menjadi doping untuk setiap aktivitasku. Menjadi energi yang menjadikanku benar hidup. Tapi, sekarang entahlah. Keadaan serba tak tahu dan tak menentu terus menerpa hati. Belum mau ambil keputusan untuk iya atau tidak. Hari-hari ini hati menjadi begitu berat untuk berpihak. Seperti memikul sebongkah batu kata-kata yang sulit sekali diucap.

Iya. Aku kasian melihatmu kini. Berbalik kepada masa lalu, sedangkan ia tak serius menatapmu. Ia hanya tertarik kepada tampilanmu dulu yang serba indah. Tapi, kini giliran tak lagi indah dipandang kau dicampakkan begitu saja. Malahan ia kini menggandeng keindahan yang lain. Apa sih maumu. Hey.. Sadar! Ia tak pantas mengisi relung hatimu. Sudahi saja kegundahanmu. Jika terus seperti itu kau bakal terus merintih. Simpan air matamu untuk hal-hal yang penting saja nanti.

Ah, tapi apa boleh buat. Toh aku bukan siapa-siapa buatmu. Apa mau dikata, aku juga tak lagi ada urusan denganmu. Tapi, boleh khan jika ada sebentuk perhatian? Sekadar bersimpati. Aku tak ingin melukaimu. Melukaimu? Sinting! Ah, apa sih aku ini. Ngapain masih saja memperhatikanmu. Kita khan biasa saja. Berteman tanpa rasa, lebih tepatnya. Ngapain juga harus ikut campur urusan orang. Tapi, perasaanku ini yang tak bisa mengacuhkan kekalutan yang tengah menimpamu. Apa yang kini kau hadapi memang sudah jadi suratan. Tapi, aku tak bisa tinggal diam melihatmu lunglai kini.

Kau yang dulu diselamatkan dengan uluran hatiku. Dan, nyaman bersamaku. Tiba-tiba saja badai datang tanpa diminta. Hadir begitu saja. Aku juga tak tahu mengapa. Langsung saja kita seperti terpisah ribuan kilometer jauhnya. Padahal kita begitu dekat minggu lalu. Iya, dekat. Ah sudahlah. Semua sudah berakhir. Aku tak tahu bagaimana caranya pesan ini sampai kepadamu. Sudah ribuan cara untuk mengalihkan perhatianmu kepadanya. Tapi kau tetap saja menatap kenangan lalumu. Sekarang aku sudah kehabisan cara. Kau keras kepala!

Aku heran dengan keteguhan kosong hatimu itu. Mau-maunya kau takluk dalam pekat. Tak habis pikir kau mencelupkan lagi nuranimu kedalam gelapnya masa lalu. Kau sudah pernah terjatuh. Dan, kau ulangi lagi itu. Ah, seperti keledai saja kau ini. Konyol! Kau sudah lihat seperti apa perangainya. Tapi, kau seperti tak ambil pusing dan menutup mata akan jalan remang yang kau telah tapaki. Jika keledai pun muak dengan jalan tandus itu, kenapa kau tidak? Kau malah menapakinya lagi dan lagi. Terjerembab entah keberapa kalinya dalam lubang yang itu-itu saja. Dasar *&%^$#!

Kesal sekali jika aku harus melihatmu sepaket dengan kelakuan konyolmu itu. Kemarin kau lihat sendiri khan? Ia dengan cueknya menggandeng hati lain. Itu terjadi tepat didepanmu. Buatku, itu seperti uppercut yang dihujamkan seorang petinju kepada lawannya. Dan aku yakin dengan posisimu yang sekarang, kau pasti langsung terhuyung. Jatuh menunggu hitungan dari wasit. Pasrah! Pukulan telak tepat hadir di depan wajahmu yang ‘suci’ itu. Tapi kau tak kenal lelah. Kedunguanmu masih saja menjadi malaikat kecilmu yang menemanimu kemana saja hatimu bermain. Hey.. Kau KO sekarang. Sudahlah, akhiri saja pertandingan hatimu yang keliru itu.

Kau habis kini. Beberapa pukulan telak menghujanimu akhir-akhir ini. Tuhan punya cara sendiri buat menegurmu. Dan, dengan cara itu kau seharusnya malu. Hatimu bukan terbuat dari baja yang tahan banting dan tahan pukul. Tapi, aku tak yakin itu membuatmu kapok. Kau ini kaum Hawa. Dan, pukulan yang bertubi-tubi itu pasti saja hanya menghentikanmu sesaat. Hanya sesaat. Paling juga dalam hitungan jam. Setelah itu, kuyakin beribu persen hatimu pun bakal kangen dihujani pukulan itu lagi. Mengembarakan hatimu kepada mahluk yang satu itu. Mahluk yang hanya mengincar kenikmatan ragawimu saja. Tak lebih.

Ah, cinta memang selalu bicara dalam bahasa yang ambigu. Kenapa selalu saja aku ikut hanyut dalam kekalutanmu itu. Apa pentingnya kau buatku. Tapi, bagaimana perasaanku tak ikut campur. Kau pernah spesial buatku. Dan, dengan itu kau tak bisa lepas begitu saja dalam ingatanku. Kau benar-benar bandel. Seperti noda yang susah banget lepas dari serat-serat bajuku. Meski bertubi-tubi kucekan dan deterjen sudah kutumpahkan, tetap saja kau masih menempel. Aku kesal. Harus aku cuci pakai apa noda yang menempel di perasaanku ini. Masa iya aku harus mengguntingmu? Iya sih hilang nodanya. Tapi baju ini tak lagi indah. Tak pantas lagi disebut baju. Sudah compang-camping tentu.

Kau ini Kartini macam apa. Setahuku Kartini itu tangguh. Dia memang selalu berpeluh tak mudah mengeluh. Hatinya pun jauh dari keruh. Dia kukuh dengan jalan hatinya. Sehingga dia bisa terus teguh. Kau seharusnya malu. Kau itu juga Kartini. Tapi, Kartini dablek. Kartini yang sama sekali tak belajar dari gelap. Habis gelap terbitlah pekat. Bukan belajar mencari terang dikala ditimpa keremangan hati. Kau Kartini yang salah asuhan. Kau praktis tak mampu menyerap ilmu dari manisnya anggur yang kau minum dulu. Kau seharusnya tahu betul jika anggur itu memabukan. Jika kau terus meminumnya, manisnya justru bakal membuat hatimu sempoyongan.

Aku capek. Ini hari ulang tahunmu. Tapi, aku sama sekali tak akan mengucapkan selamat kepadamu. Jangan harap sepatah kata bakal keluar dari mulutku. Itu tak mungkin. Karena ku yakin itu sia-sia. Hey.. Aku cuma minta kau sadar dari tidurmu!

Posted in: Short Story