Siapa Susah?

Posted on April 14, 2013

0



Senyum ceria anak desa (dok. klosetide)

Senyum ceria anak desa (dok. klosetide)

Belakangan ini saya agak risih dengan tayangan eksploitatif kemiskinan di televisi. Beberapa program televisi jelas tidak edukatif dan terkesan bertendensi negatif. Kemiskinan sering jadi komoditas demi meraih simpati publik. Memberitakan masyarakat kelas bawah dengan segala macam kesusahannya. Sajian tayangan tentang kemiskinan masyarakat pedalaman kian masif beredar. Seperti menjadi santapan wajib tiap channel. Apakah saudara kita itu sebegitu menderitanya sehingga harus berlabel “Menggapai Asa”, “Jika Aku Menjadi, “Orang Pinggiran”, dan harus di “Tolong” dan di “Bedah Rumah” nya?

Pernahkah terlintas dibenak kita bahwa mereka sejatinya senang-senang saja dengan hidupnya? Media terkadang suka sekali mem-blow up berita yang mengharubiru. Condong mengangkat berita ‘Orang gigit Anjing, daripada Anjing gigit Orang’. Berharap rating tinggi atas dasar air mata penonton. Bisa jadi mereka itu hidupnya baik-baik saja. Toh, tiap hari dapat makan. Mereka hidup layak, meski kemudian harus bersusah payah mengais receh. Hanya gara-gara pemberitaan yang masif dan diangkat ke layar kaca mereka jadi terlihat kasihan dan seperti mengiba.

Saya lahir dan dibesarkan di desa terpencil. Dan, beberapa kali saya pun terjun ke masyarakat pedalaman. Saya tidak melihat kesusahan dari mereka itu. Pancar mata bahagia justru terlihat karena mereka hidup adem ayem. Seperti tak ada yang salah dalam hidup mereka. Indonesia ini kaya kok. Gemah ripah loh jinawi. Lalu kenapa harus berkeluh kesah? Jangan lihat dari pekerjaannya yang petani atau bercocok tanam di ladang. Toh kebahagiaan tak linear dengan materi. Mereka itu bahagia-bahagia saja. Tak peduli berapa harga sekilo bawang, berapa harga sembako, dan tak dipusingkan berapa banyak uang mereka yang dijambret wakilnya di Senayan sana.

Stop mengiba karena mereka tak layak diberi air mata. Yakinlah jika sejatinya mereka jauh lebih bahagia ketimbang kita yang di kota. Semua ada disana tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam. Sedangkan disini semua harus ditukar dengan materi. Disana bukan disini. Jangan percayai konstruksi media yang seringkali keliru, apalagi dalam memandang kebahagiaan dan kesengsaraan. Lihat saja binar mata orang-orang desa yang sering jadi komoditas kemiskinan media. Mereka tak menampakkan raut muka kesedihan sedikitpun. Kita yang disini yang patut dikasihani, bukannya meraka yang disana.

Pernah suatu ketika ada seorang petani yang saya tanya;

“Sekali panen dapat berapa banyak, Pak?”

Sang Petani lalu menjawab,

“Sekali panen bisa dapat 15 juta, Mas. Dari masa tanam sampai panen itu butuh 3 bulan. Kepotong sama biaya rawat, buruh tani, dan pupuk itu sekira 5 juta. Jadi bisa dapat bersihnya 10 juta.” Ia menjelaskan.

“10 juta dalam waktu 3 bulan, Pak?” saya mencoba berhitung.

“Iya, Mas.” Tegas ia menjawab.

Coba kita selami cerita tersebut. Jika Sang Petani berpendapatan 10 juta dalam 3 bulan, itu artinya ia mengantongi bersih 3 juta-an per bulannya. Mereka tak dipusingkan dengan cicilan apartemen, kredit kendaraan, dan impian beli gadget terbaru. Coba kita bandingkan dengan gaji karyawan atau PNS sekalipun yang hidup di kota besar. Bisa jadi sama bahkan lebih besar dari mereka yang bekerja tetap. Soal kesejahteraan, jangan ditanya. Di desa apapun ada. Semua alami. Semua ada tinggal cari di ladang. Lalu, sisi mana sengsaranya?

Jelas-jelas media menggiring persepsi kita akan kesedihan dan kesengsaraan. Tayangan yang masif akan masyarakat pedalaman yang kurang terakses oleh tangan pemerintah menjadikan kita mengiba. Konstruksi kebahagiaan dibangun diatas pondasi kota, karier, mobil, gadget, pernak-pernik, dan materi semata. Sedangkan mereka yang di desa diidentikan dengan kemiskinan, kesengsaraan, dan kesedihan. Ini jelas salah kaprah. Desa ataukah kota dimana angka bunuh diri karena depresi (stres) melambung tinggi?

Televisi sebagai media yang seharusnya punya tugas mengedukasi masyarakat malah menyajikan berita yang tidak berimbang. Misi dan prinsip cover both side seperti diacuhkan demi raihan simpati sponsor dan rating. Menjual kemiskinan dan menjadikannya sebagai komoditas bagi mereka. Masyarakat pedesaan pun seperti digiring untuk mengidolakan gaya hidup urban dengan segala instanitasnya. Disisi yang lain orang-orang perkotaan justru berbelok arah kembali ke desa (back to nature). Jika sudah seperti ini mana yang sengsara. Mereka yang di pedalaman ataukah justru yang berdesakan di kota besar. Siapa yang susah?