Knowledge Vs Character

Posted on April 10, 2013

2



Albert Einstein (dok. store.notoriousteaze.com)

Albert Einstein (dok. store.notoriousteaze.com)

‘Knowledged is Power, Character is More’

Satu ketika Mbah Maridjan terlelap usai tunaikan Sholat Ashar di surau dekat rumahnya di lereng Merapi. Hari itu Merapi sudah berstatus ‘Awas’. Sebagian warga telah diungsikan dari lereng Merapi. Hanya Mbah Maridjan dan beberapa orang saja yang masih berada di dusunnya—yang tak jauh dari Merapi. Dan, sore itu tepat disaat Mbah Maridjan terlelap, salah seorang warga kemudian masuk ke dalam surau untuk membangunkan Sang Kuncen Merapi itu.

“Mbah.. Mbah.. Bangun. Cepat, Mbah. Merapi meletus!”

Mbah Maridjan terbangun sigap, dan sambil mengucek matanya berkata, “Yo wis ben. Lha wong itu koncoku kok,”

“Cepat ngungsi Mbah. Wedus gembel sampun mudun!” paksa salah seorang warga kepada Sang Juru Kunci Merapi.

“Kowe selak mlayu o. Ora sah ngenteni aku,” Mbah menyilakan, “Kono mlayu o.”

“Tapi wedus gembel sudah dekat lho, Mbah!”

“Ikuti apa kata pemerintah. Aku iki wong bodho. Kae wong pinter, sopo ngerti bener!”

Sebab Sang Mbah tak mau beranjak sang pembawa kabar pun lalu segera beranjak keluar surau dan mengungsi cepat.

Mbah Maridjan lalu keluar surau. Masih sambil mengucek-kucek matanya ia memandang kearah Merapi. Sayup-sayup ia melihat wedus gembel sudah menuruni lereng Merapi. Secepat kilat, aliran lava menyongsong Sang Kuncen. Sekira 200 m lagi kepulan awan panas pasti saja menghampirinya. Dan, seketika itu Sang Mbah lalu reflek menyapanya,

“Assalamualaikum.. Assalamualaikum.. Assalamualaikum..” Mbah mengucap salam tiga kali kearah wedus gembel.

“Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Allahu Akbar..” kemudian diikuti oleh takbir. Mbah masih dalam posisi sama, dengan tangan melambai layaknya seseorang yang menyapa teman akrabnya.

Seperti tak sabar, luncuran kepulan awan panas bak lokomotif supercepat menghampiri Sang Juru Kunci Merapi itu. Nalar manusia berkata; dalam hitungan detik wedus gembel tentu bakal menyapu Sang Mbah dengan sekali gilas. Tapi, ternyata kali itu nalar tak lagi tepat. Kepulan awan panas itu tiba-tiba terpecah menjadi dua, tepat beberapa meter sebelum surau tempat Mbah Maridjan berdiri.

Takbir Sang Mbah bak pedang yang membelah kepulan awan panas itu. Meluncur cepat tak kenal siapapun, terkecuali petak Mbah Maridjan berdiri. Seperti bercanda, wedus gembel yang terbelah dua itu lalu menyatu kembali setelah melewati tempat Mbah Maridjan berdiri. Kemudian terus saja meluncur sampai pemukiman warga lainnya. Tak kenal ampun, kali itu wedus gembel benar-benar membumihanguskan lereng Merapi. Pemukiman warga seketika luluhlantak. Kecuali satu, Sang Kuncen.

***

Itulah sekelumit cerita dibalik gempa Jogja Mei 2006 silam. Adalah Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) yang dengan apiknya menuturkan cerita terselamatkannya Mbah Maridjan saat gempa Jogja 7 tahun lalu. Adalah Tuhan Yang Maha Kuasa atas jiwa-jiwa kita. Semua milik-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Kita pun wajib bijak memaknai gerangan apa yang terjadi dibalik cerita tersebut. Bukan lantas meyakini dengan sepenuh hati jika Mbah Maridjan itu sakti mandraguna.

Apa gerangan yang terjadi kok bisa-bisanya Mbah Maridjan membelah wedus gembel yang terkenal beringas itu? Jika peristiwa itu ditelan mentah-mentah, maka akan ada pikiran seperti ini; “Betapa saktinya Sang Mbah sampai-sampai wedus gembel pun takluk!” Bukan! Bukan seperti itu. Sekilas, memang cerita ini mirip dengan kisah Nabi Musa AS yang membelah lautan saat dikejar oleh Bani Israel. Tapi, Mbah Maridjan bukan Musa AS, pun nabi yang punya mukjizat. Ia hanya orang biasa layaknya kita.

Lalu? Hmm.. “Mbah Maridjan itu orang yang bersih hatinya. Sama sekali bukan orang sakti” Begitu kata Cak Nun. Ia ditolong oleh Allh SWT kala itu. Dan bagi siapapun orangnya yang bersih hatinya pertolongan itu pasti akan hadir tanpa diminta. Allah yang kuasa atas segalanya. Begitulah cara kita mengimani kisah tersebut. Sang Mbah memang bukan orang tamatan pendidikan tinggi. Tapi ia bersih hatinya. Ia adalah orang yang mendapatkan ilmu dari kehidupan (‘ilmul hayyat), bukan ilmu dari sekolah (‘ilmul madrasah).

“Orang yang belajar dan mendapat ilmu sekolah harus belajar pada orang yang mendapat ilmu kehidupan. Dan orang yang punya ilmu kehidupan juga harus mendengarkan orang yang mendapat ilmu dari sekolah” Cak Nun lantas melanjutkan petuahnya. Inilah beda pengetahuan dan karakter. Knowledged is power, but character is more!

“Melu o pemerintah. Kae ki wong pinter, sopo ngerti bener. Aku ki mung wong bodho” (Ikuti kata pemerintah. Mereka itu berisi orang-orang pintar. Siapa tahu benar. Aku ini cuma orang desa yang polos). Itulah pesan Almarhum Mbah Maridjan kepada kita. Orang pintar, siapa tahu benar. Coba cermati. Kalimat itu menarik. ‘Siapa tahu benar’. Kalimat ini retoris. Barangkali, sejatinya Mbah ingin menguji nurani kita dengan pertanyaan itu. Sekarang kita bisa saksikan mana yang benar, orang pintar atau orang yang bodho?

Sudahlah. Di negeri ini sudah banyak orang yang pintar. Benar-benar pintar atau sekadar mengaku pintar. Toh bangsa ini enggan beranjak dari keterpurukan. Menjamurnya korupsi, saling tipu, menyembunyikan kebenaran, saling sikut, saling tuduh, kesombongan yang diumbar, adalah rentetan bukti perbenturan kebodohan orang-orang pintar. Bukan orang bodho yang melakukan itu semua, saya yakin itu. Tapi orang pinter yang keblinger.

“Science without religion is lame, religion without science is blind”

Albert Einstein