Fashion Or Passion

Posted on April 8, 2013

0



Passion or Fashion (dok phuketnews)

Passion or Fashion (dok phuketnews)

Hidup di Bandung terus gak melek fashion? Hmm.. Kira-kira malu gak ya. Semua orang pasti tahu kalo Bandung tuh pusatnya mode Indonesia. Kota Kembang ini sudah kesohor sebagai kota fashion. Namanya juga Parisj Van Java alias Paris-nya Jawa. Bahkan bukan cuma di Jawa atau Indonesia. Kota dengan hawa dinginnya ini juga terkenal sampai mancanegara. Saya gak tahu pasti kapan penyebutan Parisj Van Java lahir, mungkin sejak jaman penjajahan dulu. Tapi, yang jelas penyebutan pusat mode emang layak disandangkan pada Kota Kembang yang satu ini.

Ngomong-ngomong soal fashion, saya barangkali bukan orang yang fashionable. Kalo kata teman-teman sih saya ini katro alias gak gaul soal dandanan. Hehe.. Pakaian yang dikenakan ya itu-itu saja. celana yang itu-itu doang, jeans sobek nan lusuh. Kesan urakan yang tampil itu yang akhirnya melahirkan sebutan katro. Padahal, maksud fashion adalah kenaan yang melekat di tubuh kita. jadi, meski kesan urakan dengan pakaian kumal sejatinya itu juga fashion. Hanya saja timing-nya gak tepat, karena pakaian model gitu itu dipakai sama orag-orang jaman 80-an dan 90-an.

Mereka yang dikatakan fashionable adalah mereka yang mengikuti tren pakaian masa kini (up to date). Nah, oleh sebab mengikuti laju jaman itulah kata fashionable dan katro itu muncul. Sekarang jamannya orang sudah pake celana pencil. Mereka yang pake celana gombrang berarti gak fashionable. Disebut sebagai orang yang katro alias gak melek mode sudah jadi satu ketakutan melebeihi takutnya orang yang akan dieksekusi mati. Muda-mudi kini lebih takut dibilang gak gaul dibanding dibilang gak pinter (bodoh). Yah namanya juga jaman yang selalu mengikuti apa yang kebanyakan. “Ih gak gaul banget sih lo!” katanya gitu. “Emang masalah buat lo!” Hehe..

Eh, bicara soal Bandung kota yang satu ini juga terkenal dengan passion-nya lho. Bukan cuma melek mode, muda-mudi Bandung juga melek passion. Maksudnya mereka itu kreatif, beda, dan berbahaya. Hehe.. Di kota ini fibrasi kreativitasnya sangat kencang terasa. Mulai dari tata kotanya, komunitas kreatifnya, atau bahkan kulinernya. Orang-orang macam Ridwan Kamil, Andi /Rif, dan Tisna Sanjaya inilah yang berkontribusi menjadikan Bandung kesohor sebagai Kota Kreatif. sampai-sampai Presiden SBY juga menjadikan Kota Kembang ini sebagai Pilot Project pengembangan ekonomi kreatif pada tahun 2009 silam. Hmm.. Hebat ya!

Bicara soal passion berarti juga bicara soal kreativitas. Kreatif muda Bandung tak henti-hentinya membombardir Kota Bandung dengan amunisi kreativitasnya. Jika mau dirunut dari 15 subsektor ekonomi kreatif, Bandung memiliki semuanya. Mulai dari fashion, desain, musik dan film, radio, foto video, perangkat komputer, sampai kuliner ramai di kota yang tenar juga dengan sebutan Kota Kreatif ini. Selain Jogja, Bandung pun menjelma menjadi pusat rujukan bagi orang-orang yang ingin mengungkapkan kreativitasnya. Banyak dari mereka menjadikan Bandung sebagai tempat hidup sekaligus tempat menghidupkan passion. Inilah komposisi Bandung yang ‘Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh, dan Silih Kreatif’.

Well.. Bagaimana nasib Bandung 5 atau 10 tahun kedepan? Kita tunggu saja episode demi episode Kota Kreatif ini. Ibarat menonton sebuah film box office, menanti kelanjutan cerita tentang Bandung tentu saja bakal menarik perhatian mata akan bebasnya passion beraksi. Mereka yang fashionable dan passionable sama-sama punya ruang ditempat ini. Toh penyebutannya pun sama. Keduanya sama-sama dibaca ‘pesyen’, sebab orang Bandung (baca: Sunda) gak bisa bilang ‘F’ atau ‘V’. Jadi menyebut fashion dan passion akan terdengar ‘pesyen’. Meski buat saya pribadi lebih memilih dibilang gak fashionable ketimbang gak passionable.

Selamat ber-passion ria!🙂