27

Posted on April 1, 2013

0



Indonesia Butuh Aku (dok. klosetide)

Indonesia Butuh Aku (dok. klosetide)

Selepas Isya tanggal 30 Maret lalu hape saya berdering. Di layar muncul sebuah nama. Orang rumah, kataku.

“Assalamualaikum,” salam dari suara perempuan memulai obrolan.

“Alaikumsalam,” jawabku.

“Selamat ultah ya, Mas.” Katanya.

“Emang kenapa, Bu?” saya agak telmi (telat mikir).

“Kamu khan ultah besok, tanggal 31 Maret,” katanya meyakinkan.

“Oh iya ya..” saya masih agak bingung, “tapi khan ini masih tanggal 30—kayaknya.”

“Iya. Lebih awal khan lebih baik. Lagian Ibu gak mungkin nelpon tengah malam nanti,” kemudian melanjutkan, “jadi ya nelponnya sekarang.”

“Hehe.. Iya, makasih, Bu.”

Jujur, perbincangan itu based on true story lho! Hehe.. Tak satu pun kalender menempel di dinding rumah, jadi wajar sekali saya lupa hari itu dan lusa tanggal berapa. Hari saja saya lupa, apalagi tanggal. Damn! Saya seperti mengalami disorientasi tanggal atau semacam short term memory lost—penyakit yang diderita Leonard dalam Memento (2000). Hehe.. Saya ingat sekali jika saya lahir tanggal 31 Maret, tapi kali itu saya benar-benar lupa bahwa hari itu hari dimana saya dilahirkan. Ah, untungnya orang rumah masih ingat. Terutama Ibuku, seorang yang luar biasa tahu luar dalemnya saya ini. Thanks Mom.

Sekira 5 menit Ibu dan saya berbincang, sebelum akhirnya telepon itu diserahkan kepada sanak saudara. Dan, saya pun seperti diserbu oleh puluhan suara dan ucapan selamat dari adek, tante, om, dan orang rumah lainnya. Satu hape sejuta doa. Hehe.. Alhamdulillah. Lalu, pertanyaan yang muncul pertama kali setelah ucapan selamat adalah, “Kapan pulang?”. Hmm.. Kok saya jadi kayak Bang Toyib ya atau berasa Si Bolang (bocah jarang pulang) ya. Emang sih sudah 3 bulan ini saya tak menyambangi rumah, jadi wajar jika orang rumah kangen. Ok, i’ll go home (as soon as possible)—seperti biasa.

Barangkali dari sekian banyak requests, cuma itu yang agak sulit saya penuhi. Setelah hampir 10 tahun merantau ke tanah orang, saya jadi agak susah menentukan jadwal berkunjung ke tanah asal, Tegal. Kesibukan saya yang unschedule, karena saya bukan orang kantoran yang senin-jumat kerja dan sabtu-minggu libur, membuat hal itu sulit terlaksana. Malahan biasanya week end justru saya gawe. Hehe.. Maklum PNS—Pegawai Ngejar Setoran. Jadi suka seenaknya menentukan hari buat nyari duit.

Well.. Sudah 27 tahun saya menghirup udara kehidupan. Thanks God. Alhamdulillah, sudah pahit, manis, asam, asin, hambar yang saya lalui. Segala puji bagi-Mu Ya Allah, Raja dari segala raja, Penguasa Alam Semesta. Semoga saya senantiasa menjadi insan yang bersyukur dan bermanfaat buat sesama. Pesan orang tuaku ada 3. Pertama, sambung silaturahmi dengan siapapun. Kedua, relatifkan kesalahan. Dan, Ketiga, jadilah pribadi yang diharapkan masyarakat. Semoga saja saya juga senantiasa istiqomah dengan amanah tersebut.

Terimakasih Ibu, Bapak, Adek, Saudara, Teman, Kerabat yang telah capek-capek menumpahkan perhatiannya untuk seorang Edi. Tanpa kalian saya bukan apa-apa, dan dengan kalian saya dapat menjadi luar biasa. Jatah usia saya berkurang 27 tahun. Di sisa usia yang ada, yang telah Tuhan karuniakan, Insya Allah saya tetap istiqomah dengan jalan kebenaran dan menjadi powerful karenanya. Modal saya cuma 3 dalam hidup ini, mimpi, idealisme, dan Tuhan.

Dan keselamatan semoga dilimpahkan kepadaku (Isa ‘alaihissalam), pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”

(QS. Maryam: 33).

Posted in: Contemplation