Impossible is Nothing!

Posted on February 28, 2013

0



Fisip Unpad

Fisip Unpad (dok klosetide)

Saya berani bilang dalam tulisan ini jika pengalaman yang saya akan tulis terjadi hanya satu kali dalam seribu kesempatan. Hanya pada saya. Dan, saya sangat berharap ini tidak terjadi pada yang lainnya. Terimakasih. Nah lho! Terus mana kisahnya? Hehe..

Cerita saya soal masuk kuliah ini boleh dibilang langka alias aneh bin ajaib. Kalau kata orang Sunda ‘ajib’. Pernah dengar lagu /Rif yang judulnya ‘Salah Jurusan’ khan? Itulah yang saya alami. Bedanya, kalau /Rif bicara soal salah naik angkot sedangkan saya salah masuk jurusan kuliah. Tapi, selalu ada hikmah dibalik musibah. Kalau kata judul film jaman dulu, ‘Sengsara Membawa Nikmat’. Ternyata, setelah galau bin bimbang dulu, manfaatnya baru kerasa belakangan.

Saya akan bercerita dengan alur rada ngacak, mencoba meniru gaya ‘Memento’-nya Mas Christopher Nolan. Hehe.. Begini. Singkat cerita saya kebetulan dapat tes SPMB di Bandung. Saya dari Tegal, dan sudah dapat dibayangkan ikut tes di kota besar yang belum pernah sekalipun saya injak. Awalnya sempat memutuskan untuk tidak mau kuliah. Pengen coba nyari gawe dulu, baru lanjut studi. Tapi, ada seorang teman sebangku SMA yang baik hati membelikan formulir pendaftaran. Dan, karena sudah dibelikan jadi saya pun mengambil dan mengisinya.

Derita bermula dari sini saudara-saudara. Formulir yang dibawa dari Bandung oleh teman saya itu ternyata kehujanan. Sangking baiknya teman saya itu, keadaan formulir yang sudah kering keriput plus luntur kayak kulit seorang perempuan usia 70 tahun plus itu jatuh ke tangan saya. “Ini boy aku beliin formulir. Tapi, maaf kemarin kehujanan jadi aku jemur. Hehe..”  begitu kata teman saya. Saya terima dengan lapang dada. “Terimakasih” ujar saya lirih. Ya mau gimana lagi. Wong sudah dibeliin, ya terima saja. Lagian khan gratis juga. Indonesia banget ya. Hehe..

Seminggu kemudian, saya akhirnya memberanikan diri untuk menjenguk Kota Kembang seorang diri. Saya ikut nginep di rumah Om saya di Cibeureum, Bandung barang beberapa hari. Si Om menyambut saya dengan tangan terbuka, layaknya seorang Om kepada ponakannya. Kedatangan saya waktu itu hari rabu, dan si formulir harus sudah diserahkan hari kamisnya. Rada mepet memang, maklum irit ongkos. Hehe.. Paginya saya baru mengisi itu formulir. Saya buka pedoman SPMB yang disitu ada pilihan jurusan program studi juga. Dan, mulailah saya isi sesuai passion.

Saya pastikan memilih Jurusan Komunikasi Unpad dan satunya Jurusan Ekonomi Unsoed. Saya dari jalur IPS, jadi cuma boleh pilih dua. Sekali lagi saya yakin dan dengan sadar tanpa dibawah pengaruh alkohol atau obat terlarang saya pilih jurusan itu. Sampai-sampai pilihan jurusan dan kode jurusan saya garis pakai mistar. Make sure saja takut-takut nyasar jurusan, khan ribet. Akhirnya formulir usang nan luntur itu terisi sudah. Tapi, kegalauan tak terhenti sampai disitu. Saat itu kamis, itu artinya formulir harus sudah diserahkan ke panitia SPMB. Akhirnya saya melewatkan kamis yang menentukan itu.

“Kamu gak nyerahin formulir?” Om saya lalu melanjutkan, “bukannya ini hari terakhir penyerahan ya?”. “Besok juga masih bisa kok, Om,” saya jawab. Padahal memang kamis lah hari terakhir. Tapi, paginya hari jumat saya coba serahkan ke panitia yang waktu itu ada di Sabuga, ITB. Sebenarnya sih karena tak enak saja sama teman yang sudah membelikan itu formulir. Ujungnya saya pun dengan sadar menyerahkan formulir butut itu. Pagi buta saya sudah berada di Sabuga. Waktu itu baru jam 6 pagi, pintu Sabuga pun baru saja dibuka oleh satpam setempat. Saya nyelonong saja masuk.

Ada yang salah. Feeling saya bilang seperti itu. Saya buka tas dan mengambil formulir. Eh ternyata benar, saya salah membulati salah satu form isian. Langsung saya ambil penghapus untuk mengganti kesalahan itu. Karena buru-buru, sang penghapus terlalu kencang menari diatas kertas. Dan, sobeklah itu formulir. Sedikit sih, tapi itu fatal karena formulir itu bakal dibaca oleh komputer. Jika sudah seperti itu saya yakin 1000% komputer secanggih apapun tak akan sanggup membacanya. Ah, sial!

Enggan ambil pusing, selagi pintu masuk ruang Sabuga terbuka buru-buru saya hampiri. Saya dapat antrian pertama, karena masih pagi jadi masih sepi. “Ini kenapa, dek?”. Saya sudah menebaknya.  Panitia SPMB pasti bakal nanyain itu. Klise! “Kena hujan, Bu,” saya pun jawab dengan klise juga. “Yah ini mah udah gak bisa,” dia melanjutkan, “Adek harus beli lagi formulir”. Gimana mau beli ini saja saya telat ngasihnya. Lagian udah gak ada lagi yang ngejualnya. Emangnya segampang beli kacang. Saya bergumam saja dalam hati.

Saya menghitung menit di jam tangan, dan Si Ibu panitia SPMB itu sudah lebih dari 3 menit membolak-balik formulir itu. Saya heran melihat keheranannya. Saya yang punya saja heran apalagi ibu. Akhirnya kabar baik sampai di telinga saya. “Ya udah deh gak apa-apa. Coba aja siapa tahu bisa,” tegasnya sambil mengernyitkan dahi. Saya pun melenggang pergi dengan membawa kartu tes SPMB. Alhamdulillah.

Hari-hari terlalui. Dan, tes pun usai. Kini tinggal menunggu hasil saja. sebetulnya saya tak terlampau dipusingkan dengan pengumuman hasil. Toh ini Cuma sekadar iseng-iseng berhadiah. Nothing to lose. Lulus syukur, gagal juga Alhamdulillah. Saya sudah berjuang, soal hasil itu urusan Tuhan. Biar Dia yang menentukan hasilnya. Tinggal berdoa saja biar dapat yang terbaik. Saya pun menunggu.

Hari pengumuman tiba. Dan, hil mustahal pun terjadi. Saya ke warnet untuk melihat pengumuman itu. Muncullah deretan angka yang misterius. Saya lolos! That’s great! Saya catat nomor itu dan pulang. Saya buka buku panduan jurusan dan cocokkan dengan nomor kelulusan itu. Deretan angka itu mengarah pada tulisan ‘Ilmu Administrasi Negara’. Wat! Oh no. Kok.. Eh.. Kok.. Lho.. Saya terkaget-kaget, jujur. Saya gak milih itu, tapi kenapa?

Saya ke warnet sekali lagi dengan membawa serta buku panduan itu. Saya cocokan sekali lagi. Dan, memang benar ‘Ilmu Administrasi Negara’, bukan Ilmu Kominikasi atau Ilmu Ekonomi. Saya kembali ke rumah. Saya bilang ke ortu soal itu. Tak lama, saya pun memutuskan untuk ke Bandung memastikan sekali lagi di papan pengumuman dan koran. Semua sama, ‘Ilmu Administrasi Negara’. Ada apa ini? Apa saya salah ngisi jurusan? Ah, saya yakin tidak. Tapi..?

Mustahil itu Gak Mungkin

Saya akhirnya tetap mengambil jurusan itu, meski saya tidak tahu menahu apa itu Administrasi Negara (AN). Tapi, seperti kata Ibu saya, “Mungkin ini yang terbaik dari Tuhan”. Sudah terlanjur basah, mandi saja sekalian. Saya ambil, dan mulai berkuliah. Awalnya sih rada bingung. Mahluk macam apa itu AN. Sempat celingak-celinguk saat kuliah awal. Tapi, ya sudahlah—minjem lagu Bondan Prakoso. Pasti ini yang terbaik. Dan, Alhamdulillah kini saya lulus dengan nilai sangat memuaskan—meski salah jurusan, seperti kata /Rif. Hehe..

Saya ambil hikmahnya. Sebetulnya ini rahasia saya saja dan orang rumah. Tapi, berhubung saya tidak percaya dengan yang namanya kebetulan, jadi saya share saja. Lho kok bisa? Maksudnya gimana? Hehe.. Banyak kemungkinan soal lolosnya saya ke bangku kuliah. Ada yang bilang saya salah ngisi nomor/kode jurusan, ada lagi yang bilang salah si panitianya. Terserah deh. Semua bisa benar, bisa jadi salah semua. Poinnya adalah bahwa impossible is nothing—meminjam tagline Adidas. Kunci yang saya selalu gunakan dalam membuka misterinya kehidupan adalah keyakinan. Kalau kata Ustad Yusuf Mansyur, “Pupuk terus keyakinan Saudara. Insyaallah..”