Dosa Favorit

Posted on February 21, 2013

0



Dosa Favorit (dok. klosetide

Dosa Favorit (dok. klosetide)

Tahu kenapa setan dilemparkan oleh Tuhan ke bumi? Kepercayaan saya bilang bahwa jawaban pertanyaan itu adalah sebab kesombongan. Tuhan kesal sebab setan tak mau menurut ketika diperintah untuk menghormat kepada Adam. Setan justru beralasan bahwa ia sungguh patuh kepada Tuhan, yang menciptakannya, oleh sebab ia tak mau menyembah Adam—selain-Nya. Bukti kepatuhan setan adalah ketika ia tak mau menyembah selain Tuhan. Demi Tuhan Yang Esa, pun ia menolak perintah-Nya.

Mahluk Tuhan mana yang paling dulu menyembah-Nya selain setan? “Akulah mahluk Tuhan yang paling dahulu menyembah-Nya, dan beribadah kepada-Nya,” tegasnya, “aku tak mau menghormat kepada selain Tuhan, maka aku menolak menghormat kepada  Adam”. Tuhan Yang Esa mana berani aku menentang-Mu? Aku ini ciptaan-Mu. Dan, hanya kepada-Mu Sang Esa aku menghamba. Adam engkau ciptakan dari tanah, sedangkan aku dari api. Mana mungkin engkau perintahkan api mengalah pada tanah? Ah, aneh!

Sebentar. Tunggu dulu. Itu semua hanya negasimu saja, setan! Toh Tuhan tidak menyuruhmu untuk menyembah adam, melainkan hanya untuk hormat bahwa ia juga ciptaan-Nya. Bukan soal siapa yang hina, ini soal perintah dari Sang Maha Pencipta. Jelas artinya harus dilaksanakan. Nyata adanya jika setan itu ingkar. Ia terlempar dari surga-Nya sebab kesombongannya. Keangkuhannya atas dasar penciptaannya yang menutupi hatinya sehingga ia jadi seperti itu. Tak jadi soal itu api atau tanah. Toh, ini tentang sebuah perintah.

Tidak akan masuk surga bagi mereka yang masih menyisakan sebiji zarah pun kesombongan dalam dirinya! Tegas Tuhan berfirman. Lalu, apa kabar Pak Haji yang sombong? Politikus yang angkuh? Orang-orang kaya yang arogan? Bahkan si miskin yang sombong meski ia miskin? Apakah mereka itu mewarisi dosa favorit setan? Tuhan tentu tak sudi surga-Nya diisi oleh kesombongan. Jika semua berawal indah, maka indah pula akhirnya. Oleh sebab mahluk yang bernama kesombonganlah neraka bermula. Neraka yang favorit.

Ibarat itu makanan favorit yang sudah tentu kita memburunya. Tak ubahnya itu pakaian favorit yang pasti jadi kenaan setiap saat. Layaknya sepatu kesukaan yang kemanapun kita beranjak ia selalu serta menempel di kaki. Tak bedanya dengan pelajaran yang selalu kita tunggu untuk diikuti. Kita bicara soal kesukaan yang terus-menerus kita suka lakukan. Tak pandang waktu dan tak soal tempat. Mereka yang favorit akan selalu membersit. Biarpun kadang matahari terlalu ganas menyengat kulit. Toh, kita tetap ikhlas dan tak sadar ketika teriknya terasa mencubit.

Tuhan, kenapa Engkau mencipta dunia ini begitu kemilang? Kenapa harus ada kuasa yang dengannya kami serba ingin menguasai? Kami tahu jika ini hanya pernak-pernik. Kami sadar betul jika hiasan itu pasti indah. Tapi, kenapa ada ingin yang kemudian menjelma menjadi nafsu. Dan ketika kami turuti malah semakin menjadi. Ah, kami ini memang pandai bernegasi. Sudah semenjak awal penciptaan kami memang negator ulung. Bukannya patuh malah angkuh. Bukannya syukur malah ingkar. Biarlah kefavoritan itu terus ada. Biarlah.

Kami tetap terus menikmati. Kami yang masih suka bermain mata dibalik meja kerja. Kami yang masih suka menikmati derita sesama asal tetap berkuasa. Kami yang masih saja mainkan nota ketika adzan bergema. Kami yang tak hentinya menyiksa mahluk-mu yang lain demi isi perut sendiri. Kami yang telah berhaji tapi masih sisakan dengki dihati. Kami yang doyan putar balik fakta padahal kebenaran telah benderang depan mata. Kami yang lupa menghapus bekas gincu waktu puja-puji toa masjid mencumbu.

Seperti tak sadar meski kami tahu mana yang benar. Sembah dan ingkar jalan beriringan. Bergandengan enggan lepas bak muda-mudi dimabuk asmara. Hey aku, kamu, engkau, kita, kami, dan mereka, apa dosa favorit kalian?