Metamorfosis Upil

Posted on February 19, 2013

0



Metamorfosis Upil

Metamorfosis Upil

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Eits.. Jangan dulu berpikir aneh-aneh. Kok bawa-bawa ayat suci judulnya upil sih? Hehe.. sesuai makna ayat diatas, boleh jadi kita benci sesuatu, tapi justru itu baik. Jadi gini, kenal dengan mahluk yang bernama upil khan? Yup. Saya yakin semua kenal. Wong tiap hari dicari kok. Tapi anehnya mahluk yang satu ini begitu dicari, tapi setelah dapet malah dibuang. Hehe.. Upil emang ajaib. Memang dia ini kotoran, tapi kotornya itu sebagai akibat dari adanya sesuatu yang baik.

Begini. Upil itu layaknya mutiara. Proses tebentuknya sama. Sama-sama dari kotoran atau benda asing yang masuk ke teritorial tertentu. Bedanya satu, kalau mutiara itu harganya mahal, sedangkan upil sama sekali gak laku. Hehe.. Tapi toh dua-duanya sama-sama dicari. Saat debu dan tetek bengeknya tersedot sama hidung, lendir di lubang hidung menangkap basah mahluk asing itu. Seiring berjalannya waktu, lendir tersebut mengering dan mengeras membentuk gumpalan. Nah, gumpalan itulah yang familiar disebut upil.

Coba bayangkan kalo dunia tanpa upil? Pasti gak asik, setidak-asyiknya dunia tanpa musik. Upil memang sepele, tapi maknanya sungguh luar biasa. Jika hidung tidak dibekali dengan lendir, pasukan debu dengan gampangnya menembus pertahanan benteng pernapasan manusia. Dalam hitungan detik barangkali paru-paru kita sudah penuh dengan kotoran. Sebentar kemudian meledak. Dan, matilah kita! Jadi, berhentilah men-judge jika upil itu jijik. Kecil-kecil cabe rawit dia. Hehe..

Metamorfosisnya debu yang tertangkap lendir dan kemudian menjadi upil sungguh ajaib. Tuhan mendesain menusia dengan sangat sempurna. The perfect creatures! Dari kotoran pun kita bisa belajar. Ilmu itu ternyata tak hanya tersimpan dalam wadah yang bersih saja. Tak jarang, dalam wadah kotor pun terselip ilmu. Intinya satu. Kita mau menggalinya. Caranya? Tentu dengan membacanya. Iqra! Sekali lagi, apa yang kita anggap buruk bisa jadi itu baik. Begitu pula sebaliknya. Sesuai dengan ayat diatas tentunya.

Kekasih Upil

Mari belajar dari upil. Satu benda yang begitu dicari hanya untuk dibuang. Tak ubahnya seperti kita mencari kekasih. Ada orang yang begitu mudah mencari pasangan. Dan, ada juga yang sangat susah mencarinya. Ini dunia yang tidak flat. Ada yang mudah ada pula yang sulit. Ada yang lagi diatas ada pula yang dibawah. Bagi mereka yang selalu mudah, terutama dalam mencari kekasih, mereka barangkali diberkahi. Mereka yang sulit mencari kekasih juga diberkahi. Siapa tahu dengan tak dapat pasangan justru itu baik. Tuhan sedang menyelamatkan dari kehancuran.

Sampai segitunya? Ya mau gimana lagi. Dilahirkan didunia ini adalah bentuk anugerah dan karunia. Apapun harus disyukuri. Baik maupun buruk. Pasti ada makna dibalik fenomena. Selalu ada cerita di dalam lembaran derita. Mari kita bicara soal mencari pasangan. Mereka yang dengan gampangnya mencari pasangan barangkali selalu diselimuti oleh kebahagiaan yang tiada tara. Gampang mendapatkan dan gampang pula melepaskannya. Pernahkah mereka berpikir sejenak bahwa yang kini dicintai itu tak lebih baik dari yang disakiti dulu. Terlintaskah itu?

Bagi mereka yang mencari wanita ditumpukan jerami hawa, apa kabar? Mereka itu sulit mendapatkan dan sulit pula melepaskan. Ngerasa sulit nyarinya, jadi sayang kalo sebentar dilepas. Susah lho nyari pasangan, jadi disayang-sayang dulu aja. Ntar susah lagi nyarinya kalo lepas. Hehe.. Intinya jangan samakan mencari pasangan dengan berburu upil yang dicari untuk sekadar dibuang. Pokoknya jangan buat pasanganmu itu meneteskan air matanya. Sayang, kalo ternyata harus ada orang lain yang menghapus air mata itu. Bisa nangis bombay 7 hari 7 malam. Nah lho!

Jangan nyesel, apapun yang terjadi. Ada makna dibalik derita. Ciri khas orang yang berakal sehat itu adalah mereka yang bersabar dengan penderitaan sesaat. Mereka itu yakin bahwa penderitaan akan berbuah kebaikan yang banyak kelak. Jika dikasih nikmat, maka mereka bakal menahan diri dari kenikmatan sesaat itu. Karena bisa jadi justru kenikmatan itu berakibat pada derita yang luar biasa nantinya. Jangan jadi banal tentang apa yang menimpa kita sesaat. Ada makna dibalik cerita. Ada hal luar biasa dibalik menjijikannya upil. Asal jangan samakan pasanganmu dengan upil ya! Hehe..

Good luck lovers!😀