De Nekat Creativepreneur [Part. 10]

Posted on February 13, 2013

0



Think creative, not just different

Think creative, not just different

Kredo Kreativitas

Baru-baru ini seorang Wahyu Aditya menelurkan satu buku judulnya “Kreatif Sampai Mati”. Hmm..menarik. Kok ya bisa-bisanya hidup cuma modal kreatif, apa bisa? Kreativitas macam apa sih sampai-sampai Si Penulis menempatkan kreativitas sebagai Sila Keenam dalam buku itu. Secara terang-terangan Si Penulis menempatkan kreativitas sebagai kredo, bahkan yang lebih ekstrim lagi kreatif itu seperti jadi falsafah hidup. Dalam konteks yang lebih luas diposisikan sebagai falsafah bernegara layaknya Pancasila. Gila!

Biar salah biar belajar. “Gak kotor gak belajar” kata Rinso

Saya sebetulnya sepakat-sepakat saja dengan itu. Toh kini dunia yang saya geluti berkutat di seputaran lingkaran kreativitas. Segala tetek bengek dunia kreatif saya coba. Mulai dari nulis, ngeblog, bisnis kreatif, komunitas kreatif, dll. Dalam kamus kreatif jelas bahwa kita diwajibkan mencoba hal-hal baru. Apapun itu, yang jelas selama masih dalam kerangka kebaikan dan kebermanfaatan buat orang lain. Baik menurut siapa? Ya menurut yang kita yakini. Plus satu lagi, asal jangan nyinggung keberadaan pihak atau orang lain, hal itu sah-sah saja dilakukan. Biar salah biar belajar. “Gak kotor gak belajar” kata Rinso.

Balik lagi ke topik awal. Manusia dibekali sama Tuhan sebongkah otak beserta perangkat-perangkat pendukungnya (ide dan akal). Sejatinya kreativitas ini dimiliki oleh semua orang. Wong Tuhan sudah menginstalnya sepaket dengan software-nya juga kok pas kita lahir. Jadi haram hukumnya kita bilang, “Ah gue mah gak kreatif kayak lo”. Gue and lo semua pasti kreatif! Saya kasih waktu semenit buat Anda ngebayangin pas pertama Tuhan menurunkan Adam dan Hawa di bumi. Emang saat itu udah ada mobil? PLN udah masang listrik? Atau udah ada kompor? Lah, gimana cara mereka survive? Nah lho!

Karena semut itu kreatif. Berebut secangkir kopi dengan manusia. Menunggu kita lengah dan pasukan mereka langsung nyerbu cangkir kopi kita

Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa semua berawal dari ide. Dan ide itu didapat dari proses berpikir. Semut yang kecil gitu aja gak mati kelaparan. Karena semut itu kreatif. Berebut secangkir kopi dengan manusia. Menunggu kita lengah dan pasukan mereka langsung nyerbu cangkir kopi kita. Semua sudah dijamin rejekinya sama Tuhan. Jadi kreatif inilah modal satu-satunya untuk hidup. Kita bisa tahu cara bertahan hidup dan untuk menghidupi. Catatannya satu, harus terbatas. Kredo kreativitas bilang bahwa keterbatasan melahirkan kreativitas. Saya sepakat 1000%. Kalau semua serba terbatas kreativitas pasti muncul. Ini sudah hukum pidana, eh hukum alam ding. Hehe..

Masih ingat khan cerita Qabil yang membunuh Habil? Bagaimana cara Qabil menguburkan Habil itu saya pikir sebagai bentuk kreativitas yang didapat karena keterbatasan. Dulu belum ada sekop atau pacul. Proses bercerminnya Qabil dari burung yang menguburkan burung lainnya yang mati adalah bentuk proses berpikir. Ide muncul dari proses berpikir itu. dan Qabil pun akhirnya menguburkan saudaranya selayak-layaknya. Ada beberapa catatan penting dalam kontek ini. Pertama; ide itu bisa datang dari mana saja, termasuk dari binatang sekalipun. Kedua; belajar melihat kehidupan dengan segala fenomenanya itu adalah salah satu cara mendatangkan ide. Dan, Ketiga; mikir! Karena ide datang ketika kita berpikir. Gimana mau dateng idenya kalo kita males mikir?

Saat kita terdesak biasanya ide itu muncul. Soal kreatif atau tidaknya itu tergantung dari kacamata kita saja. Cuma, yang jelas ketika kita mampu berpikir beda saja itu sudah merupakan satu bentuk kreativitas. Dan biasanya ini muncul saat kita sudah diujung tanduk. Pas lagi dikejar-kejar ibu kost buat nagih utang kost-an pasti kita langsung berpikir cerdas buat nyari duit. Caranya, ya apa yang bisa dilakuin aja. Jangan cuma mikir buat minjem duit atau pake cara yang gak halal. Ikut lomba nulis cerpen misalnya. Kalo menang khan Alhamdulillah. Lumayan hadiahnya bisa buat nutup tagihan kost-an khan. Ini saya alami sendiri lho! Hehe.. Tadinya saya males banget buat nulis. Tapi, disaat terdesak semua ide dan mood tiba-tiba nongol dengan sendirinya.

Dalam kontek bisnis, bisnis ide itulah yang paling enak. Cuma modal mikir duit ngalir

Amazing! Inilah kata yang paling tepat buat ngegambarin betapa luar biasanya ide. Bisa muncul kapan saja dan bisa juga lenyap seketika. Datang gak perlu dijemput, pulang gak perlu dianterin. Hehe.. Makanya benar kata Ali Bin Abu Tholib, “Ikatlah ilmu dengan menulisnya”. Takut kelupaan, kalau ada ide mending langsung ditulis, sebelum diejawantahkan. Dalam kontek bisnis, bisnis ide itulah yang paling enak. Cuma modal mikir duit ngalir. Kalo kata bukunya Arief Budiman (Founder Petakumpet), “Jualan Ide Segar”. Jual ide itu menguntungkan. Kita gak usah capek-capek manggul kantong semen yang segede gaban dan gak usah ribet-ribet. Toh ide itu gak bakalan basi kok.

Capek juga ya ngomong ngalor ngidul. Hehe.. Oke, ini poin terakhirnya; kreativitas harus ada sampai napas nyampe di tenggorokan. Kreatif harus jadi kredo bagi semua orang. Ini modal satu-satunya dalam hidup. Simpelnya biar gak disebut khufur nikmat. Tuhan udah capek-capek nginstal otak di tubuh manusia. Masa gak kita manfaatin. Dalam tataran yang lebih luas, kreatif adalah amunisi biar gak ada lagi korupsi. Lho kok sampe segitunya? Ya iyalah. Koruptor itu jelas gak kreatif. Mereka nyari makan dengan cara mengambil jatah makan rakyat. Meminjam bahasa Afgan, Sadis! Afgan itu orangnya yang kreatif, tapi tolong jangan diikuti judul lagunya (sadis). Hehe..