Terbata Kata, Cinta

Posted on February 10, 2013

0



 

Terbata kata, cinta (dok. klosetide)

Terbata kata, cinta (dok. klosetide)

Seperti tak pernah bosan. Benar kata syair picisan itu, “Aroma bunga, hantar nikmat gairah asmara”. Ia nampak melambai-lambaikan tangannya, mengajak ‘tuk disinggahi. Ia lemparkan senyum ramahnya. Siapa yang mampu tahan godaannya? Semut mana yang kuat menampik rayuan romantis lelehan manis madu? Lebah mana yang mampu menahan hasrat cumbunya kepada rona merah sang kembang yang tengah mekar-mekarnya. Semua pasti tergoda untuk kedua, ketiga, keempat.. Ah, entah berapa kali aku telah tergoda. Aku lupa.

Yang mampu kuingat hanya kangen dan kangen. Ini soal rasa. Bisa mencoba biar merasa. Biar asa padamkan bara. Entah datang dari mana. Entah sebab apa. Entah dalam bentuk bagaimana. Serba misterius. Datang tiba-tiba rasa rindu itu. Pernah sesekali padam. Tak lama percik bara picu nyala rindu. Ini jelas-jelas tak pernah hilang. Tetap ada. Bersemayam dalam-dalam. Menempel lekat-lekat. Dan, jika dirasa-rasa malah seperti merana. Rasa-rasanya seperti ingin berselimut disaat disengat mentari. Aneh khan? Ya. Aku pikir juga demikian.

Padahal pagi tadi baru kejadian. Kepulan asap panas kopi seketika lenyap dari cengkeraman cangkir. Tak lebih lama dari singgahnya kereta di peron siang itu. Tak kalah sigapnya dari nyamuk yang menghindari jilatan predator malam lalu. Benar-benar secepat kilatan geledek. Tak diharap menyambar. Tapi, toh datang juga. Tak dinyana hadirnya, tetap saja gelegarnya merobek paksa gendang telinga. Sampai-sampai daun telinga terjambak olehnya. Kurang ajar. Berani-beraninya petir berlaku demikian. Datang bawa serta khawatir. Pulang tinggalkan segumpal getir.

Asal tahu saja, siang lusa matahari pun mendadak dangdut. Ia saja yang biasanya hanya berani menampakkan batang hidungnya siang-siang, kini jadi tak konsisten. Biasanya, membiasakan dirinya telanjang bulat siang bolong. Kok bisa-bisanya ia malah muncul berselimut salju. Mestinya sih ia malu. Sebab tak lagi berani tampil apa adanya. Tampil seperti biasanya ia. Malah ia keluar berselimut mendung. Ih, bisa-bisanya. Bagaimana mau lihat dunia, sedangkan sudah siang saja masih sendu. Apa tak malu pakai sepatu tanpa pakai baju?

Dan, benar saja dugaanku. Pagi tadi si matahari itu datang lagi. Tapi, yang ini beda. Ia keluar dengan tanpa sehelai benang pun melekat di tubuhnya. Tak ada lagi selimut sendu dan tak juga bersepatu. Sampai-sampai langsat kulitnya jelas terlihat. Aku hampir saja tergoda untuk bersapa dengannya. Maklum saja, dingin kemarin masih tertinggal. Akhir-akhir ini memang suasana cepat sekali berganti. Berubah seiring lepasnya kupu-kupu dari kerangkeng kepompong. Kadang tawa cepat terurai. Lalu, seketika itu juga tangis bombay mampir tiba-tiba.

Asam tak lagi masam. Madu tak lagi legit. Garam pun ikut-ikutan latah jadi hambar. Lidah hati seperti terbata. Tak mampu berucap tegas. Gagap. Kadang diam seribu bahasa. Kadang nyerocos tak kenal capek. Kata-kata kadang susah dieja. Kaca-kaca seringkali terlalu buram diraba mata. Sensitivitas ruh tak kuasa menyuruh kalbu. Tapi, pedasnya cabai nyata-nyata tinggalkan damai. Boleh saja luka teteskan merah darah. Toh, sebentar canda ukir tawa.

Kayaknya dimensi ekspansional semesta ini menari kalem. Padahal ia beradu cepat dengan kilat. Oleh cinta semua menjadi terbata. Karenanya, hal-hal yang biasa menjadi susah dieja.

Posted in: Short Story, Staccato