Bule dan Hal Sepele

Posted on February 6, 2013

0



Bule (dok. vivanews)

Bule (dok. vivanews)

Ada kejadian unik plus menggelikan yang saya alami. Pernah satu ketika ada kawan yang saya kenalkan dengan seseorang kawan saya lainnya. Waktu itu kita berdua lagi jalan-jalan plus konkow di warung kopi. Dan tanpa disengaja kita berdua ketemu dengan kawan lama saya. Kawan saya ini punya panggilan Bule (bukan nama sebenarnya). Dia berkulit hitam, tapi manis lho. Hehe.. Nah, jadilah kita bertiga ngobrol santai sambil menikmati secangkir kopi.

“Eh kenalin ini temen gue,” saya mengenalkan.

“Oh iya, gue A,” sambil mengulurkan tangannya.

“Bule!” tegas kawan saya mengenalkan diri.

Kok namanya Bule?” tanyanya sambil mengernyitkan dahi.

“Iya, nama panggung,” selonong saya.

Kemudian kami pun, bertiga, melanjutkan obrolan. Dan, tak berlangsung lama, Si bule ini bilang mau ke kamar kecil. Pergilah dia menuju WC café yang ada di belakang meja kasir. Selepas Si Bule ini ke WC, Si A cekikikan, sambil menutup mulutnya takut terlalu kenceng tertawa.

“Kenapa Lo?” Tanya saya.

“Itu kok namanya Bule sih?” tanyanya penasaran.

Lha emang kenapa?” balas saya.

Gue pikir Bule tuh tinggi, gede, kulit putih. Eh, ternyata…” pangkasnya.

“Haha..” kita berdua tertawa, sebelum akhirnya si Bule ini selesai menunaikan hajatnya dari WC.

Hehe.. No offense, please. Begini; kita sudah terkonstruksi akan satu persepsi bahwa bule itu orang yang tinggi, besar, kulit putih, hidung mancung, dsb. Ya, layaknya orang Eropa atau Amerika pada umumnya. Padahal, pengertian atau penyebutan ‘bule’ itu khan orang yang berasal bukan dari negeri kita, alias orang asing, bukan? Dan, orang asing itu macam-macam khan. Mereka yang datang dari Eropa atau Amerika jelas punya fisik yang seperti itu. Tapi, jika mereka berasal dari Afrika, ya tentu saja berkulit hitam dan dengan ciri fisik layaknya orang Afrika.

Kenapa kawan saya Si Bule ini dipanggil Bule? Sebetulnya karena panggilan ‘sayang’ kawan-kawannya dulu saat kuliah. Saya awalnya juga heran plus bertanya-tanya. Apa yang ada di otak saya pun sama dengan Si A. Bule ya kayak mereka yang dari Eropa dan Amerika. Tapi kok ini beda ya? Hehe.. Kawan saya yang ngasih julukan ‘Bule’ lalu jawab; “Lho bule itu kan gak Cuma dari Eropa atau Amerika, dari Afrika juga disebut bule khan?!” Iya juga ya. Hehe..

Saya tidak bermaksud main SARA atau main fisik. Poinnya adalah bahwa kita biasa dan dibiasakan berpikir normal alias lempeng-lempeng saja. Bule ya Eropa/Amerika. Makan ya nasi. Cantik ya tinggi, langsing, putih. Barangkali begitu pembiasaannya. Pembiasaan berpikir normal ini sudah semenjak kecil diajarkan oleh para orang tua kita. Kita tidak biasa dan dibiasakan berpikir sedikit nyeleneh. Makanya, pas denger kata Bule, dan yang nampak ternyata gak sesuai ekspektasi orang malah ketawa.

Dalam kamus kreatif Oxymoron diartikan secara sederhana sebagai pemaknaan yang keluar batas normal (out of the box)

Jika boleh meminjam bahasa Yories Sebastian (Bapaknya HardRock Café), istilah kerennya adalah ‘Oxymoron’. Dalam kamus kreatif Oxymoron diartikan secara sederhana sebagai pemaknaan yang keluar batas normal (out of the box). Misalnya; “Thank You For No Smoking” diganti menjadi “Thank You For Smoking”, “I Don’t Like Monday” diganti dengan adagium “I Like Monday”, dsb. Disaat orang pada umumnya berterimakasih karena tidak merokok, ini malah berterimakasih kepada yang merokok. Ketika orang kebanyakan membenci Monday, ini malah demen Monday.

Sepele sih emang. Tapi, ini menjadi penting. Coba deh pikir. Hal ini erat kaitannya dengan berpikir kita terhadap sesuatu. Kenapa juga yang langsing, putih, mulus, berkaki jenjang, jangkis (jangkung tipis) itu identik dengan cantik. Kenapa tidak mereka yang berberat diatas 60 kg, yang punya betis segede tales Bogor, yang berkulit sawo (terlalu) matang, itu yang justru cantik? Persepsi tiap orang memang boleh berbeda. Tapi, jika ini menjadi mayoritas, maka itu yang menjadi persepsi publik, yang kemudian dipakai untuk menjustifikasi (pada umumnya).

Sekali lagi, tulisan ini tidak bermaksud menyinggung salah satu pihak atau kelompok. Beneran. Piss. Hehe.. Saya kadang suka resah saja tentang persepsi ini. Kok ya kita gak coba beda. Kenapa berbeda sudut pandang itu dianggap gila, aneh, freak, nyeleneh? Boroboro minta diapresiasi, untuk dapat berpikir beda saja kita susah. Kebanyakan kita ikut arus. Padahal, itu belum tentu nyaman di diri kita. Bagi mereka yang punya persepsi berbeda saya silakan lawan arus. Saya yakin Tuhan tidak menyalahkan orang yang punya persepsi beda, asal itu tidak menyinggung orang lain. Titik!

Cuma ikan mati yang ikut arus!

Jika boleh berpendapat, mulailah berpikir beda dan mulai juga mengapresiasi perbedaan. Kita pun harus berani dewasa dalam berkonstruksi. Opini publik belum tentu benar. Toh opini publik itu terbentuk dari opini individu yang membulat layaknya bola salju. Makin menggelinding makin besar. Dianggap benar jika itu diakui oleh kebanyakan. Balik lagi soal persepsi dan konstruksi berpikir kita masing-masing. Soal benar atau salah, entahlah.

Maaf saja jika tulisan ini sangat sepele. Cuma ikan mati yang ikut arus!