Nyasar Ke Candi Ijo

Posted on January 29, 2013

4



Candi Ijo-Jogja (dok. klosetide)

Candi Ijo-Jogja (dok. klosetide)

Pernah ke Candi Ijo? Saya yakin banyak yang menjawab; Belum. Atau jangan-jangan baru mendengar candi itu? Bisa jadi jawabannya; Ya. Situs pemujaan Dewa Shiwa ini memang belum terlalu terekspos oleh media ataupun khalayak. Jadi, wajar jika memang belum banyak orang tahu tentang keberadaannya. Emang ada ya candi yang warnanya ijo? Hehe..

Sebetulnya, saya juga baru tahu minggu lalu saat saya berwisata ke Jogja. Tahu karena nyasar. Hehe.. Awalnya saya dan dua orang teman saya berencana menjenguk Candi Prambanan dan Candi Boko. Dua candi yang tentu menjadi rujukan wisata jika ke Jogja. Dua candi itu memang sudah kesohor seantero jagad, bukan hanya Jogja dan Pulau Jawa saja, bahkan sampai wisatawan asing pun tahu dua candi itu.

Rencana awal untuk berwisata ke Prambanan dan Boko harus dilanjutkan ke beberapa candi, termasuk Candi Ijo, sebab terlalu banyak plang wisata candi yang bertebaran di setiap jalan bercabang. Sejatinya, kita tersesat dan tak tahu jalan pulang ke kota setelah berkunjung ke Candi Boko. Barangkali jalan yang kecil dan terlalu banyak percabangan jalanlah yang membuat kami tergiring ke Candi Ijo. Ah, itu cuma negasi saya saja. Hehe..

Ternyata tersesat itu tak selamanya menderita lho! Jika boleh copy paste, ini seperti judul film, ‘Sengsara Membawa Nikmat’. Setelah blusukan ke jalanan sempit berkelok, berlubang, dan mendaki, sampailah kami kepada keindahan pahatan sejarah tempo doeloe. Tuhan memang menjanjikan nikmat bagi mereka yang mau bersabar jika ditempa dengan persoalan. Hehe.. Itulah yang kami alami. Candi Ijo menyambut kami dengan senyum ramah dan suasana sore yang menyejukkan. The most magnificent view ever!

Keberadaan Candi Ijo

Lalu, kenapa namanya ijo? Apakah candi ini berwarna ijo (hijau)? Hehe.. Ternyata, selidik punya selidik nama Ijo diambil dari bukit tempat Candi Ijo berdiri gagah. Namanya bukit Gumuk Ijo. Gumuk berarti ‘bukit’, dan Ijo yang artinya ‘hijau’ (Jawa). Letaknya di Dukuh Nglengkong, Dusun Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Sleman. Letaknya yang berada sekira 400 MDPL ini menyebabkan Candi Ijo menjadi candi dengan posisi paling tinggi diantara yang lainnya di Jogja. Menurut cerita, bahkan candi peninggalan abad ke-9 masehi ini menjadi yang tertinggi di Jogja. Kita bisa lihat pemandangan Jogja dan seisinya yang hijau dan asri. Betul-betul indah, seperti berdiri di atas awan negeri kahyangan.

Candi ini dibangun untuk menghormati Dewa Shiwa dan Dewi Parwati. Di dalam candi induk terdapat sebuah bilik dengan Lingga-Yoni di dalamnya yang melambangkan kedua dewa-dewi tersebut. Di kawasan tersebut terdapat Prasasti Poh yang berisi tulisan berbunyi Guywan, yang oleh Bung Karno disebut ‘Bhuyutan’, yang artinya ‘Pertapaan’. Prasasti ini bertuliskan mantra kutukan, ‘Om sarwwawinasa, sarwwawinasa’. Konon, candi ini ditemukan pertama kali oleh seorang administratur pabrik gula Sorogedug yang bernama H.E Doorepaal pada tahun 1886.

Letaknya yang kurang lebih 20 KM dari pusat kota Jogja menyebabkan situs peninggalan kerajaan Hindu ini kurang diminati. Meski tak jauh dari Candi Boko, namun akses jalan yang sempit, menanjak, dan berkelok, menjadikan candi ini tidak seterkenal Prambanan atau Boko. Pemerintah daerah setempat pun sepertinya belum ngeh dan masih enggan menjadikan candi ini sebagai objek wisata. Hal ini terlihat dari minimnya penunjuk arah menuju candi, tidak dipungut biaya alias gratis masuk ke kawasan candi, dan belum adanya perbaikan akses jalan.

Terkadang pembukaan sebuah situs menjadi objek wisata bakal merusak nilai sejarah situs tersebut. Kita semua tahu jika orang di negeri ini paling demen corat-coret dan doyan nyampah. Tengok saja Prambanan atau Borobudur yang sudah tidak perawan lagi. Keelokannya memang tidak luntur, tapi sisi nilai budaya dan romantisme sepinya yang terkikis. Kita sudah tidak bisa lagi menyelami masa-masa kerajaan jaman dulu, bagaimana candi itu dibangun, bagaimana kehidupan jaman itu, dll. Sepertinya sudah tidak lagi otentik jika sudah terjamah banyak tangan. Jika boleh urun saran, saya lebih sepakat dengan kondisi Candi ijo yang sekarang, yang kalem, hijau, dan ramah🙂

Galeri Foto:

Candi induk (dok. klosetide)

Candi induk (dok. klosetide)

Lingkungan Candi Ijo (dok. klosetide)

Lingkungan Candi Ijo (dok. klosetide)

Pelataran Candi (dok. klosetide)

Pelataran Candi (dok. klosetide)

Candi tampak samping (dok. klosetide)

Candi tampak samping (dok. klosetide)

Pelataran depan Candi Ijo (dok. klosetide)

Pelataran depan Candi Ijo (dok. klosetide)

Kota Jogja dari candi (dok. klosetide)

Kota Jogja dari candi (dok. klosetide)

Sudut Kota Jogja, 27/01/2013

Posted in: Article, Expedition