Masih Menunggumu

Posted on January 25, 2013

0



Bulir Hujan Lukis Jendela

Bulir Hujan Lukis Jendela

Hujan turun renyai, melumuri tiang listrik yang berdiri kokoh di seberang jalanan bisu. Hembus sepoi angin perlahan tapi pasti menggoyang rintik air yang turun menghampiri bumi. Seketika, menyeruak bau tanah basah. Aku rindu bau itu. seperti mencium aroma surgawi yang sudah lama hilang. Aku peluk mesra erat-erat kehadirannya. Sungguh nyaman.

Alunan musik berirama melow terdengar sayup-sayup. Kian menambah sendu dan syahdu hati. Aku masih terduduk. Diam tak bergerak. Bulir air hujan masih saja menggurat kaca jendela. Ia seperti sedang melukis kaca itu. Membentuk segurat senyum manismu. Hei Nona, kamu ada disini. Aku melihatmu tersenyum lewat lukisan kaca jendela itu.

Seperti tak sengaja bibir ini tertarik menyamping dua centi. Aku menyambut senyummu. Bolehkah aku menyapamu? Atau hanya sekadar berbincang? Ah, kenapa juga aku mesti bertanya. Ini kebiasaan burukku, yang sering bertele dengan keraguan. Toh, hanya menyapa dan berbincang ringan. Lalu, apa salahnya? Langsung saja. Biarkan semua kata mengalir layaknya air di tepian sungai musim semi.

Kita mulai dengan canda, lalu tawa. Kehangatan mulai terasa. Kemesraan pelan-pelan merambat masuk lewat sela-sela jari, meringsek masuk ke dalam nadi. Lalu, membungkus seluruh raga. Obrolan kita benar-benar membuat bongkahan es dihati ini seketika meleleh. Detak jarum jam seperti mengikuti detak jantungku. Merangkak cepat tak berirama. Inikah cinta, yang katanya bisa membuat deg-degan? Tapi, bagaimana bisa dibilang cinta? Kita baru saja bersua.

Masih terlampau dini untuk bilang cinta. Aku pun masih asyik dengan bertanya tentang hujan kepadanya. Sesekali ia pun bertanya soal gemericik air, tanah basah, dan renyai hujan kepadaku. Aku menjawabnya dengan ringan tapi serius. Ia pun sama. Lalu, ratusan detik terlewati tanpa sadar. Lukisan kaca jendela oleh bulir hujan itu menjadi samar-samar. Kemudian, pelan-pelan menghilang.

Hei.. Kenapa pergi? Aku belum puas dengan kehangatan kita. Untuk bertanya siapa namamu saja aku tak sempat. Mari sini, kita ulangi kemesraan tadi. Mari berbicang lagi soal pagi. Tentang bagaimana sang mentari membuka hari. Tentang sore yang kian hari kian melankolis. Tentang bintang dan rembulan yang mesra bersahabat semenjak dulu kala. Tentang birunya langit dan goresan crayon putih awan padanya. Mari sini.

Kamu terlalu cepat pergi. Melenggang seiring hujan berhenti. Tapi, meski begitu aku masih disini. Menunggu renyai hujan, bau tanah basah, lukisan bulir air di kaca jendela, datang kembali esok pagi. Kembali dengan senyuman dari bibir kecil manismu. Senyuman yang terukir di kaca jendela oleh bulir renyai hujan. Kini, hujan pergi. Bayanganmu pun ikut serta dihapus oleh jingga mentari sore.

 

Posted in: Poem, Short Story