Lupa

Posted on January 18, 2013

0



Lupakah kita dengan mereka (dok klosetide)

Lupakah kita dengan mereka (dok klosetide)

Ada seorang ibu yang rela mati demi anaknya. Mencari sesuap nasi demi berbagi dengan anaknya. Rela berpeluh tanpa sedikitpun mengeluh. Jika malam tiba ia bersimpuh dan menengadahkan kedua tangannya itu demi sebuah doa masa depan cemerlang untuk buah hatinya. Hatinya yang sekeras baja tak kan pernah menyerah luruh oleh gempuran ganas derita. 24 jam waktunya seperti tak lepas dari mengingat anaknya. Bagaimana anaknya bisa makan. Bagaimana anaknya sekolah. Bagaimana anaknya dapat tidur lelap.

Seorang ayah yang rela waktunya tersita demi kebahagiaan keluarganya. Mengorek isi bumi demi sesuap nasi. Mencari rejeki meski kadang tulang ini rontok oleh berondongan rintangan yang datang tak kenal ampun. Tak kenal takut meski seekor serigala tengah berhadapan satu lawan satu tepat di depan dan siap memangsanya. Semua itu dilakukannya bukan sebatas karena kekonyolan yang tanpa arah. Langkah kakinya gontai kian rapuh ditelan waktu. Mencari bekal dan dibawanya pulang demi senyum ceria anak istrinya.

Sahabat yang dengan tanpa perhitungan memberikan kasih sayangnya kepada sahabatnya. Terkadang harus rela merogoh kocek demi menyambung hidup sahabatnya. Luangkan waktunya demi bertemu dan bertegur sapa dengan sahabatnya. Sediakan bahunya demi sandaran kesedihannya. Ulurkan tangan saat sahabatnya butuh tarikan semangat. Menjaga sahabatnya saat ia tergolek lemas di ranjang rumah sakit. Suapi mulut mungil lunglai sahabatnya saat ia terkapar tak berdaya. Rela berbagi payung saat hujan mendera.

Ada lagi, kakak yang sebagian hidupnya hanya untuk melihat adiknya bangun dan berlari mengejar mimpinya. Kakak yang tak kenal lelah membukakan pintu masa depan untuk adiknya. Seorang yang rela menyumbangkan jatah makannya agar sang adik dapat hidup esok hari. Kakak yang rela menahan tangis demi senyuman manis adiknya. Berbagi kursi dengan memangkunya dapat duduk layak. Menyisakan uang jajannya untuk jajan adiknya. Mewariskan baju, tas sekolah, sepatu, pensil, dan buku untuk adiknya yang masih sekolah.

Saat aku, kamu, dan kita pergi ke suatu tempat yang telah kita rencanakan atau tidak sama sekali kita tuju ada seorang yang menawari makan, atau hanya sekadar luangkan waktu untuk berbincang. Merelakan tempat duduknya untuk ditempati sedangkan ia pun butuh duduk. Mentraktir secangkir kopi hangat. Menawari kreteknya demi obrolan santai. Orang yang sama sekali tidak kita kenal lalu ia rela meminjamkan handphone-nya saat punya kita raib entah kemana. Seorang yang memberikan uang jajannya saat dompet kita kecopetan di negeri orang sehingga tak tahu cara pulang.

Kepada mereka yang telah menyambung hidup kita beberapa detik ke depan hingga saat ini, sudahkah kita berterimakasih kepadanya? Atau sekadar say hello dan bertanya kabar berita dengannya, sudahkah? Jika kita sudi hitung sudah berapakah orang-orang baik di alam raya ini yang rela susah demi seonggok daging ini? Barangkali kita sudah lupa. Dan mereka pun sudah melupakan kebaikannya itu.

Tak ada yang namanya kebetulan. Jika kita bicara soal kebetulan, sejatinya kita tengah membicarakan kebodohan kita sendiri. Selalu ada rencana Tuhan. Selalu ada napas lain di samping napas kita. Tiap detik selalu ada nikmat menghampiri kita yang setiap detik itu pula kita lupakan. Padahal kebaikan dan nikmat itu sangat akrab dengan kita.

Kepada Ibu, Ayah, Sahabat, dan Mereka yang tak dikenal, terimakasih atas luangan kasih sayangnya. Mereka ibarat udara bagi kita, tak terlihat tapi terasa.