Aku, Kau, dan Sepatu

Posted on January 13, 2013

1



aku, kau, dan sepatu

aku, kau, dan sepatu

Kau punya mimpi. Aku pun punya. Kau punya jalan hidup yang kini kau jalani. Aku pun juga sama. Kau punya anggapan kesuksesan sendiri, menurut kacamatamu. Aku pun sama pula punya itu.

Sudahlah. Kita sama-sama hargai saja kerja keras kita masing-masing. Kau dengan kehidupanmu sekarang. Dan, aku dengan jalan hidupku yang sekarang kujalani. Usah kau paksakan kecintaanmu terhadap kecintaanku. Kau berjalan normal layaknya yang lainnya. Aku berjalan agak berlawanan, meski tujuan kita sama. Kau puas dengan pencapaianmu kini. Aku jauh lebih bersyukur dengan apa yang aku lalui dan terima. Satu hal yang pasti, kau rajin mengeluh tentang hal yang kau selami dan jalani. Sedangkan aku terus bergerak meski pelan, dan tetap tersenyum walau kadang perih.

Sedangkan aku harus berjibaku pun sekali-kali menantang kalemnya harimau yang tengah termangu

Kau adalah apa yang orang pikirkan. Aku adalah apa yang orang sepelekan. Kau sepakat dengan apa yang orang kebanyakan anggap, dan orang lain yang kebanyakan itu setuju dengan apa yang kau pahami. Aku tidak sepaham dengan orang yang kebanyakan, dan aku ini tidak ikut siapa-siapa. Kau gelombang pada umumnya. Aku justru melawan itu. Kau serba mulus dan lancar tanpa kemudian berpeluh menembus kejinya jalanan. Sedangkan aku harus berjibaku pun sekali-kali menantang kalemnya harimau yang tengah termangu. Kau abu-abu. Aku malah merah.

Aku yang pemusar. Kau yang hanya jadi pasar. Aku yang tanpa henti bermimpi. Kau hanya diam di satu impian. Aku yang serba menentang nyaman dan menantang acungan jempol kenormalan. Kau yang duduk manis dan nyaman dengan kursimu. Aku yang memilih kegagalan sebagai guru. Kau yang mengangkat kesuksesan sebagai mahaguru. Aku yang tak segan mengotak-atik otak kananku. Kau yang justru segan bahkan ragu dengan itu. Aku yang bilang jika karakter itu nomor satu. Kau malah bilang kekuasaan adalah kekuatan. Aku cinta jika itu tidak wajar, dianggap gila, dan memakai baju yang terbalik. Kau cinta jika itu normal, wajar, dan terkesan biasa saja.

Ukuran sepatuku 41. Sedangkan sepatumu bernomor 43. Kita beda 2 spasi. Lalu kenapa kau paksakan sepatumu untuk kakiku? Kau jelas nyaman dengan memakai sepatu bernomor besar. Sedangkan aku pasti kedodoran dan serba tak nyaman. Kau terus paksa aku memakainya. Dan lagi-lagi aku terpeleset, bahkan serba tak pede sebab terlalu banyak ruang kosong yang tak mampu kuisi. Kau memakai cara untuk meyakinkanku bahwa sepatumu itu cocok untukku. Kau bilang banyak orang yang bahkan lebih tak pantas dariku dengan sepatu itu, tapi toh mereka pakai juga. Kau lebih pantas memakai sepatu itu daripada orang lain. Begitu kau terus memaksa.

Jangan-jangan aku malah tak nyaman pakai sepatu? Lebih memilih sandal yang sederhana, terkesan apa adanya, pede dengan ketelanjangan kaki, rela jika kulit kaki tersapu segarnya udara pagi…

Aku heran. Kenapa kau tak pernah secuilpun bertanya apa mauku. Berapa nomor sepatuku? Apakah aku nyaman dengan memakai sepatumu? Terlihat kedodorankah atau tidak aku memakai punyamu? Apa merek sepatu kesukaanku? Atau apakah aku sering dan senang pakai sepatu? Jangan-jangan aku malah tak nyaman pakai sepatu? Lebih memilih sandal yang sederhana, terkesan apa adanya, pede dengan ketelanjangan kaki, rela jika kulit kaki tersapu segarnya udara pagi, yang harus berjuang dengan jempol dan telunjuk kaki untuk menjepit tali yang membelit karet sandal, yang harus menahan basah saat hujan jatuh, yang harus menahan dingin saat angin malam menyerbu beringas.

Sudahkah kau tanyakan semuanya itu padaku? Ah, sudahlah. Kita beda ukuran sepatu, kawan.