Kebaikan Itu Menular

Posted on January 8, 2013

0



Jokowi_Bukan_Untuk_Presiden_-_Kompasiana

Jokowi bukan untuk presiden

 

“Jokowi: SBY Sudah Blusukan Sebelum Saya Jadi Gubernur” (Vivanews, Sabtu, 05/01). Inilah judul sekaligus pernyataan Jokowi di salah satu portal berita nasional. Apa yang Anda pikirkan ketika membaca pernyataan itu? Saya yakin macam-macam responnya. Ada yang positif dan tentu tak sedikit pula yang negatif. Akan ada opini publik yang seperti ini; dianggap pencitraan lah, ikut-ikutan lah, saling tiru strategi kampanye lah, biar dikenal merakyat lah, atau bahkan ada yang beda yang berani bilang ini aktivitas yang menginspirasi. Mana yang benar?

Bukan soal siapa yang ikut-ikutan siapa. Tapi, yang jelas kebiasaan atau aktivitas pemimpin yang baik seperti ini adalah inspirasi. Misalnya, jika memang SBY lebih dulu blusukan ke kampung-kampung, kemudian Jokowi ikut blusukan juga anggaplah ini satu kebaikan yang menular. Jokowi blusukan kemudian hal ini diikuti oleh Dahlan Iskan, artinya Jokowi menginspirasi Dahlan Iskan untuk berbuat kebaikan. Dan seterusnya. Sebaiknya memang seperti itu cara pandangnya, bukan malah dianggap ikut-ikutan demi sebuah self image atau bahkan yang lebih sadis political image.

Bukan soal siapa yang ikut-ikutan siapa. Tapi, yang jelas kebiasaan atau aktivitas pemimpin yang baik seperti ini adalah inspirasi

Kebanyakan dari kita demen banget lihat sesuatu dari sisi negatifnya. Kita sering sekali berprasangka. Padahal jelas-jelas sebagian prasangka adalah dosa. Kebaikan dilihatnya sebagai kejelekan. Sesuatu yang positif dianggap sebagai yang negatif. Apalagi jika hal seperti itu dilakukan oleh orang politik. Bagi kawan politiknya atau koalisinya itu dianggapnya kebaikan. Tapi, jika penilaian itu diserahkan kepada oposisinya, maka akan dianggap pencitraan dan cari sensasi. Semua yang dilakukan sang lawan politik meskipun itu baik dan positif selalu jelek di mata sang lawan. Lalu kapan negara ini dewasa jika pikiran model gini terus dipertahankan?

Critical point-nya adalah bahwa mesti ada perbaikan cara pandang terhadap fenomena yang terjadi. Saya pikir sebetulnya sah-sah saja tiap orang punya pandangan yang berbeda. Mau itu positif kek, negatif kek, netral kek, semuanya sah. Tapi, jika kita sebagai warga negara Indonesia sepakat bahwa pendidikan itu intinya adalah merubah pola dan cara berpikir, maka yang demikian ini menjadi penting. Saya ingat ketika Pramoedya A. Toer bilang, “Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan”. Dalam pikiran saja kita harus adil, apalagi dalam perbuatan. Jika pikiran saja tak mampu adil, apalagi perbuatannya. Begitulah rasionalisasinya.

Stop Negative Thinking!

Saya tidak bermaksud berkampanye atau mendukung salah satu partai dalam tulisan ini. Tulisan ini dibuat sebab keresahan saya akhir-akhir ini yang sulit membedakan antara pencitraan atau kebaikan. Terus terang saya susah membedakan antara kebaikan yang tulus dengan pencitraan. Apa sih bedanya? Kebaikan yang dilakukan oleh orang yang berpolitik pasti dianggap sekadar pencitraan untuk mendulang simpati publik. Soal ikhlas atau tidak kita tidak tahu. Karena niat hanya si pelaku dan Tuhan saja yang tahu. Kemudian saya berpikir demikian, jika semuanya kita lihat dari sisi negatifnya kapan negara ini maju? Kapan Indonesia punya pemimpin yang mumpuni jika pemimpin yang selalu blusukan dianggap pencitraan dan sekadar ikut-ikutan?

Biar kebaikan itu menginspirasi banyak orang. Biarkan strategi Jokowi itu difotocopy dan ditiru oleh pemimpin-pemimpin kita dalam seluruh tataran, lokal maupun nasional

Sudahlah. Hentikan pikiran negatif. Kenyataannya masih ada orang baik di negeri ini. Anggap saja yang baik itu baik. Dan doakan yang baik itu menular. Biar kebaikan itu menginspirasi banyak orang. Biarkan strategi Jokowi itu difotocopy dan ditiru oleh pemimpin-pemimpin kita dalam seluruh tataran, lokal maupun nasional. Jokowi yang sebagai Walikota Terbaik Dunia urutan ketiga, setelah Inaki Azkuna yang memimpin Kota Bilbao Spanyol dan Lisa Scaffidi yang memimpin Kota Perth Australia, versi The World Mayor Project 2012 adalah contoh sekaligus teladan. Bukan harus meniru 100% sosok Jokowi-nya. Tindakan kebaikannyalah yang patut dicontoh dan difotocopy.

Blusukan ke kampung-kampung, makan di warteg dan warung makan pinggir jalan, jalan-jalan ke pasar tradisional, ngobrol dengan warga bantaran sungai, melayani langsung masyarakat, adalah tindakan wajib seorang pemimpin. Dalam konteks administrasi negara jelas bahwa tugas pemimpin adalah melayani rakyatnya. Bukan malah menjadi raja yang absolut, hanya duduk manis di kantor sehingga tidak tersentuh sama sekali oleh rakyatnya. Jika tindakan inspiratif Jokowi di benchmark oleh para pemimpin daerah dan nasional, maka Indonesia yang sejahtera tinggal menunggu waktu. Sebagai rakyat, kita harus bisa, biasa dan membiasakan berpikir positif. Dukung pemimpin yang baik dan punya kebaikan tak peduli pada bendera warna apa dia bergerak.

Dalam konteks administrasi negara jelas bahwa tugas pemimpin adalah melayani rakyatnya. Bukan malah menjadi raja yang absolut, hanya duduk manis di kantor sehingga tidak tersentuh sama sekali oleh rakyatnya

Stop pikiran miring. Stop berpikir siapa yang ikut siapa. Anggap saja itu satu kebaikan. Dan, kebaikan itu menginspirasi dan menular layaknya virus. Lanjutkan Gan!😀

 

*Tulisan ini masuk dalam buku ‘Jokowi Bukan (untuk) Presiden’ yang diterbitkan oleh Kompasiana bersama Media Elex Komputindo Kompas, dengan judul “Jeleknya Politik”.