Cerita Dari Carita

Posted on December 18, 2012

2



carita beach anyer

carita beach anyer

Ini pertama kalinya saya pelesir setelah beberapa minggu mendekam dalam kamar 3×3, kost-an saya. Penat, suntuk, bosan, mumet seketika raib semenjak saya dapat SMS untuk terbang ke Pantai Carita, Anyer. Akhirnya, saya dapat meninggalkan kotak ajaib saya. Jalan-jalan gratis plus dapat duit. Kerja apa lagi yang bisa enak kayak gini. Hehe

Hari itu tepat hari sabtu tanggal 15 Desember. Jam 4 pagi buta saya sudah bersiap untuk menyambut hari ini, tentu dengan perasaan riang. Sholat Subuh dan berkemas. Tepat jam 5 pagi saya berangkat dari Jatinangor menuju Bandung. Saya diajak oleh salah satu agen perjalanan Bandung, namanya Your Travel Indonesia. Saya hanya dikasih tahu untuk mengisi fun games di outdoor activity berdurasi 2 jam 1 hari saja. Tanpa membawa peralatan mandi dan hanya dengan bekal pakaian yang menempel di badan saja, saya cabut hari itu.

Jam 6 lebih 15 saya sampai lokasi pemberangkatan, Jalan Belitung, Bandung. Saya diantar oleh teman saya kesitu. Dia orang yang menghubungkan saya dengan pihak travel. Dan, sampai di lokasi saya baru berkenalan dengan si empunya travel dan baru saja tahu ternyata ini acara family gathering-nya Telkom Programme Development Center (TELKOM PDC) Bandung. Ini memang kerjaan serba mendadak. Baru dikontak 2 hari sebelum event, baru tahu calon klien, dan yang lebih parahnya lagi baru tahu kalo acara ini 2 hari. Waduh!

Alamat sudah. Saya tidak membawa peralatan tempur untuk 2 hari. Derita pun lantas tak berhenti sampai disitu. Mas Adi, sang pemilik biro travel, segera memberi tahu bahwa saya juga diminta untuk menjadi guide perjalanan Bandung-Anyer. Wat? Jujur, saya belum pernah jadi guide. Lalu apa jobdesk saya? Pertanyaan konyol itu dengan polosnya terlontar tanpa permisi. Nanti Mas Edi memperkenalkan diri, terus pimpin doa, terus..terus… Begitu Mas Adi menjelaskan. Saya iya iya saja. Wong udah kepalang basah. Mandi aja sekalian.

Entah kenapa saya pun menerima jabatan itu, menjadi tour guide. Yang jelas, dalam kamus saya, saya cuma kenal kata BISA! Jadi haram hukumnya bilang gak bisa. Jabatan kehormatan itu saya terima karena memang tidak ada orang lagi. Di sisi lain, dalam dunia bisnis seperti ini, orang sangat menghargai profesionalitas. Kita wajib bisa dan haram menolak tawaran. Menolak berarti mati. Karena masih banyak orang yang bisa, dan kita pasti tersingkir. Berapapun saya dibayar, saya wajib bisa. Bilang bisa saja dulu, mikir belakangan. Setelah saya iyakan saya baru berpikir, bisa apa enggak ya? Nah lho! Ah pasti bisa! New challenge, be the tour guide.

Yang jelas, dalam kamus saya, saya cuma kenal kata BISA! Jadi haram hukumnya bilang gak bisa

Jam setengah tujuh dua bus melenggang meninggalkan lokasi menuju Anyer. Saya menjalankan tugas perdana saya menjadi tour guide. Hmm.. luar biasa. Setelah membuka dengan memperkenalkan diri dan berdoa bus melaju kencang menembus kabut Kota Bandung. Ratusan kilometer hamparan aspal dilalui. Akhirnya lolos juga ujian pertama. Hehe.. Selama perjalanan emang belum banyak improvisasi. Baru gitu gitu aja. Maklum saya masih awam dunia ini. Cuma pernah lihat saja tour guide waktu dulu jaman SMA saya ke Bali. Ya itulah pengalaman yang akhirnya saya benchmark. Sisanya, ya improvisasi aja. Yang paling penting adalah berani ngomong dan buat penumpang gak jenuh. Cukup.

Macettt…

Perjalanan masih tak kunjung berhenti setelah jarum jam bus menunjuk ke arah angka 12 siang. Sungguh melelahkan. Sudah lebih dari 5 jam tak jua sampai lokasi. Baru saja keluar dari Pintu Tol Serang. Katanya, normalnya sih 2 jam lagi. Tapi gimana mau sampai kalo baru keluar pintu tol juga udah macet parah. Cilegon yang merupakan kawasan industri adalah jalur paling menjemukan. Truk-truk besar dan kendaraan pribadi yang menuju ke tempat wisata Anyer mengular panjang. Derita ditambah dengan sistem jalan yang buka tutup. Sedang ada perbaikan jalan sepanjang jalur Serang-Anyer. Ah, ada ada saja pemerintah kita ini. Bayangkan betapa menderitanya para penumpang saat itu. Tapi, saya pun sudah males buat cuap-cuap. Saya memilih diem saja dan duduk manis.

Delapan jam nekuk kaki ternyata gak enak juga. Dan, selonjor menjadi satu-satunya katarsis yang paling sempurna

Akhirnya..sampai juga di Pantai Carita. Jarum jam sudah bertengger di angka 3, dan artinya itu sudah sore. Seluruh peserta diminta turun dan langsung ke hotel untuk makan siang. Puluhan peserta yang berjumlah 70 orang seperti tak sabar berlari berebut makan. Maklum perut mereka udah lama kosong sedari sarapan pagi tadi. Setelah makan siang, acara lalu dilanjut dengan acara bebas. Ada yang berenang, yang mau istirahat, atau mau jalan-jalan silakan. Saya dan ketiga orang teman biro travel langsung saja menuju kamar. Tanpa basa basi saya lepas sepatu dan mulai menyelonjorkan kaki. Delapan jam nekuk kaki ternyata gak enak juga. Dan, selonjor menjadi satu-satunya katarsis yang paling sempurna. Hehe

Jadi MC

Malam hari setelah makan malam semua peserta kumpul di aula untuk acara hiburan. Dan, kejutan yang ditunggu-tunggu pun tiba. Saya langsung didaulat untuk jadi MC di acara gathering malam itu. Mas bisa khan jadi MC? Oh bisa Mas! Entah kenapa saya paling sulit bilang gak bisa. Pas Mas Adi menawarkan jadi MC pun tanpa basa-basi saya langsung meng-iyakan. Saya sih simpel mikirnya. Ini pengalaman baru jadi patut dicoba. Lumayan, itung-itung nambah pengalaman dan skill komunikasi aja. Syukur-syukur bisa manjang dan bisa kayak Om Helmi Yahya. Jadi MC? Siapa takut!

 Jadi MC? Siapa takut!

Saya didampingi oleh Mbak indri, salah seorang biduan mungil yang ikut serta acara malam itu. And Anda bisa bayangkan betapa deg-degannya saya pas tampil pertama kali jadi MC dengan orang yang baru dikenal dan di depan puluhan orang. It’s amazing dude! Saya tak henti-hentinya berpikir bagaimana cara menghibur peserta. Ini tugas dan ini amanah. Wajib buat saya menjaga dan menjalankannya. Do the best aja. Sesekali acara saya selingi dengan games indoor yang ringan. Dan, musik dangdut untuk mengisi malam panjang itu. Acara memang hanya berlangsung 2 jam. Tapi, 2 jam malam itu berasa sangat panjang. Ya, mungkin karena masih baru jadi MC. Tapi, ya sudahlah. Enjoy saja. Hehe

Sampai pada akhirnya acara hiburan selesai dan kami kembali ke kamar masing-masing. Kita berempat ke hotel dan ngopi-ngopi. Sambil persiapan buat esok hari outdoor activity. Malam itu saya habiskan dengan berpikir bagaimana buat besok sambil menemani ketiga yang lainnya melepas lelah di pulau kapuk. Secangkir kopi item panas tersaji. Kertas dan pena menjadi teman menari jari-jari saya. Tak terasa sudah jam 1 lebih, dan mata ini sudah tidak bersahabat lagi mengajak untuk segera dipejamkan. Berakhir sudah kerjaan hari ini. And, it’s time to sleep. Goodbye MC. Welcome to the next challenge,

Carpe Diem! Pagi buta kita sudah memulai aktivitas dengan senam pagi dan olah raga. Acara dilanjutkan dengan sarapan dan langsung memulai fun games. Sial. Pas baru mau memulai outdoor activity untuk fun games hujan turun. Tanpa kompromi seluruh peserta langsung mengamankan diri masing-masing dari serbuan rintik hujan. Wah kacau. Kita harus menyiapkan plan B. Semua peserta kita evakuasi ke dalam ruangan. Tak apalah, meski acara berlanjut di dalam ruangan asalkan tetap seru. Yang penting hepy. Dua jam mengisi waktu dengan fun games cukup memaksa keringat untuk keluar. Setelah main, seluruh peserta istirahat dan mandi. Dan, tepat jam 1 siang semua berkumpul lagi untuk makan siang dan check-out.

Satu hal yang pasti adalah bahwa rejeki selalu terselip dalam silaturahmi. Dalam silaturahmi ada rizki. Tak ada rizki yang muncul tiba-tiba dan kebetulan

Carita punya cerita. Saya punya pengalaman baru. Menjadi tour guide, MC, dan kenal sama orang baru. Silaturahmi baru link baru. Ini kesempatan untuk semakin mengembangkan sayap bisnis. Banyak relasi banyak pula rejeki, semoga. Satu hal yang pasti adalah bahwa rejeki selalu terselip dalam silaturahmi. Dalam silaturahmi ada rizki. Tak ada rizki yang muncul tiba-tiba dan kebetulan. Semua butuh proses dan rejeki harus disusul dengan ketemu. Alhamdulillah, Tuhan Maha Pemberi Rizki🙂

 

Pantai Carita, Anyer-Banten, 15/12/2012