De Nekat Creativepreneur [Part. 9]

Posted on December 12, 2012

0



Pendekar Tanpa Tanding

Pendekar Tanpa Tanding (Wiro Sableng)

Pendekar Tanpa Tanding (Wiro Sableng)

If You Can Dream it, You Can Do It-Walt Disney 

Terus terang saya demen banget sama tagline Walt Disney yang satu itu. Kayaknya punya ampuhan yang luar biasa. Kamu punya mimpi, kamu pasti bisa. Sangat menendang imajinasi. Punya mimpi tinggi-tinggi itu buat kita punya semangat lebih dalam berusaha. Saya pun lebih suka bilang; sulit sih, tapi bisa. Ketimbang; bisa sih, tapi sulit. Mustahil itu tidak mungkin, bukan?

Kalau ada orang yang bilang; “sudahlah ngapain mimpi tinggi-tinggi, entar sakit lho kalo jatuh”. Atau; “kalo terlalu berharap, dan harapan itu tidak tercapai, entar malah kecewa”. Itu sih prinsip pecundang! Saya yakin demikian. Tuhan tuh sesuai dengan prasangka kita kok. Kalau kita punya cita-cita tinggi, Tuhan pun bakal ngegerakin semesta buat ngedukung usaha kita. Tuhan bakal buat jalan tol super lebar buat kita ngejalanin mimpi kita itu. Meski kemudian jalan itu banyak kerikilnya. Yah namanya juga hidup, kalo gak mau ada resiko gak usah hidup. Piss.

Tuhan bakal buat jalan tol super lebar buat kita ngejalanin mimpi kita itu

So, mimpi lah setinggi mungkin. Sehingga Tuhan tak segan menyajikan yang terbaik buat kita. Kalau mimpi saja gak berani, atau hanya setinggi atap rumah gimana Tuhan mau ngasihnya? Sesuatu yang biasa saja dan tidak istimewa ngapain dimimpikan. Toh tanpa mimpi itu kita pasti bisa mencapainya. Dan Tuhan pasti dengan satu kedipan mata langsung ngabulin tuh mimpi tanpa berkonsultasi dulu sama kita. Buat Tuhan berpikir panjang dong buat ngabulin rumitnya mimpi kita. Hehe..

Seperti Wiro Sableng

Nah, ini mimpi saya dari dulu sampai sekarang, jadi pendekar tanpa tanding. Saya biasa dari kecil doyan banget baca buku Wiro Sableng-nya Bastian Tito. Sang penulis, yang juga bokapnya Vino G. Bastian, ini emang jago bikin tokoh dengan karakternya yang unik. Sang tokoh, Wiro Sableng, dengan karakter nyelenehnya dan gilanya mampu menjadi oase di tengah tandusnya dunia perceritaan Indonesia kala itu. Saya demen banget dengan Mas Wiro yang superhero dan merakyat, selain juga memang sableng. Seperti halnya hidup, Wiro Sableng juga membawa hidupnya dengan ‘kegilaan’. Lho orang hidup ini juga panggung sandiwara kok, ngapain serius amat. Orang serius cepet nikah lho. Hehe..

Wiro Sableng juga membawa hidupnya dengan ‘kegilaan’. Lho orang hidup ini juga panggung sandiwara kok, ngapain serius amat. Orang serius cepet nikah lho

Kalau kondisi mood sedang gak bersahabat saya suka kembali pada mentalitas anak kecil yang bisa maen sepuas hati tanpa beban. Kayaknya hidup tuh tanpa beban buat mereka. Gak ada beban utang sama teman, gimana beresin tugas yang berjibun, tagihan kontrakan belum lunas, bla bla bla. Pengen balik ke kondisi saat kanak-kanak kayak gitu kalo lagi penat. Ini semacam katarsis di saat-saat otak buntu dan butuh refreshing. Ujan-ujanan dan bisa maen air kapan saja dan dimana saja tanpa harus malu sama tetangga sebelah atau sama si doi. Hehe..

Oh iya, back to laptop. Kita lanjutkan lagi soal dunia persilatan setelah ngomong ngalor ngidul. Saya suka berandai-andai waktu kecil, pas nanti gede pengen jadi pendekar yang tanpa tanding. Kali ini saya serius. Tentu maknanya bukan lagi seperti Mas Wiro yang harus memakai kostum ala pendekar, pake sendal bertali sampe dengkul, gondrong dan pake ikat kepala, kemana-mana ngegondol kapak 212-nya, plus hobinya asah pedang. Maksudnya pengen jadi pribadi yang diharapkan masyarakat lewat kebaikan. Itu kenapa sekarang saya cinta banget dengan dunia wirausaha (entrepreneurship). Saya pengen jadi pendekar kreatif alias creative entrepreneur (creativepreneur). Dimana banyak orang tersenyum lihat kita. Kehadiran kita tuh begitu dinanti oleh mereka.

Dengan menjadi itu, saya yakin bisa lebih banyak lagi berbagi, menebar kebaikan, dan ber-passion ria, berkreativitas, dan bisa hidup cara gue. Hehe.. Inilah makna pendekar jaman sekarang. Intinya adalah gimana caranya saya dapat menjadi Rahmatan lil ‘Alamin, karena inilah sebaik-baiknya manusia, yang bisa bermanfaat buat sesamanya. Menjadi pendekar kreatif berarti mampu berbagi dengan mendirikan usaha sehingga bisa menarik banyak orang. Alasan yang lebih mendasar adalah soal kebebasan berpikir dan beride. Kalau saya bekerja, maksudnya terikat dengan pihak lain, saya tidak bisa berpikir bebas. Saya terikat, itu sama halnya dengan saya tidak bisa berkreatif ria dengan ide-ide saya—yang semoga bermanfaat.

Saya yakin 100% jika Indonesia butuh saya. Hehe.. Ini antara geer (gede rasa) atau PD (percaya diri). Tapi, dalam kamus hidup saya lebih baik geer dibilang geer daripada minder. Karena minder identik dengan pesimis, dan itu menghalangi kita jadi kreatif. itu haram! Indonesia butuh entrepreneur-entrepreneur muda yang punya semangat super. Amerika, Australia, Singapura, dan negara-negara maju lainnya mereka maju sebab banyak entrepreneurnya, bukan pegawai atau karyawannya. Sektor inilah yang mau tidak mau suka atau tidak suka menjadi pilar pembangunan yang mendongkrak ekonomi bangsa. Proven!

Menjadi wirausahawan adalah juga menjadi pendekar. Dan, untuk menjadi tanpa tanding, kita perlu melewati seribu tantangan. Kita harus digodok dulu dalam kawah candradimuka biar sakti mandraguna. Ini sudah saya pikirkan matang-matang. Sudah dua tahun ini saya menggeluti dunia wirausaha. Dan, masih samar-samar. Tapi, saya anti nyerah. Orang sukses gak nyerah, dan orang nyerah gak sukses. Ini prinsip saya, meskipun belakangan saya baru paham jika sukses itu gak bagus (sukses=suka sesama). Hehe.. Bukan itu ding. Maksudnya gini, saya sepakat 100% dengan Om Robert T. Kiyosaki yang bilang jika, “sukses itu guru yang jelek”. Katanya, seorang wirausahawan jangan dulu berpikir sukses. Karena sukses suka melenakan kita dan buat kita gak kreatif. Kalau sudah sukses pasti kita malas berusaha. Hidup ibarat toserba yang serba ada. Ini jelas menaentang kredo kreativitas, “keterbatasan melahirkan kreativitas”.

Menjadi wirausahawan adalah juga menjadi pendekar. Dan, untuk menjadi tanpa tanding, kita perlu melewati seribu tantangan. Kita harus digodok dulu dalam kawah candradimuka biar sakti mandraguna

Sukses? Nanti saja lah ya. Hehe.. Mumpung masih muda dan masih banyak kesempatan untuk mencoba. Coba sesuatu hal yang baru biar salah. Kalau kita salah pasti kita jadi belajar. Makin banyak pengalaman khan makin bagus buat ngasah kreativitas dan daya imajinasi kita. Dan, dua tahun ini saya telah banyak gagal dan banyak juga belajar. Alhamdulillah, Tuhan masih memberi kegagalan, dan saya syukuri itu. Saya bangun bisnis mulai dari nol banget. Jadi wajar kalo gagal berulang kali. Tapi, inilah pelecutnya, kalau mulai bisnis dengan banyak modal (duit dan pengetahuan) terus berhasil khan wajar. Nah, kalau kayak saya yang nol modal tapi nanti berhasil khan jadi kurang ajar ya. Hehe..

Saya tidak belajar ilmu dan teori-teori bisnis saat kuliah. Saya benar-benar mulai lagi dari nol. Jadi, menuju berhasil itu butuh proses dan waktu. Khan gak lucu kalo tiba-tiba berhasil, wong background pendidikan saya saja Administrasi Negara. Bukan kajian Administrasi Bisnis. Jaka Sembung naik ojek, gak nyambung jek. Hehe.. But, business is all about art. Jadi jalani saja sambil terus belajar dan bersilaturahmi. Satu lagi, saya tidak bermodal. Dalam membangun bisnis ini saya cuma modal keyakinan dan modal dengkul. Saya yakin saja apapun bisa tercapai selama ada keyakinan. Dari keyakinan akan lahir semangat, dari semangat lahir usaha, dari usaha timbul doa.

Saya nanti akan coba buktikan kepada mereka yang memandang sebelah mata dunia bisnis. Bahwa dunia ini juga menjanjikan tentunya bagi mereka yang sungguh-sungguh berusaha. Meski jalannya berliku, tapi toh gak ada salahnya mencoba hal baru. Semua patut dilewati dalam menuju hasil yang terbaik. Jagoan pasti menang diakhir, seperti dalam film. Jangan sukses dulu, gagal dan belajar dulu saja. Entar juga ketemu kok suksesnya. Intinya hidup ini tuh harus berlandaskan mimpi, idealisme, dan Tuhan. Sudah, cukup tiga itu saja. Insya Allah semua dimudahkan. Bismillah🙂

 Jagoan pasti menang diakhir, seperti dalam film