De Nekat Creativepreneur [Part. 8]

Posted on December 5, 2012

0



Jerry Maguire

Jerry Maguire

Seperti Jerry Maguire

Dicky Fox said; “The key to this business is personal relationships”

Sudah beberapa minggu ini saya sempat ilang mood untuk nulis. Entah kenapa. Datang tiba-tiba. Kemalasan, seperti biasa, datang tanpa ketok pintu terlebih dulu. I’m stuck. Hal wajar karena biasa menjangkiti orang-orang jika sedang nganggur. Kemarin-kemarin ada kerjaan, otak seakan penuh dengan ide dan siap berkreativitas. Tapi, saat kerjaan beres, hanya kosong yang ada. Otak jadi tumpul seketika itu. Bhakan buat menggerakan jari-jari diatas keyboard saja susahnya setengah mati.

Seperti biasa, saya coba melampiaskan kekosongan dengan baca dan nonton. Ini cara paling efektif dalam mencoba kembali memanggil ide saat ia pergi tanpa permisi. Dan, hari ini saya temukan satu film menarik dan so inspiring. Judulnya Jerry Maguire. Film yang bertahun 1996 ini menampilkan bintang yang sudah tak asing lagi di kalangan dunia hiburan Hollywood, yakni Mas Tom Cruise dan Mbak Renee Zellweger. Saya pake Mas dan Mbak biar agak sedikit Indonesia. Atau biar dibilang akrab sama mereka. Halahh..ngelantur. Hehe..

Tom sangat apik dan piawai dalam memainkan peran sebagai seorang agen olah raga (Jerry Maguire). Agen pembimbing karier yang smart dan tahan banting. Sangkin smart-nya malah bikin blunder dan dikeluarkan dari perusahaan tempat dia bekerja (Sport Management International).

Ya, dalam dunia bisnis sangat wajar jika saling senggol dan saling sikut, pun saling tendang. Siapa yang jelek performanya dan kalah bersaing, maka siap-siap harus angkat koper. Performa bagus pun kadang menjadi senjata makan tuan dalam dunia ini. Jika kita berada pada lingkungan kerja yang sangat kompetitif, maka baiknya performa kita kadang menjadi satu hal yang membuat teman sekerja menjadi iri. Mereka iri dengan kerja bagus kita. Jika ada 10 orang dalam satu tim, sedangkan hanya kita satu orang yang berperforma bagus, dan sisanya, sembilan orang lainnya dibawah standar, ya siap-siap saja kita jadi public enemy. Bersiaplah untuk dikambinghitamkan dan terusir dari tim. It’s the fact!

Bagaimana reaksi kita saat dicela atau dipuji? Ini yang menentukan nilai seseorang

Contoh yang ditunjukkan dalam film ini sedikit menendang batas normal kita. Dimana yang bagus belum tentu bertahan lama dalam tim. Apalagi yang jelek. Alamat sudah. Menjadi jelek atau bagus dalam bekerja itu adalah pilihan yang tentu sepaket dengan resikonya masing-masing. Ini soal pujian dan cacian. Dua bentuk penilaian yang sebetulnya sama, hanya beda rasa saja. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya. Agak klise sih. Tapi, ini penting. Ini menyangkut soal kualitas individu. Soal kualitas seseorang manusia. Bagaimana reaksi kita saat dicela atau dipuji? Ini yang menentukan nilai seseorang.

Jerrry menunjukan kepada kita bagaimana tindakannya saat dia dipecat dari perusahaan yang dia ikut bangun bersama teman-temannya. Menjadi seorang yang terusir di rumahnya sendiri. Menyakitkan tentunya. Rasa-rasanya seperti diguncang gempa 100 skala richter, sehingga langit pun berasa runtuh. Gempa 9.1 SR pun sudah cukup membuat tsunami, apalagi 100 SR? Lebay.. Hehe.. Tapi, apa yang ditunjukan seorang Jerry dapat menjadi pembelajaran bagi kita, terutama bagi mereka yang ingin, mau, atau tengah menjalani dunia wirausaha (entrepreneurship). Jerry bangkit. Ia tidak lantas ke kamarnya dengan membawa sekantung tisue dan segera memeluk guling sendiri mengunci kamar dan menangis tersedu. Untungnya bukan sinetron Indonesia ya. Hehe..

Apa yang Ia Lakukan?

Ia lalu bertemu dengan Dorothy (Renee Zellweger), seorang rekan kerja yang ikut menjadi pengikutnya. Dorothy resign dan malah mengikuti jejak Jerry. Membantunya membuat bisnis sendiri dalam ranah yang sama, yakni jasa agen olah raga. Mereka berdua kini satu tim. Memakai ruangan kecil sebagai kantornya dengan perlengkapan seadanya. Bukan besar, tapi memang ini minimalis. Kini Jerry mulai belajar dari kesalahan. Membangun bisnis sesuai dengan apa yang diyakininya. Ia menjalankan bisnisnya yang sekarang sesuai dengan anjuran Sang Mentor, yakni Dicky Fox yang bilang, “The key to this business is personal relationships”. Ya, hubungan personal lah yang menjadi hal penting dalam bisnis ini. Satu hal remeh, sepele, dan sederhana sehingga sering diacuhkan oleh banyak orang padahal menjadi satu nyawa dalam bisnis.

Sebelumnya, dalam bisnisnya, Jerry memandang kliennya hanya sebatas orang yang bisa disedot duitnya saja. Hubungan sang agen dengan klien hanya sebatas kepentingan semata. Sang agen bekerja atas dasar upah dan si klien membayar juga karena jasa sang agen mendampinginya. Sudah, seperti itu saja. Tak lebih. Soal perawatan, kesehatan, bahkan sampai perhatian detail kepada klien itu urusan si klien. Sang agen tak mau ambil pusing. Ini yang kemudian diserap dan dijadikan warna bisnis Jerry dan Dorothy, bahwa klien juga manusia yang tentu tersentuh jika emosinya dipahami (personal relationships). Hubungan bisnis juga hubungan kekerabatan bahkan kekeluargaan. Bukan hanya sebatas simbiosis mutualisme. Sini untung situ juga untung. Sekali lagi bukan hanya landasan materi. Tapi, lebih dari itu ada persaudaraan yang lebih penting.

Rod Tidwell (Cuba Gooding Jr.) adalah seorang pemain football yang juga kliennya. Film ini lagi-lagi menunjukan kepada kita apiknya hubungan kedua orang ini, Jerry dan Rod. Jerry tau banget siapa Rod, dan juga sebaliknya. Rod tahu hubungan bahkan alasan Jerry sampai ia kemudian memutuskan menikahi Dorothy yang single parent dengan satu anak. Adakah hubungan klien dan agen yang seperti ini? apakah Anda para entrepreneur juga seperti itu dalam memperlakukan kliennya? Tentu tidak semua. Itulah alasan film ini dibuat, agar kita dapat belajar dan terinspirasi darinya. Membangun jaringan bisnis adalah membangun persaudaraan.

Ketika Jerry dapat sukses dengan menerapkan prinsip Fox, hadangan berikutnya adalah dalam hubungan rumah tangga. Sang klien menunjukan kepada Jerry bagaimana ia (Rod) dapat harmonis dan begitu mesranya bersama sang istri. Jerry seperti tersentil melihatnya, sebab ia dan istrinya tidak bisa seperti itu. Hubungan suami istri antara Jerry dan Dorothy berjalan biasa saja. Bahkan terkesan hambar. Jauh dari sisi intim dan romantisme.

Akhir nilai (value) dalam film ini cukup menendang nurani, terutama bagi para pelaku bisnis (entrepreneur). Bahwa, selain hubungan personal, membangun bisnis juga ternyata tidak serumit membangun rumah keluarga. Sekomplek apapun bisnis kita, ternyata membina rumah tangga jauh lebih sulit. Tak mau gagal untuk kesekian kalinya, akhirnya Jerry sadar dan kembali mendatangi kembali sang istri (Dorothy) dan anaknya untuk kembali hidup harmonis sebagai keluarga kecil.

Kenapa harus merasakan jatuh? Agar kita dapat belajar bangkit lagi

Seorang Jerry Maguire yang gagal berkali-kali. Ditinggal kekasihnya. Dihianati teman dekatnya. Jatuh berulang kali dan belajar bangkit lagi. Berjalan tertatih sebentar kemudian tersandung lagi. Kenapa harus merasakan jatuh? Agar kita dapat belajar bangkit lagi. Tuhan menciptakan manusia sebagai mahluk pembelajar yang artinya terus belajar, bahkan sampai liang lahat. Jika saat dihianati temannya Jerry enggan bangkit, barangkali ia tidak akan merasakan manisnya kesuksesan. Ia hanya mengeluh, meratapi nasib, duduk termenung, menghabiskan bergulung-gulung tisue, mengurung diri terus di kamar. Ia tak bisa bertemu partner hidupnya. Ia tak bisa belajar dari Rod lewat mesranya hubungan rumah tangga, dan lain sebagainya. Tapi, Jerry bangkit dan menjadi manusia tangguh yang tak kenal putus asa. Apa yang ia dapatkan? Ia mendapat segudang hadiah manis dari jerih payahnya.