De Nekat Creativepreneur [Part. 7]

Posted on November 1, 2012

0



“Orang Sukses Gak Nyerah, Orang Nyerah Gak Sukses”

CREATIVITY MENTAL

The world is flat. Begitulah gambaran Thomas Friedman akan abad 21 yang tengah kita jalani. Dunia kian canggih dan serba bisa. Persaingan hidup dalam semesta yang ekspansional ini juga makin sengit. Ada dua pilihan, tetap kreatif untuk survive, atau mati tak berkreasi. Inilah era ide dan inovasi. Era kompetisi dimana kreativitas menjadi mutlak dimiliki dalam membangun kesuksesan.

Antara 9 Pintu dan 1 Pintu

Antara bekerja dan berbisnis. Dalam masyarakat kita tak dapat dipungkiri ada dikotomi semacam itu. Bekerja itu bergaji, sedangkan berbisnis itu tak pasti. Ada lagi yang menarik. Orang kita seringkali menganalogikan kerja dengan nasi, dan bisnis sebagai jajan. Belum dibilang makan jika belum melahap nasi, meskipun kupat tahu, bubur ayam, lontong kari, batagor sudah di perut. Orang kita sulit terus terang sudah makan jika baru sebatas deretan makanan di atas sudah dilahapnya. “Makan ya nasi.” Begitu katanya.

“Sudah makan belum, Mas?”

“Belum, Bu. Baru ngemil lontong kari tadi.”

“Wat? Lontong kari dibilang ngemil?”

Seberapa pun besar pendapatan kita dari berbisnis, itu belum cukup untuk dapat pengakuan. Bandingkan dengan orang yang bergaji pas-pasan hanya dengan menjadi karyawan. Saya yakin 100% yang terakhir ini lebih diakui di Indonesia. Paling tidak buat seorang perjaka yang ingin melamar seorang gadis status pekerjaan begitu penting. Bisa jadi saking pentingnya bisa mengalahkan isi dompet. Gak percaya? Coba buktikan! Anda, yang seorang enterpreneur, datang ke orang tua sang gadis berniat untuk melamarnya.

“Sudah kerja dimana, Dek?”

“Saya gak kerja, Pak. Saya bisnis,”

Nah lho! Apa kata dunia kalau anak saya menikah dengan orang yang belum jelas masa depannya. Kemungkinan besar seperti itu responnya. Status kerja tetap (terikat dengan pihak lain) menjadi semacam tiket masuk ke dalam pintu rumah tangga. Terkesan lebay sih. Barangkali ini hanya semacam anggapan umum saja—jika tidak ingin dikatakan sebagai sebuah ketakutan. Atau barangkali pengalaman pribadi. Hehe..

Saya tidak bermaksud untuk menakut-nakuti orang yang belum, akan, atau sudah memasuki dunia entrepreneurship. Tapi, setidaknya kesan seperti itu yang muncul sekarang. Ketika dibilang bahwa berdagang itu ada di 9 pintu rizki Tuhan, maka jangan salah 9 pintu halangan dan tantangan pula yang menghadang. Tidak mudah lho. Tapi, bukan berarti tidak bisa. Pasti bisa! Masih mau berebut antrian untuk yang 1 pintu? Kayaknya enggak deh. Lebih baik bilang; “Sulit sih, tapi bisa!” daripada “Bisa sih, tapi sulit!”.

Ini Kuncinya

Saya sengaja mengawali tulisan ini dengan “momok dunia wirausaha”. Bukan maksud untuk menakut-nakuti sekali lagi. Hal ini agar kita benar-benar paham akan dunia yang penuh dengan tantangan ini dan juga agar kita benar-benar bersiap mental, pikiran, modal, dan lain sebagainya sebelum menyelaminya. Bahwa cacian, makian, pandangan sinis, dianggap sepele, itu nyata dalam dunia entrepreneurship. “Masih muda kok wirausaha!” Atau, “Sarjana kok dagang!” “Mana modalnya? Apa kemampuan Anda? Sudah punya pengalaman belum?”. Rentetan kicauan miring itu 100% asli dan bukan sebatas ketakutan semata.

Dunia wirausaha (entrepreneurship) memang dunia yang penuh ketidakpastian. Segala kemungkinan sangat bisa terjadi dalam dunia ini, terutama kegagalan. Resiko, salah, rugi yang berujung pada sebuah kegagalan adalah ujian yang wajib dihadapi dan dialami oleh seorang dalam berwirausaha. Beranikah menghadapi semua itu? Coba Anda berpikir 100 kali sebelum memulai, karena dunia ini memang tidak nol resiko.

Kita pasti pernah tersandung—bukan cuma dalam berwirausaha. Inilah satu latihan untuk kita maju dan berkembang. Kegagalan dalam berwirausaha adalah sebagai batu uji yang menjadikan kita berpikir. Anggap saja itu untuk asah mental. Bukankah kita bisa terlatih oleh sebab kegagalan? Seorang Bill Gate saja bilang jika sukses itu guru yang buruk. Karena kita seringkali lupa berinovasi dan manja jika sukses sudah didapat. Belajar dari suatu kegagalan dan kejatuhan berarti belajar untuk berharap. Kita akan mampu menghargai harapan justru dari kegagalan. Anda ingin berwirausaha berarti Anda juga harus berkorban. Karena kita tidak akan pernah merasakan apa itu kemenangan tanpa adanya pengorbanan. Jadi, beranilah bertaruh.

Wirausaha itu manis hasilnya lho. Gak percaya? Coba saja tengok kisah sukses Keripik Pedas khas “Maicih”, atau kawin silang coklat dodol “Chocodot”, dan banyak lagi kisah sukses lainnya dalam wirausaha. Harapan-harapan tersebut yang setidaknya menjadi cermin bagi kita untuk bisa seperti mereka. Bisa bayangkan berapa pendapatan mereka tiap bulannya? Tak terbayangkan pasti, saking banyaknya. Mereka tidak bergaji, karena menggaji. Mereka tidak bekerja, karena mempekerjakan.Gak terikat dengan orang lain dan bebas berekspresi.

Kuncinya satu, yakni serius. Apapun jika dijalani dengan serius pasti menghasilkan. Jika gagal sekali coba lagi. Siapa tahu kedua kalinya gagal lagi. Hehe.. Kalau baru cuma dua kali coba terus langsung nyerah itu bukan jiwa entrepreneur namanya. Apalagi yang mau dicari jika kita sudah mapan secara financial dan punya waktu luang yang banyak. Dalam dunia ini kita bisa punya dua hal tersebut. Punya banyak waktu dan duit ada. Bisa jalan-jalan plus dibayar. Karena banyak orang (yang bekerja) cuma punya uang tapi minim waktu luang.

Perlu berulang-ulang percobaan dalam menggeluti dunia ini. Salah sekali dan dua kali siapa tahu ketiga kalinya rejeki nongol. Kuncinya jangan nyerah. Coba lagi dan lagi. Yang jelas gak ada salahnya mencoba, apalagi buat anak muda. Jadikan inovasi sebagai aset, bukan mobil, uang, bangunan, atau sederet materi lainnya. Kemudian selanjutnya adalah jadikan pelanggan atau pemakai jasa kita sebagai prioritas. Pembeli adalah raja. Kalau kata Peter F. Drucker, bapak manajemen Barat, fokus dalam berwirausaha adalah pelanggan dan bukan profit. Jika fokus ke pelanggan, materi otomatis datang. Tapi, jika fokusnya adalah profit Anda bisa ditinggalkan oleh keduanya (profit dan pelanggan). Jika inovasi dan pembeli jadi aset kita dalam wirausaha materi pun akan mengikutinya. Trust me, it work! Hehe..

“Seringkali sesuatu yang besar bermula dari hal-hal kecil yang terwujudkan”