The Man Behind The Gun

Posted on September 24, 2012

4



City of Joy – Dominique Lapierre

City of Joy adalah kisah tentang bagaimana manusia belajar untuk bertahan hidup, berbagi, dan mencintai di tengah kesulitan hidup yang mendera. Sebuah epik apik karya Dominique Lapierre ini begitu menggugah mata hati dunia bahwa dibalik kesulitan terdapat kekuatan yang begitu luar biasa, yakni cinta kasih.

Dikisahkan ada seorang petani miskin dari sebuah desa di Calcutta India. Ia lah Hasari Pal, seorang petani berumur 32 tahun. Seorang suami dari Aloka dan seorang ayah dari Amrita, Manooj, Shambu. Dalam segala keterbatasannya, ia juga harus menanggung hidup ayah dan ibunya yang jompo, Prodip dan Nalini.

Tangguhnya Hasari Pal turut menginspirasi Stephan Kovalski, seorang misionaris muda yang dengan rela meninggalkan gempita masa mudanya demi untuk berbagi dengan keterpurukan Calcutta. Kovalski menjadi tergugah oleh sebab semangat Hasari Pal-Hasari Pal di Calcutta Calcutta. Kemiskinan, penyakit, kumuh, dan kotornya Calcutta menjadi PR besar baginya. Karena tujuan kemanusiaan inilah ia rela melepas ‘kebahagiaan’ masa mudanya dan berjuang bersama masyarakat Calcutta.

Semangat mereka, cinta mereka pada Tuhan, toleransi dan kasih sayang sesama mereka adalah keindahan yang terselip dibalik penderitaan Calcutta. Kawasan dengan berbagai warna agama dan warna kesulitan hidup adalah gambaran Calcutta saat itu. Kehidupan mereka adalah bukti manifestasi cinta Tuhan, pun kian menambah keagungan manusia, bahwa kita sejatinya mampu terlepas dari betapapun peliknya persoalan. Kita tentu bisa saja lebih besar dari masalah yang besar jika kita berusaha dengan cinta.

Buat saya, City of Joy layaknya senandung tentang kasih, toleransi, kekuatan, pengorbanan, dan harapan. Kita jelas dididik oleh keadaan. Jangan pernah berharap akan kemenangan jika kita sendiri enggan berkorban. Pengorbanan diri seorang Hasari Pal yang ingin menikahkan anaknya menjadi teladan juga inspirasi manusia akan makna hadirnya di dunia. Ia juga sekaligus mengajari kita bagaimana hidup, yang bukan hanya soal seberapa banyak yang kita capai dan keruk dari bumi ini, melainkan soal bagaimana dan seberapa kita mampu punya arti dengan berbagi.

Calcutta dikepung oleh kemiskinan, lepra, kumuh, dan segala tetek bengek pekatnya keterpurukan lainnya. Justru rentetan keterpurukan itulah yang membuat Calcutta kemudian bisa bangkit dan menjadi kawasan maju seperti sekarang. Siapa sangka? Bahwa dengan kekuatan cinta kasih mereka kini dapat hidup layak. Tiap orang punya masalah. Manusia pun pasti diuji. Semangat Calcutta untuk bangkit sungguh menginspirasi kita bahwa setiap orang dapat keluar dari kusutnya persoalan. Mengeluh bukan jawaban. Mengeluh sama artinya dengan bunuh diri.

Not the gun. But, the man behind the gun.