Bicara Tanpa Kata

Posted on September 2, 2012

0



Kita berdua duduk bersama. Hidup satu atap. Tapi, saling bicara tanpa kata-kata. Hanya tertegun satu sama lain. Kita tak diam, sebab kita memang bergerak. Dan bicara tanpa banyak kata buat kita jadi dewasa. Menguji efektivitas terhadap relativitas.

Memandangmu memang cukup membuat rasa ini serasa penuh asa. Imajinasi akan hijaunya masa depan perlahan menyambangi. Membuatku rela bertahan hanya untuk menghabiskan beberapa detik saja. Inginku memberikan sedikit kesejukan. Habiskan saja hari ini sebab esok hari belum pasti.

Serasa sebuah jarum suntik menembus kulit dan pelan-pelan masuk ke dalam pembuluh darahku. Hanya dalam beberapa detik aku terkulai lemas. Melayang dan terbang. Tubuh ini menjadi ringan. Tak sadar. Seperti obat bius dengan kadar tinggi sehingga menjadikanku terlelap dalam waktu yang panjang dan sangat lama. Bukan. Ini bukan bius. Tapi ini jenis sianida yang mencekik keras leherku. Tak ada ruang oksigen berlalulalang. Alirannya yang menuju jantungku praktis macet. Sesaat tiada lagi penat. Inilah maut.

Mendadak bumi berrotasi dengan sangat pelan. Belaian angin seperti adegan slow motion dalam sinema. Sang aktor utama tak cinta lagi dengan si aktris lawan mainnya. Tak ada lagi jalinan asmara. Aku jatuh. Melayang terombang-ambing oleh angin. Butuh waktu sehari untuk mencapai tanah. Seperti tak ada ruang ragu jika jatuhku ini bukan karena angin tadi. Ini skenario buatan. Bukan sang sutradara yang menjalinkan cerita atau bahkan mengatur alurnya. Bukan pula sang produser. Tahu apa mereka itu? Ini skenario diluar skenario.

Itu terjadi sebab pohon sudah tak mengingini aku menempel di tubuhnya. Sang aktor utama merasa terusik sehingga menjadikanku terusir.

Why leaf fall off tree?

Posted in: Poem, Short Story