Aurat Bikin Pahala Puasa Jadi Sekarat

Posted on August 5, 2012

0



Hari itu puasa hari ke-2. Masih sangat dini karena baru dua hari. Tapi, rasa-rasanya sudah sangat luar biasa tantangannya. Bukan soal tak tahan menahan lapar. Bukan pula sebab melihat es campur warna-warni berderet di pelataran depan jalan pukul empat sore. Ini soal yang lebih ‘menarik’, soal cewek cantik.

Aku sadar dan sangat paham ini bulan Ramadhan. Artinya aku sedang puasa. Dengan itu aku wajib jaga mata alias pandangan. Tak boleh sembarang menoleh. Bisa-bisa nafsu meleleh. Tapi, aku juga sadar jika aku lelaki yang suka tergoda lihat rok mini. Dan, terus terang siang itu pemandangan begitu mengagitasi. Buka puasa masih 5 jam lagi.

Gadis berambut panjang menjuntai hingga punggung melenggang turun dari angkot. Dataran aspal sepertinya menguap. Terik surya ganas merambat melalui pori-pori kulit. Wajah ini pun bak babak belur ditampar olehnya. Tak sadar aku seperti dihujani keringat. Siang itu selepas Dzuhur aku pulang dari kampus.

Rok mini dan memakai kemeja tipis adalah satu kesejukan, antisipasi banjir keringat yang fatal. Ia melenggang percaya diri. Rok mini 15 centi diatas lutut terlihat melekat erat pada medio tubuh. Sehelai gelang perak tipis melingkar di kaki sebelah kanannya. Aroma parfum dengan kandungan alkohol diatas 30 persen kian menarik indera. Sambil berjalan, tak henti ia mengibas-ibaskan tangannya. Aku yakin ia kepanasan.

Jarakku dengannya hanya terpaut 3 meter, tepat dibelakangnya. Tiada maksud menguntitnya. Tapi, ini adalah jalan pulang yang mestinya kulalui. Jalan ini satu-satunya menuju ke tempatku. Di depan, sekira 20 meter lagi adalah pangkalan ojek. Dan tentunya para lelaki yang mengisi tempat itu. Apa yang akan terjadi? Anda tentu sudah tahu.

Gara-gara Aurat Pahala Puasa Jadi Sekarat

Saling menghormati dan rasa toleransi sangat berarti. Tolong jangan pakai rok mini disaat puasa begini. Mereka yang tidak berpuasa hormati yang berpuasa, begitu pula sebaliknya. Menjaga pandangan dan dandanan, terutama bagi perempuan muslimah, adalah wajib.

“Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: ’Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan khumur (jilbab)nya ke dadanya…’” (QS Annur:31).

Dalam hidup berbangsa ada yang namanya budaya malu. Dalam kehidupan beragama juga ada aturan sesuai agama masing-masing. Itulah gunanya aturan, untuk menjaga dari berbuat keji dan mungkar. Jika cara berpakaian Anda sopan yang lainnya pun segan.

Puasa memang bukan sekadar soal hubungan antara manusia dengan Tuhannya (hablumminallah). Puasa juga adalah ibadah antara manusia dalam hubungannya dengan manusia lain (hablumminannas). Oleh sebab itu, pantas ketika Allah menjanjikan ganjaran yang begitu besar bagi orang-orang yang ‘benar-benar’ menjalankan ibadah puasanya, terutama soal menjaga pandang.

Menjalani puasa berarti butuh kesadaran. Bukan cuma kesadaran thabi’i (yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari yang menjadi sebuah kebiasaan manusia) dan kesadaran ‘ilmi (kesadaran yang di dasarkan pada keilmuan) semata. Melainkan juga butuh kesadaran imani, yakni sadar berlandaskan iman. Orang yang berpuasa adalah mereka yang beriman, sesuai dasar hukumnya.

Puasa jelas bukan cuma ibadah manusia dengan Tuhannya (hablumminallah). Puasa juga merupakan sebuah ibadah antara manusia dalam hubungannya dengan manusia lainnya (hablumminannas). Dengan menjaga dandanan (bagi perempuan), maka akan menjaga pandangan (bagi lelaki). Jangan hanya gara-gara aurat pahala puasa kita jadi sekarat. Allah menjanjikan pahala yang luar biasa bagi kita yang benar-benar berpuasa dengan iman.

Hanya Allah yang besar. Kita, manusia, dunia, semesta ini adalah kecil di hadapannya, tidak berarti apa-apa. Dan sesungguhnya kesemuanya itu adalah milik-Nya yang haq.

Aslamtu wajhi illaika…

 

Dipost-kan juga di : http://sosbud.kompasiana.com/2012/07/28/jaga-dandanan-jaga-pandangan/