Kesadaran Berpuasa

Posted on July 23, 2012

0



Puasa memang bukan sekadar ibadah yang berhubungan antara manusia dengan Tuhannya (hablumminallah). Puasa juga merupakan sebuah ibadah antara manusia dalam hubungannya dengan manusia di dunia ini (hablumminannas). Oleh sebab itu, pantas ketika Allah menjanjikan ganjaran yang begitu besar bagi orang-orang yang ‘benar-benar’ menjalankan ibadah puasa.

Iman seseorang berperan penting dalam ibadah yang satu ini. Jika dilihat dan dicermati lebih dalam lagi, manusia sejatinya memiliki tiga bentuk kesadaran.

Pertama , kesadaran ‘adi (thabi’i), yaitu kesadaran yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari yang menjadi sebuah kebiasaan manusia. Suatu bentuk kesadaran yang tidak membutuhkan pertimbangan pikiran dan bisikan suara nurani manusia. Seseorang belajar sesuatu hal, berarti ia melakukannya secara sadar. Orang yang membaca suatu tulisan, ia pun melakukannya sacara sadar. Orang yang tidak mempunyai ksadaran tersebut berarti seorang tersebut dalam keadaan mabuk, dan orang yang dalam keadaan yang demikian tidak diwajibkan untuk berpuasa.

Kedua, kesadaran ‘ilmi, yaitu kesadaran yang di dasarkan pada keilmuan. Dalam hadistnya nabi Muhammad pernah bersabda, “tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang kubur”. Artinya adalah bahwa umat Islam dituntut untuk mencari ilmu dari sejak ia dilahirkan sampai pada sebelum maut menjemputnya. Karena ilmulah yang telah mengantarkan kita sampai pada detik ini, ilmulah yang telah membuka tabir kegelapan zaman jahilliyah dan membukanya menjadi zaman terang benderang.

Jangan jadikan puasa sebagai sebuah tradisi yang secara turun-temurun dijalankan setiap tahun pada bulan Ramadhan, dan kita hanya sekadar ikut-ikutan melakukannya secara tradisi tanpa tahu maksud menjalankannya. Namun, kita berpuasa karena tahu rukun-rukunnya, dan apa saja yang dibolehkan dan tidak dibolehkan. Dan hanya dengan ilmu itulah kita akan bebar-benar mengetahui yang demikian, sehingga kita memang menjalankan ibadah puasa yang benar.

Kesadaran ‘ilmi bukanlah segalanya untuk dapat menjalankan puasa dengan sebenar-benarnya. Untuk dapat beragama secara utuh seseorang tidak hanya berhenti ketika ia telah berilmu. Tak heran ketika kita sering melihat orang yang mabuk minum minuman keras. Padahal ia tahu bahwa minuman keras itu haram. Orang yang berjudi, sedangkan ia tahu bahwa judi juga haram. orang-orang seperti inilah yang kepadanya hanya dibekali oleh kesadaran ‘ilmi semata.

Orang-orang yang beriman harus sampai kepada kesadaran yang ketiga, kesadaran imani, yaitu suatu bentuk kesadaran yang berlandaskan iman, sehingga kita tidak dulu puas hanya dengan Islam, tapi Islam dan iman. Kesadaran inilah yang tercermin dalam kalimat tauhid yang sering kita ucapkan, la ilaha ila Allah. Tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah. Tidak ada sesuatau yang pantas ditakuti selain Allah. Itulah sebenar-benarnya kesadaran manusia yang harus dimiliki. Allahu akbar, Alllah Maha Besar. Hanya Allah lah yang besar, dan kita, manusia, dunia, semesta ini adalah kecil di hadapannya, tidak berarti apa-apa, dan sesungguhnya kesemuanya itu adalah milik-Nya yang haq.