Marhaban Ya Ramadhan

Posted on July 19, 2012

3



“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (Q.S. al-Baqarah {2}: 183)

Bulan Ramadhan merupakan bulan dengan sejuta karunia. Bulan di mana Al Quran pertama kali turun sebagai wahyu kepada Muhammad sebagai berita gembira bagi umat manusia. Di dalamnya juga terdapat satu malam yang keutamaannya lebih dari seribu bulan, yaitu malam laillatul qadr. Pantas saja jika kedatangannya teramat ditunggu oleh berjuta umat Islam di belahan dunia ini. Namun, apakah bulan Ramadhan yang di dalamnya sarat makna memang wajib untuk umat Islam? Apakah umat Islam memang benar-benar wajib berpuasa?

Ketika membaca dan benar-benar memaknai Surat al Baqarah ayat 183 di atas, maka kita akan sadar bahwa sesungguhnya puasa itu tidak wajib bagi umat Islam. Secara gamblang disebutkan bahwa yang di wajibkan berpuasa ketika tiba bulan Ramadhan yaitu orang-orang yang beriman. Ya, sekali lagi hanya orang-orang Islam yang beriman yang benar-benar diwajibkan berpuasa. Apakah semua orang Islam beriman? Lalu, pantaskah kita yang Islam masih saja melakukan praktek kotor, korupsi, nepotisme, kolusi, maling, berbohong, manipulasi, berjudi, dll.?

Puasa sejatinya menahan nafsu dari berbuat keji dan munkar. Ia bukan hanya merupakan suatu bentuk ibadah semata, melainkan juga suatu pengabdian manusia kepada Sang Khalik-nya, Allah SWT (yang segala kesempurnaan ada pada-Nya). Kesabaran, terutama soal nafsu, manusia benar di uji adanya.

Jika kita berpijak pada pandangan materialistis-sekuler, puasa dirasa sebagai sebuah ibadah yang begitu berat. Bagaimana tidak, dari mulai terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari selama kurang lebih 12 jam lamanya menahan lapar dan dahaga (menahan kebutuhan biologis). Dan, hal tersebut akan berdampak pada letihnya fisik dan pikiran yang menjalankannya. Tak heran ketika Jean de la Fontaine, seorang penulis Perancis pernah berkata bahwa orang yang sedang menahan lapar tidak bisa menangkap suatu nasihat yang baik.

Hal tersebut bisa jadi berlainan dengan empirisnya. Tak ada satu orang pun yang mati gara-gara puasa toh? Orang-orang yang beriman justru akan mendapatkan sebuah pembelajaran yang sangat berarti manakala ia berpuasa. Belajar untuk menahan diri dari lapar, dahaga, dan berhubungan seksual juga dari segala perbuatan yang dilarang oleh Tuhannya. Dengan menahan diri dari hal-hal yang demikian itu, maka kualitas kepribadian manusia akan meningkat. Bukankah manusia yang akan diangkat derajatnya oleh Allah adalah manusia yang sanggup dan mampu untuk menahan dan mengendalikan dirinya? Faktor iman seseorang akan banyak berbicara dalam hal yang demikian tersebut.

Sudahkah kita menjadi Islam yang benar-benar beriman?