Korporasi (Belum) Mati

Posted on June 21, 2012

0



Korporasi secara sederhana diartikan sebagai perusahaan atau badan usaha yang sangat besar atau beberapa perusahaan yang dikelola dan dijalankan sebagai satu perusahaan besar (KBBI, 2011). Joel Bakan, seorang profesor dari University of British Columbia, menyebut bahwa sistem korporasi secara jelas memandatkan untuk memperoleh, tanpa henti dan tanpa kecuali, keuntungan pribadi (self interest), tanpa mempedulikan apakah upayanya tersebut berdampak merugikan kepada pihak-pihak lain atau tidak (Bakan, 2004). Inilah yang kian memunculkan kesan jika korporasi sangat jauh dari keberpihakan kepada rakyat.

Bakan bahkan menyebut korporasi sebagai institusi yang tidak masuk akal, tidak mudah dikendalikan (pathological), dan makhluk berbahaya yang memiliki kekuatan untuk melemahkan (wields) orang lain dan masyarakat (Bakan, 2004). Dalam bukunya, “The Corporation: The Pathological Pursuit of Profit and Power”, ia menyatakan bahwa korporasi diciptakan oleh hukum untuk berfungsi seperti psikopat yang berperilaku merusak, dan bila tidak dikendalikan menjurus kepada skandal dan kehancuran. Prinsip-prinsip kerja korporasi, seperti egois, pengecut, amoral, tidak pernah merasa bersalah terhadap pihak lain, berbahaya bagi manusia yang menjadi pekerjanya, dan menghalalkan segala cara—termasuk menabrak norma-norma sosial dan aturan hukum–untuk mencapai tujuannya, seperti disebut oleh Bakan, mengarah kepada kepribadian yang antisosial dan psikopat.

Peter F. Drucker, pakar manajemen dari MIT, menyebutkan jika korporasi memang sebagai institusi ekonomi dan berbadan hukum legal yang seringkali, karena statusnya tersebut, egois dan tidak terkendalikan. Dampak buruknya jelas, yakni dapat mengorbankan kepentingan ekonomi individu dan masyarakat. Alih-alih tanggung jawab sosial korporasi (Corporate Social Responsibility) yang dijalankan dengan halus, seringkali hanya dijalankan untuk mencapai keuntungan materi dan dilakukan sebagai topeng menutupi karakter korporasi yang sebenarnya. Masyarakat seperti terhipnotis oleh kemasan manis CSR tersebut, dan menganggapnya sebagai hadiah lebaran yang menguntungkan. Padahal, dibalik semuanya itu terselip niat mengeruk materi.

Dalam kontek ini, pemerintah seringkali terlihat tidak sungguh-sungguh dalam mengatur keberadaan dan sepak terjang korporasi. Kebijakan (public policy) pemerintah dirasa masih melindungi korporasi di satu sisi, sedangkan disisi lain merugikan rakyat. Joseph E. Stiglitz, dalam “Globalization and Its Discontent”, menggambarkan bagaimana kebijakan publik dipengaruhi oleh kepentingan privat (korporasi) melalui upaya lobi, sehingga berhasil dalam upaya privatisasi dan liberalisasi pasar. Ideologi pasar bebas berperan sebagai wajah depan dari segala kepentingan korporasi ini. Dan, ending-nya sudah dapat ditebak, yakni timbulnya krisis ekonomi di berbagai negara.

Posted in: Article