Organisasi : Suatu Definisi

Posted on May 4, 2012

0



klosetide

Kajian ilmu administrasi negara memiliki kecenderungan kepada masalah pengaturan dan keteraturan proses kerjasama manusia dalam organisasi, baik organisasi publik, organisasi swasta, maupun organisasi kemasyarakatan dalam bangunan ilmu administrasi. Bellone menyebutnya sebagai “is being asked to help develop the future,” yakni diminta untuk membantu mengembangkan masa depan (Bellone, 1980:68). Administrasi negara—yang juga adalah bagian yang tidak terpisah dari kajian administrasi—merupakan motor pendorong untuk perkembangan-perkembangan kajian-kajian organisasi dan manajemen di kemudian hari.

Robbins menyatakan bahwa teori organisasi yang berkembang sekarang adalah hasil dari sebuah proses evolusi. Organisasi terus menerus berevolusi dengan menata dirinya dalam upayanya menjawab serentetan perubahan yang dinamis dalam kompleksitas lingkungan. Secara sederhana dan dalam pengertian yang umum, organisasi diartikan sebagai struktur dan pembagian tugas. Stephen P. Robbins mendefinisikan organisasi sebagai berikut, “Organization is a consciously coordinated social units, composed of two or more people, that function on a relatively continuous basis to achieve a common goal or set of goals” (Robbins, 1986:5).

Pandangan yang lain datang dari Gibson. Menurutnya, “Organisasi pada dasarnya merupakan suatu bentuk kerja sama antar individu dan merupakan pula proses penggabungan aktivitas untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya” (Gibson, 1997:8). Pada hakekatnya organisasi tidak akan mampu berdiri sendiri. Organisasi merupakan bagian dari sistem yang lebih besar dengan memuat banyak unsur lain seperti pendidikan, politik, pemerintahan, dan organisasi lainnya.Lebih lanjut lagi Robbins menjelaskan bahwa suatu organisasi dibangun untuk mencapai tujuan, karenanya harus fleksibel, tidak kaku, memiliki sistem terbuka, rasional dan konstelatif serta mengikuti perkembangan dan kemajuan teknologi (Yudiati, 2005:44). Menurutnya organisasi memiliki paling tidak 4 pilar utama, yakni : (1) Organisasi sebagai sistem; (2) Adanya pola aktivitas; (3) Adanya sekelompok orang; (4) Adanya tujuan yang ditetapkan sebelumnya.

Blake dan Moulton menyebutkan tentang organisasi, yang menurutnya didasarkan pada tujuh kandungan (seven properties) yang melekat pada suatu organisasi, yakni :

“(1) Senantiasa memiliki tujuan; (2) Memiliki kerangka (struktur); (3) Memiliki cara yang memberikan kecakapan bagi para anggotanya untuk melaksanakan kerja dalam mencapai tujuan organisasi (know-how); (4) Mengandung proses interaksi hubungan kerja antar orang-orang yang bekerja sama untuk mencapai tujuan tersebut; (5) Memiliki pola kebudayaan sebagai dasar hidupnya; (6) Memiliki hasil-hasil yang ingin dicapai” (Blake and Moulton dalam Busri, 1992:43). 

Dari pendapat tersebut, kalimat “memiliki pola kebudayaan sebagai dasar hidupnya” tidak lain adalah berkaitan dengan visi organisasi. Berdasarkan definisi tersebut dapat dirangkaikan, bahwa organisasi merupakan sebuah wadah yang berisi sekelompok orang yang bekerjasama dalam mencapai tujuan yang efektif dan efisien. Jika ditarik kesimpulan, maka perspektif tentang organisasi akan bermuara pada beberapa hal, antara lain :

”1. Pemikiran organisasi sebagai wadah. Adalah organisasi sebagai tempat yang menghimpun berbagai manusia yang melakukan aktivitas. Organisasi dipandang statis yang tidak melakukan aktivitas.

2. Pemikiran organisasi sebagai proses. Organisasi dipandang sebagai yang dinamis dengan melakukan beberapa aktivitas dan kreativitas dalam pencapaian tujuannya.

3. Pemikiran organisasi sebagai aktivitas. Organisasi dipandang sebagai tempat beraktivitas orang-orang yang ada di dalamnya, dengan pembagian tugas yang jelas pula.

4. Pemikiran organisasi sebagai formal. Organisasi dibentuk secara formal dan dilakukan oleh orang atau pejabat yang memiliki kewenangan akan hal tersebut.

5. Pemikiran organisasi sebagai informal. Organisasi yang sifatnya tidak fundamental dengan pembentukannya berdasarkan kesepakatan dan tuntutan kebutuhan dari anggotanya itu sendiri” (Makmur, 2007:158-159).

Keberadaan organisasi senantiasa mengharapkan adanya kedinamisan dalam rangka menuju perkembangan yang signifikan antara harapan organisasi di satu pihak dengan harapan manusianya di lain pihak. Akan tetapi, sistem kehidupan—yang organisasi termasuk di dalamnya—tidak dapat diarahkan di sepanjang jalur linear. Konsekuensi-konsekuensi yang sebelumnya tidak kelihatan, tidak akan terhindarkan. Tantangannya adalah mempelajari bagaimana cara mengganggu sistem tersebut ke arah hasil yang diinginkan dan kemudian memperbaiki arahnya setelah hasil tersebut terlihat.

Posted in: Article, Bureaucrazy