Balada Rok Mini

Posted on April 18, 2012

12



Gadis berambut panjang menjuntai hingga punggung melenggang turun dari angkot siang itu. Dataran aspal seperti menguap. Terik matahari ganas merambat melalui pori-pori kulit. Wajah ini pun bak ditampar olehnya. Bercelana pendek dan memakai kaos singlet adalah satu kesejukan, antisipasi banjir keringat yang fatal. Buatku itu sebuah solusi. Tapi tidak untuk gadis itu.

Ia melenggang percaya diri dibawah terik sang surya. Langkah penuh kepastian ia tunjukan. Buku Retorika Modern ia tenteng. Ia seorang pelajar nampaknya. Rok mini 15 centi diatas lutut terlihat melekat erat pada medio tubuh. Sehelai gelang perak tipis melingkar di kaki sebelah kanannya. Aroma parfum dengan kandungan alkohol diatas 30 persen kian menarik indera.

Sambil berjalan, tak henti ia mengibas-ibaskan tangannya. Aku yakin ia kepanasan. Kemeja krem tipis ketat yang menunjukan lekuk dadanya nampak basah. Tampak jelas rangkaian tali hitam yang menutupi payudaranya. Sungguh perpaduan warna yang kontras, sekontras suasana siang itu. Aku berjarak tak lebih dari 3 meter, tepat dibelakangnya. Bukan maksudku menguntitnya. Tapi, ini adalah jalan pulang yang mesti kulalui. Jalan ini satu-satunya menuju ke tempatku.

20 meter lagi di depan adalah pangkalan ojek. Dan tentunya para lelaki yang mengisi tempat itu. Aku sudah menebak dari jauh-jauh langkah bahwa ia akan memberikan suguhan yang menarik buat para tukang ojek. Tepat dugaanku. Tak sampai tepat di depannya, kurang dari 10 meter dan mereka, para lelaki itu, sudah memasang mata siaga dan dengan sigapnya menikmati ciptaan terindah Illahi.

Turuti saja gerak bola mata. Liur hasrat lelaki menetes dengan derasnya. Bahkan, sampai 20 meter ia lewati pangkalan ojek itu, berpuluh pasang mata lelaki ojek masih terus membuntutinya. Mereka pasti menikmati sajian indah didepannya. Menelan ludah dan terus memasang hayalan kosong meski jejak langkah si perempuan seksi itu telah lenyap dari pandangan mata mereka. Mereka seperti tersihir.

Sang perempuan itu masih merasa risih dengan berpasang mata yang terus membuntutinya. Sesekali ia menarik-narik turun rok mininya. Tapi, itu tak berhasil. Ia salah, karena dengan itu mereka kian penasaran dan melihat ke arah itu. Manusia sangat tertarik dengan gerak-gerik. Dan saat si perempuan itu menggerakkan tangannya ke bagian manapun di tubuhnya seketika itu juga mata lelaki akan mengikutinya.

Rok mini, kemeja ketat, lekuk tubuh, kulit langsat, tetes keringat, dan high heels adalah komposisi siang itu. Menghasilkan satu sajian masakan nafsu makan siang yang ditutup dengan sebuah dessert hayalan liar plus tetesan liur.

Barangkali inilah cerminan minimnya budaya malu perempuan kita kini. Menjumpai rok mini bukan persoalan sulit. Terpajang di setiap pojok keramaian ibukota. Pun di sisi kampus yang penuh nuansa keilmuan rok mini ikut eksis. Berdandan serba minim telah menjadi ideologi muda-mudi urban masa kini.

Satu hal yang pasti bahwa lelaki pasti senang disodori oleh pemandangan rok mini. Hal itu menunjukan jika si lelaki itu normal. Bagi perempuan, ini harus bisa dijadikan koreksi. Jika memang merasa risih, tolong jangan memakai pakaian serba mini. Jika Anda memakai rok mini, ingat bahwa seketika itu harimau akan menerkam Anda.

Advertisements