Sebuah Agitasi

Posted on March 14, 2012

0



Iming-iming. Tiap orang tergiur olehnya. Soal hal transendental saja, yakni soal keimanan kita, manusia, kepada Tuhan. Ia adalah Sang Maha Penggoda. Tuhan mengiming-imingi manusia dengan surga-Nya. Bagi mereka yang lulus ujian-Nya, maka surga yang didapat. Meski tak jarang manusia yang terlupa dan berbuat negatif. Tapi, pada dasarnya manusia beribadah adalah karena tergiur iming-iming.

Semesta yang ekspansional ini barangkali sudah dipenuhi oleh iming-iming. Semua yang nampak tak lebih dari sekadar fatamorgana belaka. Ilusi ragawi saja. Agitasi untuk mencicipi manisnya dunia memang begitu luar biasa. Tak jarang manusia menuruti agitasi itu. Soal benar atau salah itu urusan nanti. Sebab yang manis dan indah tidak selalu benar, begitu pula sebaliknya. Bisa saja yang nampak pahit, itulah yang baik. Satu hal yang patut diingat adalah bahwa iming-iming itu terkadang menipu.

Manusia berbuat baik dan beribadah kepada-Nya atas dasar keinginan mendapat surga. Seorang lelaki berucap manis kepada perempuan karena si lelaki ingin mendapat cinta si lawan jenis. Seorang anak berbuat manis dan menyanjung ibunya hanya untuk mendapatkan uang saku lebih. Seorang suami yang sayang dan perhatian kepada istrinya barangkali karena ia ingin belas kasih serupa dari istrinya. Insan akademik yang berlaku sopan kepada sang guru bisa jadi karena mengingini nilai bagus.

Tak salah. Sebab soal persepsi itu serba relatif. Tinggal kacamata mana yang kita pakai dalam mengukur itu. Jika kita memakai kacamata etika dan budaya, perlakuan sopan seorang pelajar kepada sang guru adalah mutlak. Tapi, jika kita takar dengan ukuran subjektifitas pasti berbeda. Ah, itu barangkali hanya ingin cari muka. Benar sudah jika persepsi itu relatif. Kita ini subjek, jadi bagaimanapun juga dan seobjektif apapun sisi subjektifitas kita pasti saja muncul.

Inilah soal iming-iming dan persepsi. Iming-iming terbentuk dari adanya konstruksi persepsi. Bahwa yang nampak kasat mata adalah indah dan baik, itu adalah persepsi soal iming-iming. Oleh karenanya, iming-iming bukan hanya sekadar soal reward atau kado spesial semata. Lebih dari itu, ia adalah satu magnet yang mengagitasi munculnya hasrat. Baik buruk, itu baru soal persepsi.

Lihatlah mawar dari tiap helai bunganya jika inginkan keindahan, jangan dari durinya.

 

Link terkait : http://klosetide.com/?p=1576

Posted in: Contemplation